Produksi jauh di bawah kebutuhan
Kota Baubau masih menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan air bersih. Direktur PERUMDAM Tirta Semerbak Molagina, Joni Munadi Awal, menyatakan kebutuhan air harian kota tersebut diperkirakan mencapai 7.693 meter kubik, sedangkan kapasitas produksi saat ini baru sekitar 382 meter kubik.
Perhitungan kebutuhan itu didasarkan pada jumlah pelanggan aktif yang mendekati 13.000 dari total sekitar 19.000 pelanggan, dengan asumsi konsumsi sekitar 120 liter per jiwa per hari. Ketimpangan antara kebutuhan dan kemampuan produksi menjadi alasan utama mengapa pelayanan 24 jam belum dapat diterapkan di sebagian besar wilayah pelayanan.
"Kalau mau pelayanan 24 jam, itu semestinya kita harus menyimpan pasokan distribusi air sekitar 7.693 meter kubikasi. Sementara kita hanya baru mampu di angka 300 hampir 400 meter kubikasi,"
Kondisi tersebut memaksa PERUMDAM melakukan distribusi air secara bergilir sesuai kapasitas produksi dan kondisi setiap zona pelayanan.
Zona pelayanan dan frekuensi distribusi
Menurut penjelasan PERUMDAM, penyaluran air dibagi dalam beberapa zona dengan rentang frekuensi berbeda:
- Zona satu (Kecamatan Murhum, Betoambari, dan sebagian Batupoaro): distribusi sekitar 10 hingga 14 hari sekali.
- Zona dua (Kecamatan Wolio dan sebagian Batupoaro): distribusi sekitar enam hari sekali.
- Zona tiga (Kecamatan Lea-Lea, sebagian Bungi, dan sebagian Kokalukuna): distribusi sekitar satu hingga dua hari sekali.
- Terdapat pula IKK Bungi yang melayani Kecamatan Sorawolio dan sebagian Kokalukuna serta IKK Waruruma yang mendapat layanan 24 jam.
- Zona khusus juga disediakan untuk SPBM Pertamina di Kecamatan Betoambari dan Pelabuhan Murhum.
| Zona | Cakupan | Frekuensi Distribusi |
|---|---|---|
| Zona 1 | Murhum, Betoambari, sebagian Batupoaro | 10–14 hari sekali |
| Zona 2 | Wolio, sebagian Batupoaro | ~6 hari sekali |
| Zona 3 | Lea‑Lea, sebagian Bungi, sebagian Kokalukuna | 1–2 hari sekali |
| IKK | IKK Bungi; IKK Waruruma | Bungi: bergilir; Waruruma: 24 jam |
Penyebab dan upaya solusi
Joni menegaskan bahwa keterbatasan kapasitas bukan hanya soal mesin pengolahan air, melainkan juga keterbatasan sumber air baku dan kondisi sistem distribusi. Karena itu PERUMDAM memandang penambahan sumber air baru sebagai langkah penting untuk mengurangi jurang antara produksi dan kebutuhan.
Walau demikian, detail teknis dan jadwal pelaksanaan penambahan sumber air baru belum dipaparkan secara rinci oleh pihak PERUMDAM dalam keterangan yang disampaikan pada Kamis, 27 Agustus 2026. Hingga saat ini, distribusi bergilir tetap diberlakukan sesuai kemampuan produksi yang tersedia.
Dampak bagi warga dan pengelolaan rumah tangga
Akibat frekuensi distribusi yang berbeda antarzona, warga di beberapa kecamatan harus menyesuaikan kegiatan harian, penyimpanan air, serta kemungkinan peningkatan biaya untuk membeli air cadangan jika diperlukan. Ketidakpastian jadwal distribusi berimplikasi pada praktik sanitasi dan kebersihan rumah tangga, terutama pada musim kemarau ketika kebutuhan air domestik cenderung meningkat.
PERUMDAM menyatakan akan terus menata distribusi dan mencari solusi teknis untuk meningkatkan pasokan. Sementara itu, warga diimbau untuk mengelola penggunaan air secara hemat dan memanfaatkan titik pelayanan yang tersedia di zona masing-masing.
Penutup: Kondisi ini menegaskan perlunya sinergi antara penyedia layanan, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk mencari solusi jangka pendek dan jangka panjang terhadap ketersediaan air bersih di Baubau. Penambahan sumber air dan perbaikan jaringan distribusi menjadi kunci mengarah pada pelayanan 24 jam yang merata.