Jejak perjuangan di ruang kota
Kegiatan Heritage Walk yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Pameran Foto "Merdeka: Merayakan Kemerdekaan, Merawat Kebersamaan" mengajak warga menelusuri jejak perjuangan dan sejarah Yogyakarta. Kegiatan yang dilaksanakan Sabtu lalu dipandu oleh komunitas Jalan Liar dan Rasan-Rasan (Jaran) dan menyusuri titik-titik bersejarah mulai dari Titik Nol Kilometer hingga kawasan Keraton Yogyakarta.
Pendekatan cerita dan sumber sejarah
Pemandu sejarah dan kebudayaan Paksi Raras Alit menjelaskan bahwa rute dipilih untuk menyesuaikan tema perjuangan yang diusung pameran foto serta untuk menghubungkan sejumlah ruang yang memiliki narasi perjuangan di Yogyakarta. Menurutnya, Titik Nol menyimpan banyak simbol perjuangan yang relevan dengan konteks pameran.
"Titik Nol Jogja itu juga simbol-simbol perjuangannya banyak sekali, terus kita masuk ke area Kampung Kauman Keraton, nah itu narasi-narasi perjuangan, kepahlawanannya dari masa ke masa juga kita coba kita baca kembali,"
Paksi menambahkan bahwa untuk membawa sejarah lebih dekat dengan publik, pemanduan menggunakan metode story telling melalui obrolan dan "rasan-rasan"—pendekatan naratif yang dia tekankan tetap berlandaskan pada sumber sejarah. Ia menekankan perbedaan antara sejarah yang sekadar dihafal dan pengalaman pembelajaran sejarah yang dikemas secara jalan-jalan.
Rute dan aktivitas
Peserta berjalan kaki menyusuri beberapa kawasan yang memiliki nilai historis dan budaya kuat di Yogyakarta. Selain Titik Nol Kilometer, rute mencakup Kampung Kauman dan area sekitar Keraton Yogyakarta, termasuk lokasi-lokasi yang berkaitan dengan tokoh pahlawan nasional dan peninggalan kebudayaan.
- Titik Nol Kilometer — lokasi pembukaan pameran foto dan simbol lintasan sejarah kota.
- Kampung Kauman — kawasan dengan jejak religi dan sosial yang terhubung pada sejarah Keraton.
- Kawasan Keraton Yogyakarta — pusat narasi budaya dan perjuangan yang menjadi penutup rute.
| Elemen | Keterangan |
|---|---|
| Penyelenggara | Perum LKBN ANTARA bekerjasama dengan komunitas Jaran |
| Tema | Pameran Foto "Merdeka: Merayakan Kemerdekaan, Merawat Kebersamaan" |
| Rute utama | Titik Nol Kilometer — Kampung Kauman — Kawasan Keraton |
Makna lokal dan pelibatan publik
Panitia, yang diwakili Aditya Pradana Putra, mengatakan pilihan lokasi tidak hanya mempertimbangkan aspek strategis sebagai ruang publik, tetapi juga fungsi historis Titik Nol sebagai persimpangan sumber-sumber yang membentuk Yogyakarta. Titik Nol dipandang sebagai ruang yang memudahkan penggabungan narasi perjuangan dalam rangkaian pameran.
"Di sini bukan sekadar ruang publik yang paling strategis di Yogyakarta, tapi di sini adalah titik bersejarah, di sini ada persimpangan banyak sejarah yang membentuk kota ini,"
Dengan format berjalan kaki dan hunting foto, kegiatan ini memberikan pengalaman visual dan naratif bagi peserta—menghadirkan cara berbeda untuk memahami sejarah lokal yang sering kali disampaikan secara tekstual. Metode story telling yang mengawali dengan "gosip" atau cerita-cerita rasan-rasan kemudian dilengkapi dengan rujukan sumber sejarah, menurut pemandu, agar kisah yang disampaikan tetap akurat namun lebih mudah dicerna publik.
Bagi warga Yogyakarta, acara semacam ini membuka kesempatan untuk kembali membaca ruang-ruang kota sebagai warisan yang hidup. Selain memperkaya pengetahuan, kegiatan juga mendorong interaksi antarwarga dengan lanskap sejarah yang sehari-hari ditemui namun kadang kurang diperhatikan.
Pameran Foto "Merdeka" yang memfasilitasi Heritage Walk berada di sekitar Titik Nol Kilometer, berdekatan dengan persiapan kegiatan peringatan 17 Agustus, sehingga momentum kebangsaan turut menjadi konteks yang mendasari penyelenggaraan acara tersebut.
Heritage Walk seperti ini memperlihatkan bahwa pengelolaan memori kolektif dan ruang-ruang bersejarah dapat dilakukan melalui pendekatan partisipatif—mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pelaku yang terlibat aktif dalam merawat narasi kebersamaan dan perjuangan di Yogyakarta.