Pelatihan lapangan fokus pada pembacaan kawasan Batu Angus
Kota Ternate menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang memasukkan Masterclass: Living Museum sebagai salah satu agenda utama pada hari pertama. Kegiatan berlangsung di Geowisata Batu Angus pada Rabu, 26 Agustus 2026, sejak pukul 08.00 hingga 15.30 WIT, dengan rangkaian yang menggabungkan sesi teoritis dan praktik lapangan.
Masterclass dirancang sebagai ruang belajar yang menghubungkan perspektif lokal dan internasional untuk menggali potensi warisan budaya serta mengembangkannya menjadi pengalaman Living Museum. Narasumber utama antara lain Ida Bagus Agung Gurnathawa yang menyampaikan materi pengantar, serta Dr. Estrella yang membawa perspektif regional melalui sesi internasional. Kegiatan lapangan dipandu pula oleh Racil Pali dan lembaga Inkubator Space.
Langkah metodis: dari inspirasi hingga konsep Living Museum
Rangkaian masterclass terdiri dari beberapa tahapan terstruktur:
- Inspirational Session bertajuk "What Makes a Living Museum?" sebagai pengantar teori dan prinsip;
- International Perspective dengan pembahasan "Heritage Interpretation in Southeast Asia" yang menyodorkan pengalaman dan praktik interpretasi warisan di kawasan regional;
- Guided Site Reading di kawasan Batu Angus untuk membaca elemen fisik dan non-fisik yang dapat menjadi bagian dari Living Museum;
- Field Observation dimana peserta dibagi kelompok untuk menginventarisasi aset heritage, cerita lokal, kondisi kawasan, serta potensi ekonomi;
- Insight Sharing untuk mendiskusikan temuan lapangan dan merumuskan gagasan konsep Living Museum.
Model pembelajaran ini menempatkan peserta langsung berinteraksi dengan konteks Batu Angus, sehingga konsep yang dihasilkan bukan sekadar teoritis tetapi berakar pada kondisi lapangan dan kearifan lokal.
Potensi lokal dan keterlibatan masyarakat
Dokumentasi kegiatan menunjukkan fokus pada identifikasi unsur-unsur yang dapat menjadi pengalaman Living Museum, antara lain aset material berupa struktur geowisata, situs bersejarah, dan lanskap; serta aset non-material seperti cerita lokal, praktik budaya, dan potensi ekonomi kreatif. Pendekatan ini menekankan peran komunitas dalam penjagaan, interpretasi, dan pengelolaan pengalaman warisan.
Dalam konsep Living Museum, keterlibatan penduduk setempat menjadi kunci agar pengalaman wisata dan pendidikan berkaitan erat dengan keseharian komunitas. Hal ini mencakup pemberdayaan pelaku ekonomi lokal, pelibatan pencerita tradisi, dan pengembangan rute interpretasi yang mudah diakses oleh pengunjung.
"Living Museum bukan sekadar etalase; ia harus hidup bersama komunitas, menjadi ruang interaksi antara warisan dan kehidupan kontemporer," ujar salah satu pemateri dalam sesi pembukaan.
Implikasi bagi pengelolaan kawasan Batu Angus
Penyusunan konsep Living Museum berdasarkan hasil observasi dan diskusi diharapkan memberikan peta langkah praktis bagi pengelolaan kawasan. Beberapa implikasi yang potensial antara lain:
- Pemetaan rute interpretasi yang memadukan elemen geowisata dan cerita lokal untuk meningkatkan pengalaman pengunjung;
- Strategi pemberdayaan ekonomi berbasis budaya untuk melibatkan pelaku usaha mikro dan komunitas kreatif setempat;
- Penyusunan standar interpretasi dan materi edukasi yang ramah pengunjung sekaligus akurat secara sejarah;
- Kolaborasi lintas pihak—pemerintah daerah, komunitas, akademisi, dan praktisi internasional—dalam pengembangan dan pengelolaan berkelanjutan.
| Aspek | Kegiatan terkait |
|---|---|
| Teori | Inspirational Session dan International Perspective |
| Praktik lapangan | Guided Site Reading dan Field Observation |
| Produksi konsep | Insight Sharing dan penyusunan konsep Living Museum |
Penyelenggara berharap hasil masterclass dapat menjadi rujukan bagi langkah lanjutan dalam pengembangan Batu Angus sebagai destinasi yang memadukan nilai ilmiah, edukasi, dan pengalaman wisata berkelanjutan. Bagi warga Ternate, inisiatif ini membuka peluang untuk menjadikan warisan lokal sebagai sumber identitas dan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian budaya.
Rakernas XII JKPI di Ternate menempatkan Batu Angus dalam perhatian nasional dan regional, sekaligus menjadi wadah pertukaran pengetahuan yang diarahkan pada pengelolaan warisan yang menghormati konteks lokal serta praktik internasional.