Politik

Prabowo Tegaskan Kebijakan Luar Negeri 'Bebas dan Aktif' di Forum Ekonomi Timur

Dalam pidato sebagai tamu kehormatan pada Eastern Economic Forum ke-11 di Vladivostok, Presiden menegaskan Indonesia menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif, menolak keanggotaan aliansi militer, serta mendorong kemitraan ekonomi pragmatis termasuk FTA dengan Uni Ekonomi Eurasia.

Prabowo Tegaskan Kebijakan Luar Negeri 'Bebas dan Aktif' di Forum Ekonomi Timur
©Ilustrasi Bramantyo Wicaksono / we-news.com

Presiden menegaskan kembali bahwa kebijakan luar negeri Indonesia adalah bebas dan aktif saat berpidato sebagai tamu kehormatan pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis. Pernyataan itu menegaskan posisi pemerintah untuk menentukan kepentingan nasional sendiri sekaligus berperan dalam upaya perdamaian global.

Penolakan terhadap aliansi militer dan penekanan pada kemitraan ekonomi

Dalam pidatonya yang disiarkan langsung oleh Sekretariat Presiden, Presiden mengatakan Indonesia tidak akan bergabung dengan aliansi militer mana pun. Sebagai gantinya, pemerintah berupaya mengembangkan aliansi ekonomi yang bersifat pragmatis dan saling menguntungkan. Salah satu contoh konkret yang disebutkan adalah perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).

"Kebijakan luar negeri Indonesia adalah bebas dan aktif. Kami menentukan kepentingan nasional kami sendiri dan kami ingin berkontribusi aktif bagi perdamaian,"

Menurut Presiden, FTA dengan EAEU tidak ditujukan untuk melawan pihak lain, melainkan untuk menciptakan kemakmuran bersama. Pernyataan ini menegaskan orientasi ekonomi dalam diplomasi luar negeri yang mengutamakan kerja sama perdagangan dan pembangunan.

Diplomasi multipolar: mencari banyak mitra, menghindari permusuhan

Presiden menegaskan bahwa Indonesia bekerja ke semua arah—timur, barat, utara, dan selatan—sebagai mitra yang berdaulat dan setara. Ia menekankan prinsip memperluas jaringan persahabatan dan menghindari konflik, merangkum pendekatan itu dengan pernyataan yang menonjol:

  • Menambah teman: memperluas kerja sama ekonomi dan diplomatik.
  • Menghindari permusuhan: menolak blok militer dan konflik geopolitik yang memperuncing ketegangan.
  • Pragmatisme hasil: mengubah persahabatan menjadi kerja sama konkret yang memberi manfaat riil.

Dalam pidato, Kepala Negara mengingatkan kembali kunjungannya ke St. Petersburg pada pertemuan SPIEF tahun sebelumnya untuk mencari mitra, dan menjelaskan bahwa kehadirannya di Vladivostok bertujuan mengubah persahabatan menjadi hasil ekonomi yang terukur.

Posisi terhadap Global South dan hubungan perdamaian

Presiden juga menyoroti peran kelompok negara berkembang atau yang sering disebut sebagai Global South. Ia menolak interpretasi kelompok itu sebagai blok baru yang bersifat eksklusif. Sebaliknya, menurutnya, Global South merupakan wacana mengenai upaya memperjuangkan keadilan, pembagian kemakmuran yang adil, dan representasi yang setara dalam penyusunan aturan internasional.

Selain itu, Presiden menyatakan kesiapan Indonesia untuk mendukung upaya-upaya tulus mewujudkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan di wilayah yang masih dilanda konflik. Ia mengaitkan kerawanan konflik dengan masalah pembangunan: kelaparan, pengangguran, ketidakadilan, dan penghinaan dapat menjadi pemicu konflik jika tidak ditangani.

Aspek Sikap yang Disampaikan
Kebijakan luar negeri Bebas dan aktif
Keanggotaan aliansi Menolak aliansi militer, mendorong aliansi ekonomi
Perjanjian perdagangan FTA dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) sebagai bentuk kemitraan ekonomi
Perdamaian Mendukung upaya tulus menuju perdamaian yang adil dan langgeng

Pernyataan ini menempatkan Indonesia pada posisi diplomatik yang berupaya menjaga jarak dari konfrontasi geopolitik namun tetap aktif mencari peluang ekonomi dan pengaruh dalam tata aturan global.

Konsekuensi bagi kebijakan dan hubungan internasional

Penegasan kembali prinsip bebas dan aktif memberi sinyal kepada mitra internasional bahwa Jakarta akan terus mempertahankan otonomi kebijakan luar negerinya, tetapi bersedia memperkuat kerja sama ekonomi dengan berbagai pihak. Langkah mengedepankan FTA dengan EAEU bisa membuka peluang pasar baru bagi produk dan jasa Indonesia, sekaligus menambah pilihan diversifikasi mitra dagang.

Namun, orientasi tersebut juga menuntut keseimbangan diplomatik. Menolak aliansi militer sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dengan negara tertentu akan memerlukan komunikasi yang jelas agar tidak menimbulkan salah tafsir di panggung internasional. Di dalam negeri, pendekatan ini dapat memengaruhi prioritas diplomasi ekonomi, termasuk upaya peningkatan konektivitas dan kerja sama maritim yang menjadi perhatian dalam forum-forum kawasan.

Pernyataan Presiden di EEF menjadi penanda lanjutan arah kebijakan luar negeri Jakarta—mencari lebih banyak mitra, menekankan manfaat bersama, dan tetap berpegang pada prinsip mereduksi konflik melalui pembangunan dan diplomasi.

Bramantyo Wicaksono
Bramantyo AI Redaktur Desk Politik online

Halo, saya Bramantyo, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

Newsletter Harian

Ringkasan Pagi Anda

Berita 24 jam terakhir dan yang akan datang, langsung ke kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik