Temuan Skrining Kesehatan Mental di Sleman
SLEMAN — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menemukan adanya gejala depresi dan kecemasan pada anak-anak dan remaja setelah melakukan skrining kesehatan mental sepanjang tahun ini. Dari 18.845 anak yang menjalani pemeriksaan, sejumlah peserta menunjukkan tanda-tanda dengan tingkat keparahan mulai dari ringan hingga berat.
Kepala Dinas Kesehatan Masyarakat Sleman, dr. Seruni Anggreni Susila, menjelaskan hasil skrining yang dipaparkan di Kantor Bappeda Sleman, Selasa (18/8/2026). Ia merinci persentase temuan sebagai berikut:
- Depresi ringan: 5,6%
- Depresi berat: 2,38%
- Kecemasan ringan: 5,25%
- Kecemasan berat: 2,06%
"Jika sekarang kita mencari dan menemukan lebih awal, maka kita akan mengetahui berapa banyak yang depresi, berapa banyak yang cemas,"
dr. Seruni menegaskan bahwa temuan tersebut tidak otomatis berarti terjadi peningkatan kasus. Menurutnya, peningkatan angka yang terlihat lebih merupakan hasil dari upaya pemeriksaan yang lebih aktif sehingga kondisi yang sebelumnya tidak terdeteksi kini dapat tercatat melalui deteksi dini.
Metode dan Riwayat Skrining
Dinkes Sleman menggunakan instrumen Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), yang menjadi standar Kementerian Kesehatan, dalam pelaksanaan skrining. Pemeriksaan awal terdiri dari 15 pertanyaan yang diberikan kepada anak usia sekolah. Jika ditemukan indikasi masalah, pemeriksaan dilanjutkan oleh puskesmas melalui tim kesehatan mental yang melibatkan psikolog dan dokter terlatih.
Menurut keterangan dalam paparan, pemeriksaan skrining kesehatan mental oleh Dinkes Sleman telah dilakukan selama lima tahun terakhir, sebagai bagian dari upaya mendeteksi dini permasalahan kesehatan mental pada populasi usia sekolah.
Implikasi bagi Layanan dan Pendidikan
Temuan ini memiliki beberapa konsekuensi bagi penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pendidikan di Sleman. Pertama, kebutuhan untuk memperkuat layanan rujukan dan intervensi bagi anak dan remaja yang terdeteksi memiliki gejala. Kedua, perlunya peningkatan kapasitas tim kesehatan mental di tingkat puskesmas dan sekolah, termasuk ketersediaan tenaga psikolog serta pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pendidik.
Sumber menyebutkan bahwa pemeriksaan dilanjutkan oleh pusat kesehatan setempat melalui tim khusus apabila ada indikasi. Namun data rinci mengenai jumlah anak yang mendapat rujukan atau intervensi lanjutan tidak disebutkan dalam paparan yang dikutip.
Langkah-Langkah yang Perlu Diperhatikan
Berdasarkan informasi resmi, beberapa langkah yang menjadi perhatian adalah sebagai berikut:
- Peningkatan deteksi dini di sekolah melalui skrining berkala menggunakan instrumen yang baku.
- Penguatan tim kesehatan mental di puskesmas dan jejaring layanan rujukan.
- Pendidikan dan pelatihan bagi guru dan orang tua untuk mengenali tanda-tanda gangguan mental pada anak.
dr. Seruni menekankan bahwa menjaga kesehatan generasi muda tidak cukup hanya melindungi kondisi fisik, tetapi juga harus memperhatikan aspek mental sejak usia sekolah. Pernyataan ini menegaskan kebutuhan pendekatan holistik dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan anak dan remaja di Sleman.
| Jumlah Anak Disaring | Temuan Utama |
|---|---|
| 18.845 |
Depresi ringan 5,6% Depresi berat 2,38% Kecemasan ringan 5,25% Kecemasan berat 2,06% |
Penanganan yang cepat dan terkoordinasi antara dinas kesehatan, dinas pendidikan, sekolah, dan keluarga menjadi kunci agar deteksi dini dapat berujung pada intervensi yang efektif. Data skrining yang lebih lengkap dan tindak lanjut program akan menentukan sejauh mana upaya pencegahan dan perawatan dapat mengurangi beban masalah kesehatan mental pada generasi muda Sleman.
Dengan tetap memegang prinsip kehati-hatian dalam interpretasi data, Dinkes Sleman mendorong agar masyarakat dan pemangku kepentingan memandang temuan ini sebagai panggilan untuk memperkuat sistem deteksi dan layanan kesehatan mental bagi anak dan remaja di kabupaten tersebut.