Mataram — Upaya meningkatkan literasi dasar siswa Sekolah Dasar (SD) di Kota Mataram mendapat pendekatan baru melalui pengembangan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis sintaks MACI (Motivasi, Amati, Conclude, Implementasi). Model ini merupakan hasil disertasi Siti Lamusiah dari Program Doktor Pendidikan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang yang dipresentasikan pada Ujian Promosi Doktor pada Juni 2026.
Permasalahan dan tujuan pengembangan
Penelitian dilatarbelakangi oleh temuan bahwa meskipun nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berada pada rentang 70–71, kemampuan literasi multidimensi siswa—yang mencakup menyimak, berbicara, membaca, dan menulis—belum optimal. Model pembelajaran Bahasa Indonesia yang dominan bersifat teacher-centered, parsial, dan kurang mengaitkan materi dengan pengalaman nyata siswa menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya capaian literasi. Untuk itu, penelitian bertujuan merancang prototipe konseptual dan fisik model CTL dengan sintaks MACI, menguji validitas dan kepraktisan, serta menganalisis efektivitas dan kelayakan model tersebut pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Kota Mataram.
Integrasi kearifan lokal sebagai unsur kontekstual
Salah satu ciri khas model yang dikembangkan adalah integrasi kearifan lokal budaya Sasak sebagai konteks pembelajaran. Bahan ajar dan kegiatan rempah pada model ini mengangkat unsur budaya setempat, seperti cerita rakyat Putri Mandalika dan permainan daerah, sebagai sumber materi yang dapat dihubungkan dengan pengalaman siswa. Pendekatan kontekstual tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan relevansi pembelajaran sehingga siswa lebih termotivasi dan mampu mengaitkan keterampilan berbahasa dengan kehidupan sehari-hari.
Metode pengembangan dan struktur sintaks MACI
Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan kerangka kerja ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Sintaks MACI yang dirancang terdiri dari empat tahap utama:
- Motivasi: membangkitkan minat dan keterkaitan emosional siswa terhadap materi.
- Amati: observasi konteks nyata melalui teks, cerita, atau kegiatan lokal.
- Conclude: proses refleksi dan penyusunan pemahaman bersama antara siswa dan guru.
- Implementasi: penerapan keterampilan berbahasa dalam aktivitas nyata atau proyek sederhana.
Model CTL berbasis sintaks MACI dikembangkan untuk meningkatkan literasi multidimensi siswa kelas IV SD di Kota Mataram dengan mempertimbangkan kearifan lokal Sasak.
| Fase ADDIE | Tujuan Utama |
|---|---|
| Analysis | Identifikasi kebutuhan literasi dan karakteristik siswa di Mataram |
| Design | Perancangan sintaks MACI dan bahan ajar berbasis budaya lokal |
| Development | Pembuatan prototype konseptual dan fisik media pembelajaran |
| Implementation | Uji coba model pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SD |
| Evaluation | Analisis validitas, kepraktisan, dan efektivitas model |
Implikasi bagi praktik pendidikan dasar di Mataram
Penerapan model CTL sintaks MACI berpotensi menggeser praktik pembelajaran dari pola guru-sentris menjadi lebih partisipatif dan kontekstual. Dengan sumber materi yang mengakar pada budaya lokal, guru dapat memfasilitasi kegiatan yang mendorong siswa berlatih keempat keterampilan berbahasa secara terpadu. Bagi kepala sekolah dan pengawas kurikulum, hasil penelitian ini menjadi pertimbangan untuk mengembangkan program peningkatan kompetensi guru, khususnya dalam merancang pembelajaran terintegrasi dan adaptif terhadap konteks setempat.
Penting dicatat bahwa penelitian ini menekankan uji validitas dan kepraktisan model sebelum direkomendasikan untuk skala yang lebih luas. Tahapan pengujian dan evaluasi menjadi kunci untuk memastikan bahwa model benar-benar efektif meningkatkan literasi multidimensi anak dan dapat diadopsi secara berkelanjutan di sekolah-sekolah dasar Kota Mataram.
Ke depan, kolaborasi antara peneliti, dinas pendidikan, pihak sekolah, dan komunitas lokal diperlukan untuk mengimplementasikan dan memantau efektivitas model tersebut. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan capaian literasi, tetapi juga memperkuat keterkaitan pendidikan formal dengan nilai-nilai budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat Mataram.