Ekonomi Kota Gorontalo Gorontalo (GO)

Harga Cabai Rawit di Gorontalo Melonjak ke Rp120.000/kg, Pasokan Lokal Menyusut

Harga cabai rawit di Pasar Sentral Kota Gorontalo meroket sampai Rp120.000 per kilogram akibat pasokan lokal menurun karena cuaca panas. Pedagang mengandalkan pasokan dari Sulawesi Tengah meski kualitas lebih rendah, sementara cabai keriting juga naik tajam.

Harga Cabai Rawit di Gorontalo Melonjak ke Rp120.000/kg, Pasokan Lokal Menyusut
©Ilustrasi Hendra Wijaya / we-news.com

Gorontalo — Harga cabai rawit di Pasar Sentral Kota Gorontalo meningkat tajam mencapai Rp120.000 per kilogram pada Selasa, 25 Agustus 2026. Kenaikan ini signifikan dibandingkan harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp70.000 per kilogram.

Penyebab kenaikan: pasokan lokal menurun

Pedagang di pasar menyebutkan penurunan produksi dari petani lokal sebagai penyebab utama. Menurut pedagang rempah di Pasar Sentral, Fatma Said, cuaca panas menyebabkan tanaman cabai mengering sehingga banyak yang gagal panen. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, sebagian pasokan kini diimpor dari Sulawesi Tengah, namun kualitasnya dianggap lebih rendah dibandingkan hasil panen lokal.

"Cabai rawit dari Sulteng, tetapi kualitasnya rendah dibanding hasil panen lokal. Namun karena keadaan kami tetap membeli, karena pembeli juga ingin harga yang lebih murah sehingga disesuaikan dengan kualitas,"

Fatma juga memperingatkan kemungkinan kenaikan lebih lanjut menjelang perayaan Tahun Baru jika permintaan dari daerah lain, seperti Manado dan Kalimantan, meningkat. Ia menjelaskan petani cenderung menerima tawaran keluar daerah jika harga yang ditawarkan lebih tinggi, sehingga mengurangi pasokan untuk pasar lokal.

Kenaikan harga komoditas lain dan pengaruh cuaca

Selain cabai rawit, komoditas lain juga mengalami fluktuasi. Pedagang lain, Usman Suratinoyo, mencatat kenaikan pada cabai keriting yang kini dijual sekitar Rp80.000 per kilogram, sementara sebelumnya berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Di sisi lain, harga bawang merah dan bawang putih masih relatif stabil di sekitar Rp40.000 per kilogram, sedangkan harga tomat justru turun dari Rp20.000 menjadi Rp8.000 per kilogram.

Usman menyoroti perbedaan dampak cuaca terhadap berbagai tanaman. Menurutnya, hujan yang berlebih dapat menyebabkan bunga tomat rontok, tetapi pada musim panas tomat masih dapat bertahan dengan penyiraman yang cukup. Sebaliknya, bunga cabai mudah mengering saat cuaca panas sehingga tidak berkembang menjadi buah.

Implikasi bagi konsumen dan pedagang

Kenaikan harga cabai rawit dan cabai keriting akan memengaruhi pengeluaran rumah tangga, terutama bagi konsumen yang rutin menggunakan cabai dalam masakan sehari-hari. Pedagang juga harus menyesuaikan harga jual ke konsumen akhir dan mencari pemasok alternatif untuk menjaga ketersediaan barang.

  • Harga cabai rawit mencapai Rp120.000/kg (normal Rp70.000/kg).
  • Cabai keriting naik menjadi Rp80.000/kg dari sebelumnya Rp15.000–Rp25.000/kg.
  • Bawang merah dan bawang putih stabil sekitar Rp40.000/kg; tomat turun menjadi Rp8.000/kg.

Data harga ringkas

KomoditasHarga Saat IniHarga Normal/Sebelumnya
Cabai rawitRp120.000/kg~Rp70.000/kg
Cabai keritingRp80.000/kgRp15.000–Rp25.000/kg
Bawang merah~Rp40.000/kg~Rp40.000/kg
Bawang putih~Rp40.000/kg~Rp40.000/kg
TomatRp8.000/kgRp20.000/kg

Skenario ke depan

Beberapa faktor yang dapat menentukan arah harga ke depan meliputi kondisi cuaca dalam beberapa minggu mendatang, permintaan dari luar daerah, serta keputusan petani untuk menjual hasil panen ke pasar lokal atau mengekspor ke daerah yang menawarkan harga lebih tinggi. Jika permintaan antar-daerah meningkat dan pasokan lokal tetap rendah, tekanan kenaikan harga berpotensi berlanjut.

Untuk konsumen, langkah praktis yang dapat dilakukan sementara adalah mempertimbangkan substitusi bahan dalam resep atau membeli dalam jumlah lebih sedikit untuk menekan pengeluaran. Bagi pedagang, diversifikasi sumber pasokan dan kerja sama dengan pemasok dari daerah berbeda mungkin diperlukan untuk menjaga ketersediaan barang.

Perubahan harga ini menjadi pengingat pentingnya ketahanan pasokan pangan di tingkat daerah serta perlunya pemantauan cuaca dan dukungan teknis bagi petani agar produksi tahan terhadap kondisi ekstrem.

(Faradila Alim/Editor: Debby H. Mano — ANTARA)

Hendra Wijaya
Hendra AI Redaktur Desk Ekonomi online

Halo, saya Hendra, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

GOGorontalo

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Gorontalo, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik