Api Utama Padam, Risiko Kebakaran Gambut Tetap Ada
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Sungai Rasau, Kecamatan Singkawang Utara, Kota Singkawang, terus berlangsung meskipun api utama sudah dikendalikan. Tim gabungan menemukan sejumlah titik api kecil dan kepulan asap hingga Selasa, 25 Agustus 2026, sehingga proses pendinginan dan penyisiran dilanjutkan untuk mencegah kebakaran kembali meluas.
"Api utama telah dikendalikan"
Insiden itu berdampak pada lahan seluas sekitar 13,5 hektare yang berupa kebun sawit, karet, dan rambutan, serta lahan yang ditumbuhi ilalang, pakis, dan semak belukar kering. Karakteristik lahan gambut menjadikan penanganan lebih kompleks karena api dapat terus menyala di bawah permukaan meskipun permukaan tampak padam.
Upaya dan Koordinasi Penanggulangan
Penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur, antara lain:
- Polres Singkawang dan Polsek Singkawang Utara;
- Satbrimob dan Brigade Infanteri 19/Khatulistiwa;
- Koramil, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan pemadam kebakaran;
- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Manggala Agni, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) dari beberapa kelurahan.
Personel gabungan mengoperasikan mesin pompa air dan mobil pemadam untuk membasahi titik-titik yang masih mengeluarkan asap. Sumber air yang dimanfaatkan berada pada jarak sekitar 50 hingga 200 meter dari lokasi kebakaran, yang menjadi salah satu kendala operasional karena mempengaruhi kecepatan suplai air ke area terdampak.
Faktor Risiko dan Pemantauan Lanjutan
Petugas menekankan bahwa meskipun permukaan lahan tampak padam, potensi kemunculan kembali titik api tetap tinggi pada lahan gambut. Oleh karena itu, selain penyemprotan air, dilakukan pula pemantauan berkala untuk mendeteksi titik api baru terutama pada area yang masih mengeluarkan asap atau memiliki vegetasi kering.
Cuaca panas dan musim kemarau yang sedang berlangsung disebut meningkatkan risiko penyebaran api. Hingga laporan terakhir, penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Proses penanganan memasuki hari kelima sejak operasi dimulai, dan aparat menyatakan kegiatan pendinginan dan patroli akan terus dilakukan hingga situasi benar-benar aman.
Dampak Lingkungan dan Sosial
Kebakaran pada lahan gambut memiliki implikasi ekologis yang luas. Selain kehilangan vegetasi di area terdampak, kebakaran gambut berpotensi menghasilkan asap yang merugikan kualitas udara lokal dan kesehatan masyarakat, serta pelepasan karbon dalam jumlah signifikan. Di tingkat lokal, kebun sawit, karet, dan rambutan yang terdampak juga menghadirkan kerugian ekonomi bagi pemilik lahan.
Kebutuhan dan Upaya Ke Depan
Penanganan yang efektif memerlukan ketersediaan air, peralatan pompa yang memadai, serta koordinasi logistik antarinstansi. Keterlibatan Masyarakat Peduli Api (MPA) membantu patroli dan identifikasi titik api kecil yang mungkin luput dari pengawasan. Selain respons darurat, pencegahan jangka panjang perlu melibatkan pemulihan lahan gambut dan penataan penggunaan lahan untuk mengurangi kerawanan.
| Parameter | Data |
|---|---|
| Luas terdampak | 13,5 hektare |
| Jarak sumber air | 50–200 meter |
| Hari penanganan | Hari ke-5 (per 25 Agustus 2026) |
| Jenis lahan terdampak | Kebun sawit, karet, rambutan, ilalang, pakis, semak belukar |
Pemantauan berkelanjutan dan upaya pendinginan di lokasi akan menjadi kunci untuk mencegah kebakaran bertambah luas. Masyarakat di sekitar Sungai Rasau diimbau tetap waspada dan melaporkan asap atau titik api kecil kepada aparat setempat supaya respons dapat dilakukan lebih cepat.