Protes terhadap progres proyek jalan
Proyek pembangunan ruas jalan yang menghubungkan Distrik Yamor di Kabupaten Kaimana, Papua Barat, menuju Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menghadapi aksi pemalangan oleh perwakilan masyarakat setempat. Aksi itu menutup akses terhadap pekerja dan peralatan berat yang tengah mengerjakan ruas jalan, karena masyarakat menilai pekerjaan baru mencapai sekitar lima kilometer dan belum memenuhi harapan mereka untuk membuka jalur ekonomi menuju Nabire.
Keterangan aparat dan keterbatasan akses
Informasi mengenai pemalangan disampaikan oleh Kapolres Kaimana AKBP Satria Dwi Dharma melalui Kapolsek Yamor Iptu Riky Eramuri dan diteruskan oleh Kapolpos Yamor Bripka Marten Wayoi. Menurut keterangannya, laporan baru diterima pada 17 September 2026 karena keterbatasan jaringan komunikasi di wilayah tersebut, sehingga aparat kesulitan melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
"Saya baru mendapatkan informasi ini tadi pagi tanggal 17 September 2026, karena di sana jaringan tidak ada dan agak jauh dari lokasi jalan kita di pos,"
kata Bripka Marten sebagaimana disampaikan melalui pesan singkat. Ia menjelaskan bahwa jarak dari pos kepolisian ke titik kejadian relatif jauh, kondisi cuaca panas, serta sungai yang mengering turut menyulitkan transportasi menuju lokasi.
Tuntutan masyarakat: pembangunan harus berlanjut hingga Nabire
Berdasarkan keterangan perwakilan masyarakat yang diterima aparat, aksi pemalangan dilakukan oleh tokoh adat yang mewakili warga, antara lain Bapak Menaser Kamanderay dari Kampung Kewo. Mereka berharap proyek tidak berhenti pada ruas yang sedang dikerjakan melainkan dilanjutkan hingga Nabire.
Masyarakat menyatakan pembangunan jalan yang terputus baru beberapa kilometer tidak cukup untuk membuka akses ekonomi. Mereka mengandalkan jalan darat untuk mengangkut hasil kebun, daging hewan buruan, dan berbagai hasil alam lainnya ke pasar di Nabire. Hingga pelaporan, belum ada pernyataan resmi dari kontraktor proyek mengenai langkah lanjutan atau negosiasi dengan warga.
Dampak akses dan kondisi geografis
Lokasi pengerjaan yang berada di wilayah terpencil dengan jaringan komunikasi terbatas memperburuk koordinasi antara pihak kontraktor, masyarakat, dan aparat. Kondisi geografis seperti sungai yang mengering dan iklim panas menjadi faktor yang memperlambat respons aparat serta mobilitas peralatan berat.
Data ringkas situasi
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi | Ruas jalan Yamor menuju Nabire (Distrik Yamor, Kab. Kaimana) |
| Progres pembangunan | Sekitar 5 kilometer dikerjakan |
| Pelapor aksi | Perwakilan tokoh adat, termasuk Menaser Kamanderay (Kampung Kewo) |
| Tindakan aparat | Belum dapat melakukan pengecekan langsung karena jarak dan keterbatasan jaringan |
Implikasi bagi Nabire dan rekomendasi awal
Terhambatnya pembangunan ruas jalan yang menghubungkan langsung ke Nabire berpotensi menunda pembukaan jalur distribusi barang dan mobilitas warga antarkabupaten. Bagi Nabire, gangguan ini dapat memengaruhi pasokan komoditas dari wilayah pedalaman serta akses masyarakat luar kabupaten ke pasar dan layanan di Nabire.
Secara praktis, beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan oleh pemangku kepentingan adalah:
- Meningkatkan komunikasi lapangan antara kontraktor, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan agar penyelesaian sengketa cepat dan aman.
- Melakukan kajian kelanjutan pembangunan secara transparan, termasuk jadwal lanjutan ruas jalan hingga Nabire.
- Memperhatikan kondisi logistik dan hambatan geografis yang dapat menghambat mobilisasi alat berat dan tenaga kontruksi.
Pihak-pihak terkait diharapkan segera melakukan verifikasi di lapangan dan membuka jalur dialog untuk menghindari eskalasi serta memastikan proyek infrastruktur memberi manfaat bagi masyarakat di kedua wilayah.