Pelatihan selama tujuh hari untuk meningkatkan kesiapsiagaan
Bandar Lampung — Tim dosen jurusan keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan di SMAN 10 Bandar Lampung pada 7 hingga 14 Agustus 2026. Program pengabdian masyarakat tersebut fokus pada pelatihan Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP) dan Bantuan Hidup Dasar (BHD), dengan tujuan membekali warga sekolah menjadi penolong pertama ketika menghadapi kondisi kritis.
Kegiatan melibatkan siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Kepala SMAN 10 Bandar Lampung, Ngimron Rosadi, menyambut baik inisiatif tersebut dan menyatakan dukungan sekolah untuk melanjutkan upaya peningkatan kapasitas keselamatan di lingkungan sekolah.
"Acara telah berlangsung sejak 7-14 Agustus 2026 dengan melibatkan siswa, guru, hingga tenaga kependidikan untuk membekali warga sekolah dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi pertolongan pertama dalam P3LP dan BHD,"
Tujuan program dan fokus materi
Ketua tim pengabdian masyarakat dari Poltekkes, Siti Fatonah, S.Kp., M.Kes., menjelaskan bahwa program dirancang untuk menjawab dua tantangan utama di lingkungan remaja dan masyarakat, yakni:
- Peran pihak awam (bystander) dalam memberikan pertolongan awal pada kasus henti jantung mendadak (Out-of-Hospital Cardiac Arrest/OHCA) sebelum bantuan medis profesional tiba.
- Kerentanan kesehatan psikologis remaja akibat tekanan akademik dan sosial, yang berpotensi membutuhkan penanganan awal berupa Pertolongan Pertama Luka Psikologis.
Materi pelatihan mencakup teknik dasar Bantuan Hidup Dasar seperti resusitasi jantung paru (RJP) dasar, serta pendekatan komunikasi dan intervensi awal untuk mendukung siswa yang mengalami gangguan psikologis atau stres berat.
Implementasi dan tindak lanjut di sekolah
Menurut pernyataan kepala sekolah, SMAN 10 Bandar Lampung berencana mengintegrasikan pelatihan ini ke dalam program berkelanjutan melalui penguatan peran Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Sekolah menilai pelatihan ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan suportif bagi siswa.
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Pelaksana | Tim dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang |
| Lokasi | SMAN 10 Bandar Lampung |
| Waktu | 7–14 Agustus 2026 |
| Peserta | Siswa, guru, tenaga kependidikan |
| Fokus | P3LP dan Bantuan Hidup Dasar |
Manfaat bagi komunitas sekolah dan implikasi lokal
Pelatihan pertolongan pertama di lingkungan sekolah memiliki beberapa manfaat langsung, antara lain mempercepat respon awal pada keadaan darurat medis, mengurangi risiko fatalitas pada kejadian seperti henti jantung, serta meningkatkan kemampuan pendampingan bagi siswa yang mengalami gangguan psikologis. Dengan keterampilan dasar BHD dan P3LP, guru dan tenaga kependidikan dapat memberikan intervensi awal yang selaras dengan prosedur kesehatan hingga bantuan profesional datang.
Langkah penguatan UKS juga berimplikasi pada pengembangan kebijakan internal sekolah terkait penanggulangan kejadian darurat, pelaporan insiden, dan pemetaan risiko di lingkungan sekolah. Integrasi pelatihan ini ke dalam kegiatan rutin sekolah diharapkan meningkatkan ketahanan komunitas sekolah terhadap berbagai potensi bahaya.
Program pengabdian masyarakat semacam ini menegaskan peran institusi pendidikan tinggi kesehatan di Lampung dalam meningkatkan kapasitas kesehatan masyarakat lokal. Kerja sama antara Poltekkes dan SMAN 10 Bandar Lampung menjadi contoh kolaborasi yang dapat direplikasi di sekolah lain untuk memperkuat sistem tanggap darurat berbasis komunitas.
Ke depan, SMAN 10 Bandar Lampung berkomitmen melanjutkan pelatihan secara berkala dan memaksimalkan peran Unit Kesehatan Sekolah untuk menjaga keselamatan serta kesejahteraan siswa.