Lingkungan Sorong Papua Barat Daya (PD)

DLH Papua Barat Daya Dorong Ampas Tahu Jadi Pakan Maggot, Tekankan IPAL untuk Limbah Cair

Dinas Lingkungan Hidup Papua Barat Daya mendorong pemanfaatan ampas tahu sebagai pakan maggot dan mewajibkan pengolahan limbah cair melalui IPAL untuk mencegah pencemaran di Kabupaten Sorong.

DLH Papua Barat Daya Dorong Ampas Tahu Jadi Pakan Maggot, Tekankan IPAL untuk Limbah Cair
©Ilustrasi Dewi Anggraini / we-news.com

Sorong — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Papua Barat Daya mendorong pengelolaan limbah industri tahu secara terarah dengan memanfaatkan ampas tahu sebagai bahan pakan maggot sekaligus mewajibkan pengolahan limbah cair melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) agar tidak mencemari lingkungan.

Potensi ampas tahu untuk budidaya maggot

Kepala DLH Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, mengatakan ampas tahu memiliki nilai ekonomis apabila dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya maggot. Pemanfaatan ini dinilai dapat menjadi solusi ganda: mengurangi volume limbah padat dan menambah nilai dari sisa produksi industri tahu.

“Industri-industri tahu itu ampas tahu juga bisa dijadikan sebagai pakan maggot,”

Menurut Julian, maggot yang dibudidayakan menggunakan limbah organik seperti ampas tahu bisa dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak kaya protein, sehingga memberikan alternatif rantai nilai bagi usaha tahu dan peternak lokal.

Kewajiban pengolahan limbah cair

Meski ampas padat masih dimanfaatkan, DLH menekankan perlunya pengelolaan untuk limbah cair proses produksi tahu. Julian menegaskan bahwa pembuangan limbah cair tanpa pengolahan berisiko menimbulkan pencemaran di lingkungan sekitar pabrik dan pemukiman.

“Air limbahnya harus dibuat IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) sehingga tidak menimbulkan pencemaran pada lingkungan di sekitarnya,”

Dalam kunjungan ke salah satu industri tahu di Kabupaten Sorong, tim DLH mencatat bahwa beberapa produsen sedang menyiapkan pembangunan IPAL untuk mengolah limbah cair produksi. Upaya ini diharapkan bisa menurunkan beban pencemaran sungai atau saluran air setempat.

Kondisi industri tahu dan pemanfaatan limbah saat ini

Data sementara di lapangan menunjukkan terdapat sekitar 20 hingga 24 industri tahu di wilayah Sorong dan sekitarnya. Selama ini, ampas tahu telah dimanfaatkan oleh sejumlah peternak sebagai pakan ternak, antara lain untuk babi, sapi, dan ayam.

Aspek Kondisi
Jumlah industri tahu 20–24 unit (Sorong dan sekitarnya)
Pemanfaatan ampas Diambil oleh peternak babi, sapi, dan ayam sebagai pakan
Pengelolaan limbah cair Sedang disiapkan pembangunan IPAL di beberapa lokasi

Kesempatan penguatan rantai pasok kedelai

Selain pengelolaan limbah, DLH juga memandang adanya peluang untuk memperkuat sumber bahan baku industri tahu. Julian menyebut potensi pengembangan budidaya kedelai oleh masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP) yang memiliki lahan, sebagai salah satu pendekatan untuk menurunkan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

“Artinya sumber bahan baku tahunya apa, kedelai toh? Masyarakat OAP yang punya lahan, punya tanah itu,” ujar Julian, menyoroti peluang produksi lokal untuk mendukung keberlanjutan usaha tahu di daerah.

Dampak lingkungan dan manfaat ekonomi lokal

Pemanfaatan ampas tahu untuk maggot berpotensi mengurangi jumlah limbah organik yang dibuang ke lingkungan serta menyediakan pakan alternatif bernilai gizi tinggi bagi peternak. Penerapan IPAL pada limbah cair diharapkan menekan risiko pencemaran perairan dan tanah yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat dan ekosistem setempat.

  • Manfaat lingkungan: mengurangi pencemaran air dan tanah jika IPAL dioperasikan dengan baik.
  • Manfaat ekonomi: penciptaan nilai tambah dari ampas tahu melalui budidaya maggot dan potensi substitusi bahan baku kedelai lokal.
  • Pemberdayaan masyarakat: keterlibatan OAP dalam budidaya kedelai dan rantai pasok tahu lokal.

DLH Papua Barat Daya akan terus memantau implementasi pengelolaan limbah dan mendorong sinergi antara pelaku usaha tahu, peternak, serta komunitas lokal untuk mewujudkan pengelolaan limbah yang ramah lingkungan sekaligus mendukung mata pencaharian.

Dewi Anggraini
Dewi AI Redaktur Desk Lingkungan online

Halo, saya Dewi, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

PDPapua Barat Daya

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Papua Barat Daya, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik