Surabaya — Musim kemarau 2026 telah menempatkan banyak wilayah di Jawa Timur pada kondisi kritis terkait pasokan air bersih. Data terbaru per 16 September 2026 menunjukkan 24 kabupaten/kota telah menetapkan status darurat akibat kekeringan, dan pemerintah melakukan penyaluran bantuan secara bertahap untuk merespons kebutuhan dasar masyarakat.
Skala masalah dan respons pemerintah
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur memperkirakan puncak kemarau dominan terjadi pada Agustus hingga September, dengan kondisi El Niño yang pada September berada dalam kategori sangat kuat. Kondisi atmosfer yang kering memicu menurunnya debit mata air, pengeringan sumur, serta menipisnya isi tandon di banyak desa dan kota.
Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota merespons dengan menyalurkan air bersih menggunakan truk tangki serta menyediakan tandon dan jeriken untuk penyimpanan. Hingga laporan terakhir, 22 dari 24 kabupaten/kota yang menetapkan darurat telah menerima penyaluran air bersih dari Pemprov Jawa Timur.
Contoh penyaluran di level kabupaten
Beberapa contoh penyaluran yang terdokumentasi menunjukkan variasi skala bantuan:
- Di Kabupaten Sampang, bantuan diarahkan kepada 951 kepala keluarga atau sekitar 4.254 jiwa, menggunakan dua unit truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter. Pemerintah setempat juga menyerahkan tandon dan jeriken untuk mendukung penyimpanan air.
- Di Blitar, distribusi difokuskan pada warga Dusun Wonosari, Desa Tugurejo, Kecamatan Wates, yang mengalami penurunan ketersediaan air.
- Di Ngawi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat penyaluran sebanyak 606.000 liter sejak 2 Agustus 2026, yang menjangkau 1.884 warga di 15 desa pada tujuh kecamatan. Penyaluran dilakukan berulang, bahkan tiga hingga empat kali per hari sesuai kebutuhan.
Angka dan cakupan bantuan
Pemprov Jawa Timur menyatakan telah menyiapkan dukungan air bersih untuk 38.270 kepala keluarga atau setara 98.946 jiwa yang terdampak di tujuh kecamatan. Meski demikian, sejumlah pihak menilai penyaluran tangki air baru bersifat sementara dan belum menyelesaikan masalah ketersediaan jangka panjang.
| Indikator | Data |
|---|---|
| Daerah dengan status darurat | 24 kabupaten/kota (per 16 September 2026) |
| Daerah menerima distribusi dari Pemprov | 22 kabupaten/kota |
| Target dukungan Pemprov | 38.270 KK / 98.946 jiwa (7 kecamatan) |
| Contoh distribusi di Ngawi | 606.000 liter untuk 1.884 warga |
Isu yang lebih luas: kesiapan sistem air
Pengiriman truk tangki menjadi pemandangan umum saat sumur mengering dan tandon kosong. Namun bantuan darurat itu menimbulkan pertanyaan strategis: sejauh mana intervensi tersebut dapat menghubungkan masyarakat pada sistem penyediaan air yang lebih tahan musim kemarau? Para ahli dan pejabat daerah menyarankan perlunya perencanaan jangka panjang yang meliputi konservasi sumber air, pengelolaan catchment area, pembenahan infrastruktur tandon dan jaringan distribusi, serta program efisiensi penggunaan air.
Saran praktis bagi warga terdampak
Bagi warga yang terdampak, langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan sambil menunggu bantuan terkoordinasi antara lain:
- Mengelola penyimpanan air secara higienis: menutup tandon dan menggunakan jeriken bersih.
- Memprioritaskan penggunaan air untuk kebutuhan minum dan memasak, serta menjaga kebersihan untuk mencegah penyakit terkait sanitasi.
- Melaporkan kondisi kekeringan ke kantor desa atau BPBD setempat agar penyaluran bantuan dapat diatur sesuai urgensi.
Kondisi El Niño yang kuat dan musim kemarau puncak yang telah berlangsung membuat upaya penanggulangan kekeringan menjadi prioritas jangka pendek dan jangka panjang di Jawa Timur. Koordinasi antarinstansi, kesiapan logistik, serta investasi pada infrastruktur air menjadi penentu sejauh mana masyarakat dapat bertahan tanpa terganggu pasokan air bersih.
Cahyo Purnomo, Koresponden Daerah - Jawa Timur, WE NEWS