Program Pengabdian Difokuskan pada Tenun Ntobo
Kelompok pengrajin Tenun Bima di Kelurahan Ntobo, Kota Bima kini mendapat pendampingan yang diarahkan untuk mengubah tenun tradisional menjadi produk ekonomi kreatif sekaligus atraksi wisata budaya. Kegiatan yang berjudul "Pengembangan Tenun Bima dalam Upaya Peningkatan Ekonomi Kreatif untuk Mendukung Pariwisata Kota Bima" merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Nggusuwaru dan mendapatkan dukungan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI melalui skema Pemberdayaan Wilayah tahun 2026.
Tujuan dan Ruang Lingkup Pendampingan
Program yang dipimpin oleh Wahyuni, M.M. dilaksanakan di Kantor Kelurahan Ntobo dan dibuka secara resmi oleh Lurah Ntobo, Aswin, S.Sos. Menurut Aswin, tenun khas Ntobo memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat setempat.
"Kami berharap pendampingan ini dapat meningkatkan kualitas produk, memperluas pemasaran, sekaligus menjadikan tenun sebagai daya tarik wisata,"
Pendampingan tidak terbatas pada teknik tenun semata, tetapi juga mencakup strategi peningkatan nilai jual dan daya saing produk. Aspek yang menjadi fokus antara lain inovasi desain, peningkatan kualitas bahan dan produk jadi, kemasan, pemasaran digital, serta penguatan branding.
Peran Pemerintah Daerah dan Praktisi
Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Bima terlibat memberikan materi terkait pengembangan usaha dan peningkatan daya saing produk. Selain itu, praktisi pariwisata Adi Hidayat Argubi, S.Sos., SST.Par., M.Si. menyampaikan perspektif tentang bagaimana menjadikan tenun sebagai bagian dari industri pariwisata berbasis budaya.
- Fokus teknis: teknik produksi dan peningkatan mutu tenun.
- Pemasaran: strategi pemasaran digital dan kemasan untuk menjangkau pasar lebih luas.
- Branding dan pariwisata: integrasi produk tenun ke dalam atraksi wisata budaya Kota Bima.
Implikasi Ekonomi Lokal
Program ini dirancang untuk menyatukan nilai budaya dengan peluang ekonomi. Menurut tim pelaksana, tujuan akhir adalah agar Tenun Bima tidak sekadar bertahan sebagai warisan tradisi, melainkan menjadi komoditas yang dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga pengrajin serta memberi nilai tambah pada produk pariwisata Kota Bima.
| Pemangku Kepentingan | Peran |
|---|---|
| Universitas Nggusuwaru | Penyelenggara program PkM dan pendamping teknis |
| Kelurahan Ntobo (Lurah Aswin) | Fasilitator lapangan dan representasi masyarakat |
| Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Bima | Pemberi materi pengembangan usaha dan daya saing |
| Praktisi Pariwisata (Adi Hidayat Argubi) | Pemberi strategi integrasi tenun dalam pariwisata |
Langkah Selanjutnya dan Tantangan
Pendampingan yang berlangsung di Kelurahan Ntobo menekankan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan untuk memastikan hasil yang berkelanjutan. Pengrajin harus mampu mengadopsi inovasi desain dan pemasaran digital, sementara pemerintah daerah diharapkan menyediakan dukungan fasilitas, akses pasar, dan regulasi yang memudahkan akses ke ekonomi kreatif.
Keberhasilan program ini menjadi indikator awal apakah Tenun Bima dapat bertransformasi dari produk budaya lokal menjadi komoditas ekonomi yang kompetitif. Jika berhasil, dampaknya berpotensi meluas: peningkatan pendapatan keluarga pengrajin, penambahan varian produk pariwisata Kota Bima, serta penguatan identitas budaya sebagai daya tarik wisatawan.
Program PkM Universitas Nggusuwaru di Ntobo menempatkan Tenun Bima pada persimpangan budaya dan ekonomi—sebuah upaya untuk memastikan kelestarian warisan budaya selaras dengan kebutuhan ekonomi masyarakat Kota Bima.