Kondisi Umum dan Sebaran Wilayah
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar melaporkan bahwa hingga 5 Agustus 2026 sebanyak 47.252 jiwa atau setara 13.929 kepala keluarga terdampak kekeringan. Dampak tersebut tersebar di enam kecamatan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala.
| Kecamatan | Jumlah Jiwa Terdampak |
|---|---|
| Biringkanaya | 14.787 |
| Tallo | 10.672 |
| Tamalanrea | 9.947 |
| Manggala | 7.601 |
| Ujung Tanah | 2.921 |
| Panakkukang | 1.324 |
Respons Pemerintah dan Upaya Penanganan
Pemerintah Kota Makassar, melalui BPBD, menegaskan bahwa penanganan difokuskan pada penyediaan air bersih melalui penempatan tandon, distribusi air bersih ke lokasi terdampak, serta penguatan kerja lintas sektor—termasuk layanan kesehatan dan upaya pencegahan kebakaran yang berisiko meningkat pada masa kering.
- Penempatan tandon dan distribusi air: telah dipasang di beberapa kecamatan sebagai respons awal.
- Mobil tangki dan armada distribusi: dioptimalkan bersama stakeholder untuk mempercepat distribusi air.
- Kolaborasi lintas sektor: melibatkan tenaga kesehatan, personel operasi, dan dukungan logistik.
Dalam catatan BPBD, distribusi tandon telah dilakukan dengan rincian: 17 unit di Kecamatan Ujung Tanah, 8 unit di Biringkanaya, dan 10 unit di Tallo. Pemerintah kota mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mengerahkan modalitas yang tersedia, mulai dari sumber air baku hingga dukungan operasional lainnya.
"Setelah status tanggap darurat ditetapkan, yang kita butuhkan adalah aksi. Kita petakan siapa bisa membantu apa, berapa kapasitasnya, di wilayah mana dibutuhkan, dan seberapa cepat dapat digerakkan. Target kita sederhana, masyarakat yang membutuhkan air harus mendapatkan air,"
Dampak Sosial dan Potensi Risiko Lain
Kekurangan air bersih memengaruhi kebutuhan dasar masyarakat, kebersihan, serta kesehatan. Selain itu, kondisi kemarau panjang meningkatkan risiko kebakaran di area permukiman padat dan wilayah terpaut vegetasi yang mengering. Penanganan cepat menjadi penting untuk mencegah dampak berantai, terutama pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Petugas kesehatan dan instansi terkait diminta melakukan pemantauan kondisi gizi dan penyakit terkait air bersih di lokasi terdampak, serta memberikan edukasi pencegahan kebakaran dan penggunaan air secara efisien.
Peran Masyarakat dan Stakeholder Lokal
Pemkot Makassar menyerukan partisipasi aktif dari berbagai pihak—warga, pengusaha, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga keagamaan—untuk mendukung upaya distribusi dan penyaluran bantuan air. Selain itu, optimasi sumber daya lokal seperti mobil tangki swasta dan penyedia tandon darurat menjadi bagian dari strategi mempercepat respon.
Langkah lanjutan yang perlu diambil antara lain pemetaan kebutuhan rinci per kelurahan, penjadwalan distribusi agar merata, serta peningkatan kapasitas penyimpanan sementara di titik-titik strategis.
Sementara itu, BPBD dan pemerintah kota terus memantau perkembangan curah hujan dan kondisi teknis sumber air baku supaya kebijakan penanganan dapat disesuaikan secara cepat. Penanganan kekeringan kali ini menjadi ujian koordinasi antarlembaga dan kemampuan menyalurkan bantuan kepada puluhan ribu warga yang kini membutuhkan akses air bersih.
Untuk warga Makassar, penting menjaga komunikasi dengan kelurahan setempat untuk informasi titik distribusi air serta melaporkan kebutuhan darurat sehingga bantuan dapat segera diarahkan.