Antrean panjang terlihat di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina yang membentang dari wilayah Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, hingga Kota Gorontalo pada Rabu, 21 Oktober 2026. Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mencapai sekitar 350 meter di beberapa lokasi, sementara warga melaporkan kondisi tersebut telah berlangsung intensif selama hampir sebulan terakhir.
Waktu tunggu dan pola antrean
Beberapa pengemudi yang antre mengungkapkan waktu tunggu yang signifikan. Seorang pengemudi kendaraan roda empat yang mengantre untuk membeli Pertalite di SPBU Kecamatan Biau, Kabupaten Buol, mengatakan ia harus menunggu sekitar lima jam pada Selasa, 20 Oktober. Ia menjelaskan bahwa ia mulai antre sejak pukul 19.00 WITA dan baru mendapat giliran sekitar pukul 00.00 WITA keesokan harinya.
"Saya antre dari jam 19.00 WITA, baru dapat giliran sekitar jam 00.00 WITA,"
Pengemudi lain yang ditemui di SPBU Kecamatan Sumalata, Gorontalo Utara, menyatakan antrean dua hingga tiga jam kini menjadi hal biasa. Banyak pengemudi memilih memarkir kendaraan dan mematikan mesin untuk menghemat sisa BBM sambil menunggu kedatangan truk tangki pengisian.
Penyebab antrean menurut kondisi lapangan
Sumber masalah yang terlihat di lapangan mencakup beberapa faktor:
- Keterbatasan stok: SPBU kerap kehabisan stok BBM subsidi sehingga pelayanan harus menunggu kedatangan truk tangki.
- Jam operasi terbatas: rata-rata SPBU di wilayah Gorontalo hanya beroperasi hingga pukul 22.00 WITA, sehingga jam pelayanan yang lebih pendek menimbulkan kepadatan pada jam buka.
- Pengecer eceran: kemunculan pengecer di sekitar SPBU yang menjual BBM secara eceran dengan harga jauh di atas harga resmi memperburuk ketersediaan bagi konsumen yang membeli dari SPBU.
Harga eceran dan praktik pengecer
Selain antrean, praktik penjualan eceran BBM menjadi sorotan. Beberapa pengecer yang beroperasi bahkan di sekitar SPBU menjual Pertalite dengan harga sekitar Rp20.000 per liter, padahal harga resmi Pertalite di SPBU disebut-sebut Rp10.000 per liter. Ada pula pengecer yang menawarkan takaran tertentu, misalnya Rp20.000 untuk 1,5 liter. Seorang pemilik warung makan di Kecamatan Paleleh, yang berjarak relatif jauh dari SPBU, menyatakan ia biasa membeli jerigen berisi BBM dari pengepul untuk dijual eceran; dari satu jerigen 35 liter ia mengklaim memperoleh keuntungan sekitar Rp80.000 jika laku seluruhnya.
Dampak terhadap mobilitas dan ekonomi lokal
Antrean panjang dan kenaikan harga eceran berpotensi mengganggu mobilitas warga, distribusi barang, serta operasional usaha kecil yang bergantung pada BBM untuk operasional harian. Waktu tunggu yang lama menambah biaya perjalanan dan mengurangi produktivitas warga, khususnya pekerja yang menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan barang.
Solusi dan pertimbangan kebijakan
Berdasarkan kondisi yang teramati, beberapa langkah mitigasi yang layak dipertimbangkan otoritas terkait antara lain:
- Koordinasi pasokan antara Pertamina dan distributor wilayah untuk memastikan jadwal pasokan truk tangki sesuai kebutuhan peak demand.
- Evaluasi jam operasi SPBU, terutama di wilayah yang berisiko antrean panjang, untuk mempertimbangkan perpanjangan jam layanan pada situasi tertentu.
- Penertiban praktik pengecer eceran di sekitar SPBU agar tidak mengganggu distribusi resmi dan mencegah lonjakan harga yang merugikan konsumen.
Tindakan pihak terkait
Pantauan media menunjukkan antrean di sejumlah SPBU. Sampai berita ini dibuat, belum ada pernyataan resmi dari Pertamina atau pemerintah daerah setempat yang tercantum dalam sumber peliputan. Ke depan, pernyataan dari pihak Pertamina regional dan dinas terkait penting untuk menjelaskan penyebab teknis dan langkah penanganan jangka pendek serta jangka panjang.
Situasi ini menempatkan kebutuhan pasokan BBM subsidi sebagai isu mobilitas publik dan tata kelola distribusi. Upaya koordinatif antara operator SPBU, distributor, dan pemerintah daerah diperlukan untuk mengurangi antrean, menstabilkan harga, serta memastikan akses BBM bagi warga dan pelaku usaha di Gorontalo dan sekitarnya.