Kementerian Pertanian berkomitmen mempercepat pengembangan kawasan durian di Sulawesi Tengah dengan mengirimkan bantuan bibit dan sarana produksi sebagai bagian dari program untuk memperkuat rantai pasok dan mendorong ekspor komoditas unggulan daerah.
Bantuan bibit dan dukungan teknis
Direktur Buah dan Florikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Fausiah T. Ladja, menyatakan bahwa tahap pertama bantuan berupa 14.000 batang bibit durian bersertifikat telah dikirim untuk kebutuhan pengembangan lahan seluas 140 hektare. Distribusi bibit tersebut mencakup sentra-sentra durian di Kabupaten Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-una, Tolitoli, Sigi, dan Donggala.
"Kami telah mengirimkan 14 ribu batang bibit durian bersertifikat sebagai bagian dari upaya percepatan pengembangan kawasan durian di Sulteng,"
Selain bibit, program paket pengembangan kawasan dari Direktorat Jenderal Hortikultura juga dilengkapi dengan sarana produksi; Fausiah menyebutkan adanya bantuan pupuk organik. Menurut data yang disampaikan, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura setempat mengonfirmasi bahwa 14.000 bibit dan 210 kilogram pupuk organik sudah tiba di Sulawesi Tengah.
Alasan memilih Sulteng sebagai kawasan durian
Fausiah menjelaskan bahwa letak geografis Sulawesi Tengah dinilai potensial untuk pengembangan hortikultura, terutama durian. Kondisi agroklimat provinsi tersebut dianggap cocok untuk menjadi salah satu sentra produsen durian yang tidak hanya memenuhi pasar domestik, tetapi juga mendukung kegiatan ekspor.
Ia menyatakan harapan agar bantuan yang diberikan dapat dirawat dan dikelola dengan baik oleh petani sehingga memberi manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi daerah dan kontribusi bagi perekonomian nasional.
Ekspor durian beku ke China
Saat ini Sulawesi Tengah telah melakukan ekspor durian beku (frozen) jenis Montong ke China melalui Pelabuhan Pantoloan, Kota Palu. Berdasarkan data Badan Karantina Indonesia yang dikemukakan pada acara, sejak Januari hingga Juli 2026 tercatat 272 kontainer durian beku yang diekspor dengan total berat 7.344 ton. Dilaporkan nilai komoditas mencapai sekitar Rp2,5 miliar.
| Periode | Kontainer | Tonase |
|---|---|---|
| Januari–Juli 2026 | 272 | 7.344 |
Implikasi ekonomi lokal
Pengembangan kawasan durian yang didukung oleh bibit bersertifikat dan sarana produksi diharapkan meningkatkan produktivitas dan mutu buah sehingga memenuhi standar ekspor. Aktivitas ini dapat membuka peluang pendapatan baru bagi petani, memperluas lapangan kerja di hulu dan hilir, serta memperkuat peran Sulawesi Tengah dalam rantai ekspor hortikultura nasional.
Namun keberhasilan program bergantung pada beberapa faktor kunci, antara lain tata kelola pembibitan dan distribusi, adopsi praktik budidaya yang baik oleh petani, ketersediaan infrastruktur pascapanen, serta akses pasar dan kepastian logistik untuk kegiatan ekspor.
Langkah lanjutan dan rekomendasi
Dalam konteks percepatan kawasan durian, hal-hal yang perlu menjadi perhatian pemangku kepentingan meliputi:
- Pelatihan teknis dan pendampingan budidaya bagi petani penerima bibit.
- Penguatan fasilitas pascapanen dan pengolahan untuk menjaga mutu buah ekspor.
- Koordinasi antarinstansi untuk memastikan alur logistik dan kepatuhan karantina.
- Pemetaan lahan dan varietas yang sesuai agar produktivitas optimal.
Pernyataan resmi dari Kementan dan data karantina menunjukkan arah kebijakan yang mengutamakan komoditas unggulan lokal sebagai penggerak ekonomi. Bagi Sulawesi Tengah, durian berpotensi menjadi sumber devisa dan peningkatan kesejahteraan apabila dukungan teknis dan kelembagaan dijaga konsistensinya.
Pelaksanaan program ini akan menjadi salah satu indikator kemampuan daerah untuk mentransformasikan sumber daya alam menjadi nilai ekonomi melalui penguatan klaster pertanian yang terintegrasi.