NUSA TENGGARA TIMUR — Gempa yang mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya sejak 15 Agustus 2026 telah menimbulkan dampak luas di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 10 September 2026 pukul 07.00 WIB, korban meninggal mencapai 136 orang, sementara ribuan warga mengalami luka dan puluhan ribu mengungsi.
Data korban dan pengungsi
BNPB melaporkan sebanyak 1.776 orang luka-luka dan 56.577 warga mengungsi sebagai akibat guncangan berkepanjangan. Angka-angka tersebut merupakan akumulasi dampak gempa yang berpusat di wilayah Flores dan berdampak lintas kabupaten.
"Hingga hari ini, kami menyampaikan jumlah korban yang langsung itu ada 48 (orang) dan yang secara tidak langsung meninggal ada 88 (orang),"
— Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Kerusakan bangunan dan infrastruktur
BNPB mencatat kerusakan signifikan pada hunian dan fasilitas publik. Total unit rumah yang terdampak mencapai 102.384, mencakup kategori rusak berat, sedang, dan ringan. Selain itu, berbagai sarana publik ikut rusak sehingga memperpanjang masa pemulihan bagi masyarakat terdampak.
Rincian kerusakan fasilitas publik menurut laporan BNPB meliputi:
- 712 fasilitas pendidikan rusak;
- 157 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan;
- 175 titik jalan terdampak;
- 620 rumah ibadah rusak;
- 663 unit kantor rusak;
- 47 saluran irigasi turut terdampak.
| Jenis Data | Jumlah |
|---|---|
| Kematian | 136 |
| Korban luka | 1.776 |
| Pengungsi | 56.577 |
| Unit rumah rusak | 102.384 |
Proses verifikasi dan langkah selanjutnya
BNPB menyatakan sedang melakukan verifikasi pendataan terhadap bangunan yang rusak, dan menargetkan proses ini selesai dalam pekan berikutnya. Verifikasi diperlukan untuk menentukan penanganan lanjut, termasuk prioritas perbaikan, bantuan rekonstruksi, serta alokasi sumber daya dari pemerintah pusat dan daerah.
Verifikasi juga penting untuk memetakan kebutuhan mendesak di lapangan, seperti hunian sementara, layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, dan dukungan psikososial bagi penyintas. Sampai data terakhir, sejumlah organisasi kemanusiaan dan lembaga pemerintah telah membuka dapur umum dan pos layanan di titik-titik pengungsian.
Dampak pada pelayanan publik dan pertanian
Kerusakan yang meluas pada fasilitas pendidikan dan kesehatan mengganggu akses layanan dasar bagi komunitas terdampak. Sekolah yang rusak memaksa anak-anak belajar dari pengungsian atau menunda pembelajaran, sementara kerusakan di fasilitas kesehatan menambah beban layanan medis di pos sementara.
Kerusakan saluran irigasi dan infrastruktur pertanian juga berpotensi mengganggu musim tanam dan ketersediaan pangan lokal jika tidak cepat ditangani. Pemerintah daerah bersama mitra penanggulangan bencana perlu segera menyusun langkah mitigasi untuk mencegah krisis pangan berkepanjangan.
Apa yang dapat dilakukan masyarakat
Warga di wilayah tidak terdampak langsung dapat membantu melalui beberapa cara terkoordinasi:
- Memberikan donasi melalui mekanisme resmi pemerintah atau lembaga kemanusiaan yang terverifikasi;
- Mengikuti arahan resmi mengenai pengiriman barang, agar tidak menambah beban logistik di lokasi bencana;
- Mendukung upaya relawan lokal dan memprioritaskan kebutuhan esensial seperti makanan, air bersih, selimut, dan obat-obatan;
- Memantau informasi resmi BNPB dan pemerintah daerah untuk perkembangan bantuan dan kebutuhan lapangan.
Perkembangan situasi di lapangan masih dinamis. BNPB dan pemerintah daerah terus memperbarui data dan menetapkan prioritas tanggap darurat untuk memulihkan kondisi masyarakat terdampak. Masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi agar bantuan terkoordinasi dan sasaran penyaluran tepat.
Catatan: Data dalam laporan ini berdasarkan rilis BNPB per 10 September 2026 pukul 07.00 WIB. Perkembangan angka korban dan kerusakan dapat berubah seiring proses verifikasi lapangan.