Yogyakarta — Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) menyatakan kekhawatiran terkait tingkat pemahaman generasi muda, khususnya Gen Z, terhadap latar belakang sejarah dan substansi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UUK DIY). Temuan itu terungkap dari dialog langsung antara pejabat Pemda dan kelompok anak muda pada momentum peringatan 14 tahun UUK DIY.
Pergeseran pemahaman: dari sejarah ke lagu populer
Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan, mengatakan sebagian besar anak muda lebih akrab dengan simbol-simbol populer, termasuk lagu "Jogja Istimewa", daripada pengetahuan tentang bagaimana dan mengapa Yogyakarta memiliki status istimewa. Temuan ini kemudian menjadi salah satu alasan perubahan pendekatan dalam rangkaian peringatan tahun ini.
"Saya tanya, 'Kamu tahu tidak kenapa Jogja istimewa?' Bukan sekadar karena namanya Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi kenapa bisa istimewa? Tidak ada yang bisa menjelaskan, bahkan sampai ke sejarah dan asal-usulnya,"
Kurniawan menyampaikan pernyataan tersebut saat konferensi pers peringatan 14 tahun UUK DIY yang berlangsung di Omah Dhuwur Dining & Coffee, Kotagede, Yogyakarta, Jumat sore.
Makna keistimewaan menurut Pemda
Pemda DIY menekankan bahwa keistimewaan Yogyakarta berakar pada sejarah panjang kepemimpinan Kesultanan dan Pakualaman serta momentum penggabungan diri dengan Republik Indonesia pada 5 September 1945. Menurut Kurniawan, pemahaman atas keistimewaan tidak cukup berhenti pada aspek administratif atau simbolik; nilai tersebut perlu diwujudkan dalam perilaku, karya, dan pembangunan yang memberi manfaat serta kontribusi bagi masyarakat.
Untuk menjembatani kesenjangan pemahaman ini, peringatan UUK DIY ke-14 mengusung tajuk "Memetri Kaistimewan" dengan tema Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad. Kata "memetri" dimaknai sebagai upaya untuk merawat, menjaga, dan menghidupkan nilai yang dipandang bernilai bagi komunitas.
Langkah komunikasi dan pendidikan
Pemilihan tema dan tajuk peringatan menggambarkan perubahan strategi dari sekadar perayaan formal menjadi program yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran kolektif. Pendekatan ini menarget kelompok muda dengan harapan mendorong partisipasi aktif dalam menjaga dan mengimplementasikan nilai keistimewaan dalam tindakan sehari-hari.
- Dialog langsung dengan kelompok anak muda sebagai sumber temuan;
- Perubahan format peringatan UUK DIY menjadi kegiatan bertema "Memetri Kaistimewan";
- Penekanan pada realisasi nilai keistimewaan melalui perilaku, karya, dan pembangunan.
Dampak lokal dan tantangan implementasi
Minimnya pemahaman sejarah oleh generasi muda berpotensi memengaruhi kontinuitas nilai budaya dan keterlibatan masyarakat dalam upaya pelestarian. Jika generasi penerus tidak memahami akar historis suatu kebijakan atau status daerah, transformasi nilai menjadi tindakan nyata—seperti pelestarian situs, partisipasi dalam tata kelola lokal, atau kontribusi kebudayaan—akan sulit tercapai.
Pemda DIY menempatkan peringatan UUK DIY tahun ini bukan sebagai ajang formal semata, melainkan sebagai pemantik kesadaran publik agar keistimewaan tidak sekadar dipandang sebagai status administratif. Kurniawan menegaskan bahwa "memetri kaistimewan" dimaksudkan menjadi ajakan kolektif untuk merawat dan menghidupkan nilai.
| Tahun/Peristiwa | Keterangan |
|---|---|
| 5 September 1945 | Momen penggabungan Kesultanan/Pakualaman dengan Republik Indonesia (sebagai bagian dari akar keistimewaan) |
| 2012 | Disahkannya UUK DIY (Undang-Undang No.13 Tahun 2012) |
| 2026 | Peringatan 14 Tahun UUK DIY; Peluncuran tema "Memetri Kaistimewan" |
Catatan akhir
Pemerintah daerah berharap dialog dan program yang dirancang tahun ini dapat menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam di kalangan generasi muda tentang keistimewaan Yogyakarta. Upaya tersebut juga diarahkan agar nilai-nilai historis menjadi sumber inspirasi bagi karya dan pembangunan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Langkah-langkah lanjutan, seperti integrasi materi sejarah keistimewaan dalam kegiatan pendidikan nonformal dan kolaborasi dengan komunitas kreatif, tampak menjadi bagian penting dari strategi komunikasi publik Pemda DIY ke depan demi memastikan nilai keistimewaan tetap hidup di tengah perubahan zaman.