Evakuasi medis dari Pulau Palue
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memfasilitasi evakuasi medis udara bagi Yohanis Riba (75), warga Desa Nitunhlea, Kecamatan Palue, yang menjadi korban gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo di Flores. Korban diterbangkan dari Bandara Frans Seda Maumere menuju Rumah Sakit Umum Daerah TC Hillers Maumere untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.
Kondisi korban dan proses rujukan
Berdasarkan keterangan BNPB, Yohanis mengalami memar pada kedua kaki setelah tertimpa reruntuhan bangunan ketika gempa terjadi lebih dari sepekan lalu. Korban sempat mendapatkan perawatan awal di fasilitas kesehatan setempat di Pulau Palue, namun kondisi memerlukan rujukan ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih memadai.
Pelaksanaan evakuasi
Untuk mempercepat pemindahan dari pulau terisolasi, BNPB bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia dan menyiagakan helikopter yang lepas landas dari Pos Pendamping Nasional (Pospenas) BNPB di Bandara Frans Seda, Maumere. Evakuasi utdi lakukan pada Minggu, 23 Agustus 2026, dan korban tiba di Maumere sebelum dirujuk ke RSUD TC Hillers Maumere untuk penanganan selanjutnya.
"Evakuasi dilakukan dengan mengedepankan kecepatan dan keselamatan pasien agar penyintas mendapatkan perawatan medis yang lebih optimal,"
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, sebagai bagian dari penjelasan mengenai komitmen penanganan darurat yang inklusif, terutama bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan terpencil.
Sinergi lintas sektor
BNPB menegaskan bahwa proses evakuasi ini merupakan hasil koordinasi antara berbagai pihak, termasuk:
- BNPB sebagai fasilitator evakuasi medis;
- Polri yang membantu penyediaan helikopter dan keamanan operasi;
- Tenaga kesehatan di fasilitas setempat dan RSUD TC Hillers Maumere yang menangani perawatan awal dan rujukan;
- Relawan dan unsur pemerintahan daerah yang mendukung proses pemulangan dan rujukan.
BNPB menyatakan akan terus memperkuat sinergi lintas sektor untuk memastikan kebutuhan korban bencana di wilayah kepulauan tertangani secara cepat, tepat, dan manusiawi. Dalam konteks Maumere, peran Bandara Frans Seda dan RSUD TC Hillers menjadi sentral untuk layanan rujukan bagi pulau-pulau terdekat seperti Palue.
Dampak bagi layanan kesehatan dan masyarakat Maumere
Kasus ini menyoroti beberapa hal penting bagi warga Maumere:
- Peran strategis RSUD TC Hillers Maumere sebagai pusat rujukan medis regional bagi korban dari pulau-pulau terpencil;
- Ketergantungan evakuasi medis pada ketersediaan sarana udara (helikopter) dan kesiagaan Pospenas BNPB di Bandara Frans Seda;
- Kebutuhan koordinasi cepat antarinstansi saat menghadapi kejadian darurat pascagempa, terutama untuk lansia dan pasien dengan cedera serius.
Meski rujukan telah dilakukan, BNPB menekankan bahwa upaya penanganan tidak berhenti pada evakuasi. Layanan lanjutan, rehabilitasi, dan dukungan sosial diperlukan untuk pemulihan fisik dan psikososial penyintas.
Data ringkas evakuasi
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Nama korban | Yohanis Riba |
| Usia | 75 tahun |
| Asal | Desa Nitunhlea, Kecamatan Palue |
| Penyebab cedera | Memar pada kedua kaki akibat tertimpa reruntuhan bangunan |
| Lokasi evakuasi | Bandara Frans Seda, Maumere |
| Rujukan | RSUD TC Hillers Maumere |
| Tanggal evakuasi | Minggu, 23 Agustus 2026 |
Bagi keluarga korban dan masyarakat Palue, kehadiran fasilitas rujukan di Maumere menjadi harapan utama ketika kejadian bencana memerlukan penanganan medis lebih lanjut. Ke depan, koordinasi, kesiapsiagaan, dan penguatan layanan kesehatan rujukan di Maumere perlu terus ditingkatkan agar respons terhadap korban di pulau-pulau terpencil lebih cepat dan efektif.
Pelaporan ini berupaya memberikan gambaran faktual tentang proses evakuasi dan peran aktor-aktor terkait. Pemberitaan lanjutan akan mengikuti perkembangan kondisi pasien dan upaya pemulihan masyarakat terdampak.