Kabupaten Nabire, Papua Tengah — Sekitar 185 kepala keluarga (KK) di tiga titik permukiman di Kabupaten Nabire mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih setelah sumur-sumur warga mulai mengering. Menyikapi kondisi itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua menyalurkan bantuan air bersih pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Lokasi terdampak dan jumlah penerima
Penyaluran air bersih dilakukan di tiga lokasi permukiman, yakni SP C Jalur 3, SP 1 Jalur 2 Timur, dan SP 1 Jalur 1 Timur. Rinciannya sebagai berikut:
| Lokasi | Perkiraan KK terdampak |
|---|---|
| SP C Jalur 3 | 60 KK |
| SP 1 Jalur 2 Timur | 60 KK |
| SP 1 Jalur 1 Timur | 65 KK |
Rincian bantuan dan kebutuhan harian
BWS Papua menyalurkan 9.200 liter air bersih menggunakan dua unit dump truck yang dilengkapi empat tandon berkapasitas sekitar 2.300 liter tiap tandon. Penyaluran bertujuan merespons kekeringan sementara sambil pemantauan dan dukungan berkelanjutan dilaksanakan.
BWS memperkirakan kebutuhan air bersih masyarakat mencapai sekitar 200 liter per KK per hari. Dengan jumlah sekitar 185 KK terdampak, kebutuhan total di tiga lokasi diperkirakan mencapai sekitar 37.000 liter per hari, jauh melebihi volume bantuan satu kali penyaluran.
Dampak kekeringan terhadap layanan umum
Kekeringan tidak hanya memengaruhi rumah tangga. Berdasarkan pemantauan di lapangan, beberapa fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan puskesmas turut merasakan dampak berkurangnya pasokan air. Kondisi ini menempatkan kebutuhan air sebagai isu prioritas karena berpengaruh pada layanan dasar dan kebersihan lingkungan.
Alternatif sumber air dan tantangan akses
Ketika sumur warga mengering, masyarakat di sejumlah lokasi beralih memanfaatkan sumber air alternatif, seperti Sungai Kalibumi, walau jaraknya sekitar 2 kilometer dari permukiman. Jarak tersebut menambah beban warga, khususnya keluarga dengan anggota rentan serta sekolah atau fasilitas kesehatan yang memerlukan pasokan air lebih konsisten.
"Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipastikan ketersediaannya. Ketika sumber air warga mengalami kekeringan, Kementerian PU melalui jajaran di lapangan harus bergerak untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Kita akan terus memantau kondisi dan memastikan dukungan diberikan sesuai kebutuhan masyarakat,"
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, dalam rilis Kementerian PU terkait penyaluran bantuan di Nabire.
Kebutuhan lanjutan dan perhatian berkelanjutan
Volume bantuan yang disalurkan menunjukkan respons darurat, namun tidak menutupi kebutuhan harian yang diperkirakan jauh lebih besar. Kondisi ini mendorong perlunya upaya berkelanjutan, baik melalui penyaluran berkala, pembangunan infrastruktur sumber air alternatif, maupun langkah konservasi untuk mengurangi risiko kekeringan lebih lanjut.
- 9.200 liter air bersih disalurkan pada 27 Agustus 2026.
- 185 KK terdampak di tiga lokasi permukiman.
- Kebutuhan diperkirakan 37.000 liter per hari untuk memenuhi standar 200 liter per KK per hari.
Warga dan pemangku kepentingan di Nabire kini menghadapi tantangan membuat pasokan air menjadi lebih stabil. Intervensi segera dari instansi terkait membantu meringankan kondisi jangka pendek, namun pemantauan dan rencana penyediaan sumber air jangka menengah hingga panjang diperlukan untuk memastikan kebutuhan dasar air bersih dapat terpenuhi secara berkelanjutan.