OJK Jember: Tren Q2 Sekarkijang Beragam, Jember Tercatat Menurun
SITUBONDO — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember menyatakan pertumbuhan ekonomi di wilayah Sekarkijang mengalami dinamika berbeda pada Kuartal II 2026. Dalam kegiatan media briefing dan gathering yang digelar bersama 40 jurnalis dari lima kabupaten—Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, dan Lumajang—Kepala OJK Jember Aris Budiman menyoroti capaian masing-masing daerah.
Berdasarkan paparan OJK, Kabupaten Bondowoso mencatat kenaikan pertumbuhan yang menonjol, sementara Jember mengalami koreksi. Aris menyampaikan bahwa Bondowoso naik dari 5,42 persen menjadi 5,83 persen. Di sisi lain, Jember turun dari 6,35 persen pada kuartal pertama menjadi 5,90 persen pada kuartal kedua.
Data Pertumbuhan: Perbandingan Q1 dan Q2
| Kabupaten | Q1 2026 | Q2 2026 |
|---|---|---|
| Bondowoso | 5,42% | 5,83% |
| Jember | 6,35% | 5,90% |
| Banyuwangi | 6,14% | 6,00% |
| Lumajang | 5,89% | 5,68% |
| Situbondo | 5,50% | 5,24% |
Penyebab, Implikasi, dan Prospek Pemulihan Jember
Aris Budiman menilai variasi kinerja ekonomi antar kabupaten menunjukkan pengaruh faktor lokal yang signifikan. Untuk Jember, penurunan pada Q2 terjadi setelah capaian tinggi pada Q1. Namun, OJK memberi sinyal optimistis bahwa ekonomi Jember berpeluang pulih pada Kuartal III. Salah satu alasan yang dikemukakan adalah adanya rangkaian acara besar yang diperkirakan meningkatkan aktivitas ekonomi lokal.
"Untuk Jember, kemungkinan besar ekonomi akan kembali naik di Q3 karena didorong oleh berbagai event besar seperti Jember Fashion Carnaval dan kejuaraan Marching Band,"
Pernyataan tersebut menegaskan harapan bahwa sektor jasa, pariwisata, dan usaha mikro serta kecil yang terkait acara dapat menjadi pendorong permintaan dan lapangan usaha sementara. Pemerintah daerah, pelaku usaha, dan pelaksana acara di Jember perlu mempersiapkan penawaran layanan, akomodasi, serta implementasi protokol yang baik agar dampak ekonomi acara dapat optimal.
Perhatian Khusus pada Daerah Lain
Selain Jember, OJK memberi perhatian pada Situbondo yang mencatat pertumbuhan paling rendah di wilayah Sekarkijang dan mengalami tekanan pada kualitas kredit perbankan. OJK menyebut pertumbuhan kredit Situbondo negatif sebesar 0,38 persen dan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang tinggi mencapai 29,87 persen. Aris mengklarifikasi bahwa tingginya NPL tersebut sebagian besar berasal dari portofolio kredit korporasi, sehingga bila dikoreksi, NPL murni Situbondo akan lebih rendah.
- Jumlah peserta: 40 jurnalis dari wilayah Sekarkijang hadir dalam kegiatan OJK Jember.
- Fokus acara: Dinamika industri media dan peran media dalam pemberitaan ekonomi.
- Bentuk rekomendasi: Memantau perkembangan ekonomi setelah event lokal untuk memastikan pemanfaatan peluang ekonomi.
Gambaran yang disampaikan OJK menegaskan bahwa pemulihan ekonomi lokal tidak semata bergantung pada faktor makro, melainkan juga kesiapan daerah dalam memanfaatkan peluang spesifik. Bagi Jember, momentum kegiatan budaya dan kompetisi berpotensi menjadi katalisator permintaan jasa dan konsumsi, sehingga memerlukan koordinasi lintas sektor antara penyelenggara acara, usaha pariwisata, dan pemerintah kabupaten.
Pelaku usaha dan masyarakat di Jember diimbau tetap waspada terhadap dinamika selanjutnya serta memaksimalkan peluang yang muncul dari kalender acara daerah. Pemantauan berkala oleh OJK dan instansi terkait diharapkan membantu merespons perubahan kondisi ekonomi secara cepat dan tepat.
Peliputan kegiatan media briefing dan gathering OJK Jember dilakukan di Situbondo dan dihadiri wartawan dari Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, dan Lumajang.