Pontianak — Menteri Kehutanan, Raja Antoni, meminta upaya pendinginan pada lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dimasifkan meski data menunjukkan penurunan jumlah titik panas beberapa hari terakhir. Pernyataan itu disampaikan saat Menhut meninjau langsung lokasi kebakaran di Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, pada Kamis.
Penurunan hotspot belum berarti aman
Berdasarkan pemantauan yang dikemukakan Raja Antoni, data Sistem Pemantauan Karhutla Sipongi milik Kementerian Kehutanan memperlihatkan fluktuasi jumlah titik panas. Ia menegaskan angka yang turun tidak otomatis menunjukkan ancaman telah berlalu karena asap dan titik api yang belum sepenuhnya padam masih dapat menimbulkan gangguan.
"Harus ada gerakan yang masif untuk melakukan pendinginan. Ini sekarang sedang dilakukan pendinginan,"
Raja Antoni menjelaskan bahwa api yang sudah padam tidak lagi terdeteksi sebagai hotspot oleh sistem, namun material yang masih panas dan rekahan gambut dapat terus mengeluarkan asap. Oleh karena itu, operasi lapangan harus lebih fokus pada pendinginan sisa-sisa kebakaran untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Pengamatan lapangan dan sinergi tim
Dalam peninjauan, Menhut melihat langsung proses pemadaman dan pendinginan yang dilakukan oleh personel Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan. Ia meminta seluruh unsur terkait—termasuk TNI, Polri, BPBD, dan relawan—untuk memperkuat langkah-langkah pendinginan di lokasi yang terdampak.
Raja Antoni juga menekankan pentingnya pemantauan jarak pandang sebagai indikator dampak asap terhadap kualitas udara dan mobilitas publik. Menurutnya, penentuan langkah selanjutnya akan didasarkan pada perkembangan jumlah hotspot dan kondisi visibilitas di lapangan.
Data hotspot beberapa hari terakhir
| Tanggal | Jumlah titik panas (hotspot) |
|---|---|
| 31 Agustus | 272 |
| 1 September | 859 |
| 2 September | 268 |
Perbedaan angka tersebut mencerminkan fluktuasi yang signifikan dalam sekuens beberapa hari, namun Menhut mengingatkan bahwa angka statistik semata tidak cukup tanpa operasi lapangan yang konsisten di area terdampak.
Ancaman asap tetap nyata
Raja Antoni menyatakan kondisi kabut asap masih tampak di sejumlah wilayah, termasuk Pontianak. Ia meminta agar penanganan karhutla di Kalimantan Barat mendapat perhatian serius dan tidak dilonggarkan hanya karena indikator hotspot menurun.
"Api padam tidak terbaca sebagai hotspot di Sipongi, namun itu tidak berarti bahwa tidak ada asap. Teman-teman sendiri lihat, tidak lagi ada hotspot di sini tapi asapnya terus eksis," ujar Raja Antoni saat peninjauan.
Langkah yang disarankan dan implikasinya
Menhut menginstruksikan agar operasi pendinginan dijadikan prioritas sehingga sumber panas sisa kebakaran tidak mengakibatkan kebakaran ulang. Prioritas ini mencakup tindakan lapangan berikut:
- Pendinginan intensif pada titik-titik yang baru saja dipadamkan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.
- Kolaborasi antarinstansi (Kementerian Kehutanan, Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD) untuk memaksimalkan sumber daya dan logistik.
- Pemantauan jarak pandang dan kualitas udara untuk menentukan langkah kesehatan publik dan peringatan dini.
Instruksi ini mengarah pada kebutuhan sumber daya tambahan di lapangan, termasuk personel, peralatan pendinginan, serta logistik pendukung seperti pasokan air dan masker untuk petugas dan warga terdampak.
Pemantauan berkelanjutan
Raja Antoni menegaskan pemerintah akan terus memantau jumlah hotspot dan kondisi visibilitas secara berkala untuk menentukan kebijakan respons berikutnya. "Malam nanti akan kita pantau kembali jumlah hotspot maupun visibility-nya. Kondisi Kalbar sedang tidak baik-baik saja," ucapnya.
Dengan rekomendasi memperkuat pendinginan dan pemantauan, fokus penanganan karhutla di Kalimantan Barat bergeser dari sekadar menurunkan angka hotspot menuju pengendalian dampak asap dan pencegahan kebakaran ulang melalui tindakan lapangan yang sistematis dan berkelanjutan.