Peningkatan frekuensi kegempaan
Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) melaporkan adanya peningkatan frekuensi kegempaan vulkanik dangkal di Gunung Lokon yang berada di wilayah Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Ketua Pos PGA Lokon, Armando Manguleh, menyatakan bahwa kegempaan yang terekam bersifat fluktuatif dan merupakan bagian dari rangkaian peningkatan yang terjadi beberapa waktu terakhir.
Data pengamatan terbaru
Pada periode pengamatan tanggal 25 September 2026, Pos PGA mencatat beberapa jenis gempa dengan rincian sebagai berikut:
- 9 kali gempa embusan (amplitudo 5–38 milimeter; durasi 10–68 detik)
- 25 kali gempa vulkanik dangkal (amplitudo 2–7 milimeter; durasi 3–15 detik)
- 8 kali gempa tektonik jauh (amplitudo 2–40 milimeter; S‑P tidak terbaca; durasi 19–131 detik)
Pos PGA juga mencatat perkembangan frekuensi beberapa hari sebelumnya: pada 22 September terdeteksi 29 kali gempa vulkanik dangkal, pada 23 September sebanyak 32 kali, dan pada 24 September sebanyak 11 kali. Menurut laporan, pada kondisi normal kegempaan Gunung Lokon berkisar antara 10–20 kali.
| Tanggal | Jumlah gempa vulkanik dangkal |
|---|---|
| 22 September 2026 | 29 kali |
| 23 September 2026 | 32 kali |
| 24 September 2026 | 11 kali |
| 25 September 2026 | 25 kali (vulkanik dangkal), plus 9 embusan, 8 tektonik jauh |
"Memang mengalami fluktuatif (kegempaan). Ini masih bagian dari rangkaian peningkatan kegempaan beberapa waktu lalu,"
kata Armando Manguleh di Tomohon, Sabtu, sebagaimana dikutip dari laporan pengamatan.
Status dan rekomendasi keselamatan
Pos PGA menyebutkan tingkat aktivitas Gunung Lokon saat ini berada pada Level II (Waspada). Dalam laporannya, Pos PGA mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk mematuhi sejumlah rekomendasi keselamatan yang berlaku, antara lain:
- Tidak mendekati dan tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan.
- Jika terjadi letusan dan hujan abu, tetap berada di dalam rumah bila memungkinkan.
- Apabila berada di luar ruangan saat hujan abu, disarankan menggunakan pelindung hidung dan mulut (masker) serta pelindung mata (kacamata).
Imbauan tersebut ditujukan untuk meminimalkan paparan partikel abu vulkanik serta mengurangi risiko terkait lontaran material saat terjadi aktivitas eksplosif yang tiba‑tiba.
Konteks perubahan status sebelumnya
Dalam konteks ringkasan aktivitas sebelumnya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sempat menaikkan status Gunung Lokon menjadi Level III (Siaga) pada 3 September 2025, lalu menurunkannya kembali menjadi Level II (Waspada) pada 25 Oktober 2025. Catatan tersebut menggambarkan lonjakan aktivitas pada periode sebelumnya dan penyesuaian tingkat kewaspadaan oleh otoritas pemantau.
Dampak bagi warga Tomohon
Bagi warga Kota Tomohon dan pengunjung kawasan, peningkatan frekuensi kegempaan menuntut kewaspadaan dan kepatuhan terhadap arahan otoritas. Rekomendasi untuk menjauhi radius kawah serta penggunaan pelindung pernapasan dan mata bertujuan melindungi kesehatan pernapasan dan penglihatan dari partikel abu. Selain itu, pemantauan terus‑menerus oleh Pos PGA dan komunikasi resmi menjadi kunci agar respons masyarakat terkoordinasi dan risiko dapat diminimalkan.
Pos PGA tetap melakukan pemantauan dan akan menginformasikan perkembangan aktivitas Gunung Lokon secara berkala. Masyarakat diimbau mengikuti saluran informasi resmi guna memperoleh petunjuk dan peringatan terbaru.