NABIRE — Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggandeng Maestro Kopi dari Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), Surip Mawardi, untuk memetakan potensi kopi lokal dan merumuskan strategi agar komoditas tersebut mampu menembus pasar internasional. Kegiatan itu berlangsung dalam Rapat Koordinasi Sinkronisasi Program Gubernur yang diselenggarakan Dinas Perkebunan dan Peternakan di Hotel Carmel, Nabire, Selasa, 11 Agustus 2026.
Fokus pada kualitas, bukan hanya luas lahan
Dalam rapat koordinasi, Surip menekankan bahwa keunggulan geografis dan kesuburan tanah Papua Tengah saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan di pasar kopi global. Ia menyoroti dua aspek utama yang menentukan daya saing, yakni kepastian pasokan dan konsistensi profil rasa antarperiode panen. Menurut Surip, ketidakstabilan cita rasa akan menyulitkan daerah mempertahankan ceruk pasar di tingkat nasional maupun internasional.
"Jika konsistensi rasa tidak terjaga, misalnya hari ini menghasilkan profil rasa A dan besok berubah menjadi rasa B, maka komoditas tersebut akan kesulitan untuk mempertahankan pasar,"
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pendekatan kualitas yang lebih strategis dibandingkan sekadar perluasan areal tanam. Surip, yang telah memonitor komoditas kopi Papua sejak 1988, diarahkan untuk mengevaluasi seluruh rantai produksi dari hulu ke hilir serta memetakan karakter unik biji kopi lokal Papua Tengah.
Komitmen pemerintah daerah
Pejabat Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah menyatakan komitmen untuk mengintegrasikan masukan pakar dalam penyusunan peta jalan komoditas kopi unggulan dan penguatan sektor peternakan. Pendekatan ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan melalui peningkatan nilai tambah kopi lokal.
- Konsistensi rasa: Pengendalian mutu di tingkat kebun dan pengolahan pasca panen.
- Kepastian pasokan: Perencanaan produksi dan manajemen rantai pasok untuk memenuhi volume.
- Kesejahteraan petani: Mekanisme harga, pembinaan teknis, dan akses pasar.
Dampak bagi petani dan pasar lokal
Pendekatan yang diarahkan untuk menjaga konsistensi profil rasa berimplikasi langsung pada praktik budidaya, teknik panen, dan penanganan pasca panen di tingkat petani. Upaya ini menuntut koordinasi antaraktor—dinas, penyuluh, koperasi, dan pihak swasta—agar standar mutu terpenuhi secara berkelanjutan. Jika berhasil, strategi tersebut dapat membuka peluang akses pasar ekspor dan meningkatkan penghasilan petani di Nabire dan wilayah lain di Papua Tengah.
| Isu | Implikasi |
|---|---|
| Konsistensi rasa | Perlu standarisasi pasca panen dan pengolahan |
| Kepastian pasokan | Butuh perencanaan produksi dan pengelolaan rantai pasok |
| Kesejahteraan petani | Memerlukan akses pasar dan pembinaan teknis |
Dalam jangka pendek, pemerintah daerah harus memetakan area dengan karakter biji kopi yang stabil dan mengidentifikasi praktik pertanian yang menyebabkan variasi rasa antarpanen. Dalam jangka menengah dan panjang, pelibatan pelaku industri pengolahan, sertifikasi mutu, dan pemasaran terkoordinasi diperlukan untuk memanfaatkan nama daerah sebagai nilai tambah.
Rapat koordinasi di Nabire ini menjadi langkah awal formal untuk menyusun peta jalan komoditas kopi unggulan Papua Tengah. Keberhasilan implementasi rekomendasi pakar akan bergantung pada keterlibatan langsung petani, pemanfaatan kapasitas penyuluh pertanian, dan dukungan kebijakan provinsi terkait pembiayaan serta akses pasar.
Upaya memperkuat kopi Papua Tengah sebagai komoditas bernilai tambah juga membuka peluang kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi nasional seperti SCOPI untuk transfer pengetahuan teknis dan pengembangan standar mutu yang diakui di pasar internasional.