Perkenalan dan Kejutan Data
Seorang pengemudi ojek online penyandang disabilitas di Kota Medan mengaku terkejut setelah mengetahui namanya tercantum dalam kelompok desil 6-10 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait kemampuan ekonomi. Pria berusia 32 tahun itu, Iqbal Murqori, menyatakan baru mengetahui kategorisasi tersebut ketika diwawancarai di kediamannya di Kelurahan Kotamatsum II, Kecamatan Medan Area, Senin (31/8/2026).
Luka, Amputasi, dan Pindah ke Medan
Iqbal bercerita bahwa ia kehilangan kaki kanan akibat kecelakaan pada 18 April 2015 di Sumatera Barat. Setelah kecelakaan, kaki dipasang pen, tetapi kemudian mengalami infeksi. Karena kondisi tulang yang tidak memungkinkan pemasangan pen kembali, Iqbal memilih menjalani amputasi. Proses perawatan akhirnya dilanjutkan di Medan.
"Pertama kecelakaan ini tahun 2015 bulan 4, tanggal 18. ... Ujung-ujungnya infeksi,"
Ia kemudian menetap di Medan sejak 2024 bersama adiknya, dan mulai berprofesi sebagai kurir pada sejumlah aplikasi layanan antar. Menurut pengakuannya, suasana dan kawan-kawan di kota menjadikannya merasa lebih aman dan nyaman sehingga memutuskan untuk mencari nafkah di sini.
Bantuan Sosial dan Pekerjaan Sebelumnya
Sebelum menjadi kurir online, Iqbal sempat berjualan kerupuk di Padang. Ia menyebut sempat menerima bantuan sosial dari petugas Dinas Sosial sekitar tiga kali ketika berjualan di lampu merah. Kini, sebagai kurir, ia menerima penghasilan dari pesanan pelanggan serta kadang mendapat bantuan dari customer.
- Kronologi singkat: kecelakaan (2015) → perawatan dan infeksi → amputasi di Medan → pindah ke Medan (2024) → bekerja sebagai kurir online.
- Sumber penghasilan: pengantaran untuk platform Shopee dan Gojek serta bantuan dari pelanggan.
- Bantuan sebelumnya: menerima bansos saat berjualan di Padang, menurut pengakuan Iqbal.
Tabel: Garis Waktu Peristiwa
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 2015 | Kecelakaan di Sumatera Barat; pemasangan pen pada kaki kanan; kemudian infeksi |
| 2024 | Pindah ke Medan dan tinggal bersama adik; mulai bekerja sebagai kurir online |
| 2026 | Menjadi sorotan karena tercatat di desil 6-10 BPS; diwawancarai di Medan Area |
Implikasi Lokal dan Pertanyaan yang Muncul
Kisah Iqbal membuka beberapa persoalan yang relevan untuk warga Medan dan pemangku kepentingan lokal. Pertama, adanya ketidaksesuaian atau kebingungan publik terhadap cara pengukuran desil ekonomi oleh lembaga statistik. Seorang pekerja disabilitas yang mengandalkan pendapatan harian merasa heran bila dikategorikan berada pada kelompok desil yang umumnya diasosiasikan dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi.
Kedua, cerita ini menyoroti kebutuhan perlindungan sosial dan akses layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas, termasuk proses rehabilitasi dan ketersediaan bantuan pasca-amputasi. Ketiga, realitas kerja platform digital sebagai sumber penghidupan bagi kelompok rentan di kota menunjukkan adanya peluang sekaligus keterbatasan: fleksibilitas jam kerja tetapi pendapatan yang tidak selalu stabil.
Walau berbicara dengan nada santai dan keheranan, Iqbal secara gamblang menyampaikan kondisinya. Cerita ini memberi ruang bagi diskusi lebih luas antara pemerintah daerah, dinas terkait, maupun organisasi penyandang disabilitas di Medan mengenai:
- Perlu penjelasan publik dari BPS terkait metode desil agar masyarakat memahami posisi ekonomi masing-masing;
- Peningkatan akses layanan rehabilitasi dan dukungan bagi penyandang disabilitas yang bergantung pada pekerjaan informal;
- Pemetaan kebutuhan dan pemberian bantuan yang tepat sasaran untuk kelompok pekerja platform digital yang rentan.
Saya melaporkan dari Medan dengan semangat blak-blakan khas orang Batak: data itu penting, tapi kalau tidak tepat tafsirnya bisa mengacaukan persepsi dan kebijakan. Kisah Iqbal bukan sekadar cerita pribadi; ini cermin bagi kota untuk melihat bagaimana sistem data, layanan sosial, dan pasar kerja digital bekerja bersama atau justru saling mengabaikan mereka yang paling membutuhkan.