Ancaman Kekeringan Meluas
Bima — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima memetakan 43 desa di 15 kecamatan yang berpotensi terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026. Ancaman ini diperkirakan akan berdampak pada 8.665 kepala keluarga (KK) atau setara dengan 27.343 jiwa, menurut data BPBD yang dirilis per 6 Agustus 2026.
Basis Data untuk Kebijakan Penanganan
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima, Abdul Muis, S.Sos., menyatakan data pemetaan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah-langkah penanganan. Langkah itu meliputi penyaluran air bersih dan koordinasi lintas perangkat daerah agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama kemarau.
"Data ini menjadi dasar kami dalam menentukan langkah penanganan, mulai dari penyaluran air bersih hingga koordinasi lintas perangkat daerah agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,"
Wilayah yang Dipetakan
BPBD merinci sejumlah desa yang termasuk dalam pemetaan potensi kekeringan. Beberapa desa yang disebut antara lain:
- Desa Tenga, Kalampa, Talabiu (Kecamatan Woha)
- Tangga, Simpasai, Sondo (Kecamatan Monta)
- Desa di Kecamatan Palibelo: Nata, Tonggorisa, Ntonggu, Teke, Belo, Bre, Ragi, Padolo, Roi, Dore, Panda, Nunggi
- Tawali, Sangiang, Hidirasa (Kecamatan Wera)
- Oi Dungga, Mpili (Kecamatan Donggo)
- Sanolo (Kecamatan Bolo)
- Parangina, Bugis (Kecamatan Sape)
- Maria Utara, Pesa, Kombo (Kecamatan Wawo)
- Teta (Kecamatan Lambitu)
- Manta Baru, Mangge, Kaleo (Kecamatan Lambu)
- Runggu, Roka, Cenggu, Diha, Ncera (Kecamatan Belo)
- Bajo (Kecamatan Soromandi)
- Nipa (Kecamatan Ambalawi)
- Piong (Kecamatan Sanggar)
- Oi Katupa, Kawinda Toi (Kecamatan Tambora)
BPBD menyatakan pemetaan tersebut dilakukan berdasarkan potensi kekurangan air bersih selama musim kemarau yang dipengaruhi oleh fenomena El Niño. Pihak BPBD juga menegaskan bahwa data terus diperbarui sejalan dengan perkembangan kondisi di lapangan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Wilayah dan Jumlah Jiwa Terdampak Terbesar
Dari hasil pemetaan, BPBD mencatat beberapa desa yang menjadi titik konsentrasi dampak akibat kekeringan. Dua desa dengan potensi jumlah warga terdampak terbanyak adalah Desa Ntonggu di Kecamatan Palibelo dan Desa Pesa di Kecamatan Wawo.
| Parameter | Jumlah |
|---|---|
| Total desa berpotensi terdampak | 43 desa |
| Total kecamatan yang terlibat | 15 kecamatan |
| Total kepala keluarga terdampak | 8.665 KK |
| Total jiwa terdampak | 27.343 jiwa |
| Desa dengan potensi warga terdampak terbanyak | Desa Ntonggu: 3.696 jiwa; Desa Pesa: 2.217 jiwa |
Dampak Ekologis dan Kebutuhan Mitigasi
Dari perspektif lingkungan, kekeringan yang meluas berpotensi memperburuk ketersediaan air baku untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian skala kecil, dan ternak. Fenomena El Niño yang disebut BPBD menjadi faktor pemicu yang dapat mengurangi curah hujan secara signifikan, sehingga sumber air permukaan dan mata air sekunder berisiko kering lebih awal.
BPBD menekankan pentingnya langkah antisipatif berbasis data, seperti pemetaan titik-titik suplai air alternatif, penguatan jaringan distribusi air bersih darurat, serta komunikasi risiko kepada masyarakat. Koordinasi lintas perangkat daerah juga diperlukan agar distribusi bantuan air dan program penguatan ketahanan air dapat dilaksanakan tepat sasaran.
BPBD menyatakan akan terus memperbarui data dan menyinkronkan rencana penanganan dengan pemerintah daerah. Pemutakhiran data dinilai penting agar intervensi dapat menekan dampak sosial dan kesehatan masyarakat akibat kekurangan air bersih selama musim kemarau.
Warga dan pemangku kepentingan diimbau mengikuti informasi resmi BPBD dan pemerintah daerah mengenai jadwal distribusi air bersih serta langkah-langkah mitigasi yang disiapkan.