BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan hampir seluruh wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara berada pada kondisi sangat mudah terbakar memasuki awal September 2026. Data BMKG yang berlaku per 1 September 2026 menunjukkan nilai Fine Fuel Moisture Code (FFMC) sebagian besar wilayah di atas 82, yang menandakan bahan bakar permukaan seperti alang-alang dan daun kering berada dalam kondisi sangat kering dan mudah tersulut.
Indikator kekeringan bahan bakar
FFMC adalah salah satu indikator yang digunakan untuk menggambarkan kelembapan dan tingkat kemudahan terbakar bahan bakar ringan pada lapisan permukaan tanah. Dalam klasifikasi BMKG, nilai FFMC:
- 0–72: kategori sulit terbakar
- 73–77: cukup sulit terbakar
- 78–82: mudah terbakar
- >82: sangat mudah terbakar
Berdasarkan peta BMKG tanggal 1 September 2026, hampir seluruh wilayah Sultra masuk kategori nilai di atas 82. Hanya sebagian wilayah Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara yang menunjukkan tingkat kemudahan terbakar lebih rendah dibanding daerah lain di provinsi tersebut.
Jumlah titik panas dan sebaran
BMKG juga mencatat keberadaan titik panas (hotspot) sebagai indikator potensi kebakaran. Pada pemantauan 30 Agustus 2026, antara pukul 00.00 hingga 23.00 WIB, tercatat 117 titik panas di wilayah Sulawesi Tenggara dengan tingkat kepercayaan sebagai berikut:
- 105 titik: tingkat kepercayaan menengah
- 10 titik: tingkat kepercayaan rendah
- 2 titik: tingkat kepercayaan tinggi
Sebaran titik panas menurut kabupaten/kota tercatat terbanyak di beberapa daerah sebagai berikut:
| Daerah | Jumlah hotspot |
|---|---|
| Konawe | 42 |
| Bombana | 31 |
| Muna | 12 |
| Konawe Selatan | 10 |
| Konawe Utara | 10 |
| Kolaka Timur | 4 |
| Kolaka | 3 |
| Buton Selatan | 2 |
| Buton Utara | 2 |
Dampak potensial dan kerawanan lokal
Kondisi FFMC yang tinggi mencerminkan tingkat kerentanan lahan gambut atau vegetasi kering terhadap percikan api sekecil apa pun. Di Sulawesi Tenggara, vegetasi alang-alang, semak, dan lapisan dedaunan kering pada permukaan tanah menjadi bahan bakar utama yang mempercepat penyebaran api. Wilayah yang mencatat hotspot, khususnya Konawe dan Bombana, perlu menjadi fokus pemantauan karena jumlah titik panas relatif besar dan dapat berkembang menjadi kebakaran lahan bila tidak segera ditangani.
Imbauan kesiapsiagaan
Masyarakat di daerah rawan diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melakukan aktivitas yang berpotensi menghasilkan percikan api, seperti pembakaran sampah, pembersihan lahan dengan cara bakar, atau penggunaan alat yang menghasilkan percikan. Pemerintah daerah, petugas pemadam kebakaran, dan instansi terkait perlu menyiapkan langkah mitigasi dan respons cepat mengingat kondisi FFMC yang menunjukkan kerawanan tinggi.
Langkah yang dapat dilakukan
- Perkuat patroli dan pemantauan di daerah dengan hotspot berulang.
- Hentikan praktik pembakaran lahan tanpa pengawasan resmi.
- Siapkan sarana pemadaman awal di titik-titik strategis, seperti alat pemadam dan akses air.
- Tingkatkan sosialisasi mitigasi kebakaran kepada masyarakat lokal, terutama di musim kemarau.
Data BMKG ini menjadi peringatan dini penting bagi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara. Pemantauan dan tindakan cepat dapat mencegah titik panas berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas serta meminimalkan dampak terhadap ekosistem, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.