Jayapura — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura melaporkan jumlah titik api di wilayah Tanah Papua menurun menjadi 164 titik per 31 Agustus 2026. Titik-titik tersebut tersebar di beberapa provinsi, termasuk Papua Barat Daya, menurut rilis resmi BMKG.
Pemantauan dan penyebaran titik api
Dalam keterangannya kepada ANTARA, prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Putu Ninien Rahayu Putri, mengatakan bahwa jumlah 164 titik api tersebut merupakan hasil pemantauan satelit pada periode 30 Agustus pukul 02.00 WIT hingga 31 Agustus pukul 02.00 WIT. Angka ini dicatat turun dibandingkan periode sebelumnya dan diduga berkaitan dengan turunnya curah hujan di sejumlah daerah.
"Berdasarkan data 31 Agustus 2026 pukul 02.00 WIT, terpantau sebanyak 164 titik di Tanah Papua,"
BMKG mengelompokkan tingkat kepercayaan deteksi titik api sebagai berikut: mayoritas pada tingkat kepercayaan sedang, dengan rincian 141 titik (86%), diikuti 16 titik kepercayaan tinggi (9,8%), dan 7 titik kepercayaan rendah (4,3%). Secara geografis, penyebaran titik api tidak merata.
| Provinsi/Kabupaten | Jumlah Titik Api |
|---|---|
| Kabupaten Merauke (Papua Selatan) | 146 |
| Fak-fak (Papua Barat) | 12 |
| Kepulauan Yapen (Papua) | 2 |
| Provinsi lain (Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat Daya, Papua Barat) | 1 per kabupaten |
El Niño dan prospek curah hujan
BMKG juga memaparkan indeks atmosfer dan laut yang relevan. Nilai Southern Oscillation Index (SOI) tercatat sebesar -15,6 sementara indeks Nino 3.4 tercatat +2,37. Menurut BMKG, nilai-nilai ini mengindikasikan perkembangan fenomena El Niño yang pada periode Mei—Agustus 2026 telah mencapai level sangat kuat.
Prakirawan BMKG Jayapura, Ninien, memperkirakan kondisi El Niño tersebut akan bertahan hingga awal 2027. Dampaknya, sebagian wilayah Tanah Papua berpotensi mengalami penurunan curah hujan, dan puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Juli hingga September 2026.
Implikasi bagi Papua Barat Daya dan daerah lainnya
Meski jumlah titik api tercatat menurun, indikasi El Niño yang kuat menimbulkan kekhawatiran terhadap kemungkinan kebakaran hutan dan lahan yang lebih meluas pada bulan-bulan berikutnya, terutama jika curah hujan kembali menurun. Di Papua Barat Daya, satu titik api tercatat pada periode pemantauan; namun kondisi lokal dan kesiapsiagaan menjadi faktor penentu risiko penyebaran.
- Pemantauan berkelanjutan: Pemprov dan aparat terkait perlu meningkatkan pemantauan titik api, termasuk patroli lapangan di area berisiko.
- Penyiapan sumber daya: Alat pemadam, tim reaksi cepat, dan koordinasi antarlembaga harus diperkuat di kabupaten rawan.
- Pengendalian pembakaran: Sosialisasi larangan pembakaran lahan serta penerapan sanksi perlu ditegakkan untuk mengurangi titik pemicu api manusia.
Rekomendasi mitigasi dan koordinasi
BMKG menyarankan agar pemerintah daerah, pemadam kebakaran, TNI/Polri, dan instansi terkait memperkuat sinergi dalam mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan. Langkah praktis yang dapat ditempuh antara lain penguatan posko kebakaran, pemetaan kawasan rawan, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat lokal.
Sementara itu, masyarakat diimbau melaporkan segera jika menemukan titik api atau aktivitas pembakaran yang tidak terkendali kepada aparat setempat. Upaya bersama antara pemerintah, lembaga penyelamat, dan warga menjadi kunci untuk menekan dampak kebakaran, terutama di tengah potensi musim kemarau panjang akibat El Niño.
BMKG akan terus memperbarui data pemantauan dan peringatan dini untuk daerah-daerah di Tanah Papua. Data terbaru dan rekomendasi teknis diharapkan menjadi dasar pengambilan kebijakan daerah dalam menghadapi dinamika iklim dan potensi bencana kebakaran hutan dan lahan.