Kendari — Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara menggencarkan upaya pelestarian bahasa daerah yang dinilai kian tertekan oleh perubahan sosial dan perkembangan zaman. Selain mengandalkan kegiatan kebahasaan, lembaga ini menilai perlindungan bahasa memerlukan dukungan regulasi dari pemerintah daerah serta penguatan proses pembelajaran di lingkungan sekolah.
Peran Balai Bahasa dan tuntutan regulasi
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Dewi Pridayanti, menyatakan pemerintah kabupaten dan kota memegang peranan penting agar bahasa daerah tetap hidup dan dipakai oleh generasi muda. Menurut Dewi, Balai Bahasa bertindak sebagai fasilitator sekaligus pemantik bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pelindungan serta program pembinaan bahasa.
"Dari Kantor Bahasa ini memang mempunyai tugas dan fungsi ada tiga, yaitu pengembangan, perlindungan, dan pembinaan bahasa dan sastra Indonesia maupun daerah yang ada di wilayah kerja masing-masing,"
Ia mengingatkan bahwa tanpa kerangka aturan yang jelas — misalnya peraturan daerah tentang integrasi bahasa daerah dalam kurikulum atau kebijakan pendukung tenaga pendidik — upaya pelestarian berisiko bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan.
Kekayaan linguistik Sultra dan tantangannya
Balai Bahasa mencatat terdapat sedikitnya sembilan bahasa daerah yang termasuk bahasa asli masyarakat Sulawesi Tenggara. Di samping itu, wilayah ini juga menerima perkembangan bahasa pendatang seperti Bugis, Bajo, Sunda, Bali, dan Sasak.
Keberagaman tersebut menjadi modal budaya sekaligus tantangan. Pergeseran bahasa ke bahasa nasional maupun bahasa asing, urbanisasi, serta keterbatasan materi ajar dan sumber daya manusia pengajar bahasa daerah menjadi faktor yang menggerus penggunaan bahasa ibu di kalangan anak muda.
Program Revitalisasi dan fokus tahun ini
Salah satu langkah konkret Balai Bahasa adalah pelaksanaan program Revitalisasi Bahasa Daerah melalui kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu. Pada tahun ini program difokuskan pada tiga bahasa daerah: Muna, Wolio, dan Tolaki. Menurut Dewi, pendampingan untuk bahasa Tolaki sudah memasuki tahun ketiga.
Pendekatan yang dijalankan meliputi pelatihan bagi guru bahasa daerah dan komunitas agar menjadi penggerak pembelajaran di lingkungan masing-masing. Para peserta pelatihan diharapkan dapat menularkan keterampilan dan metode yang diperoleh ke rekan sejawat serta peserta didik.
- Pelatihan guru bahasa daerah dan penguatan komunitas
- Monitoring dan apresiasi melalui festival tingkat kabupaten hingga provinsi
- Penyusunan materi ajar dan metode pembelajaran yang relevan
Agenda Festival Tunas Bahasa Ibu
Balai Bahasa merencanakan penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara secara daring pada Oktober 2026. Sebelum menuju tingkat provinsi, peserta akan menjalani seleksi di tingkat kabupaten dan kota. Festival dijadikan wahana evaluasi hasil pembinaan sekaligus momen apresiasi terhadap keberlangsungan bahasa ibu di komunitas lokal.
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Jumlah bahasa asli | 9 bahasa |
| Bahasa fokus 2026 | Muna, Wolio, Tolaki |
| Pelaksanaan festival | Oktober 2026 (daring) |
Implikasi bagi pendidikan dan komunitas
Penguatan pembelajaran bahasa daerah di sekolah dapat berbentuk muatan lokal, ekstra kurikuler, atau integrasi bahan ajar ke mata pelajaran yang relevan. Namun, pelaksanaan praktisnya bergantung pada ketersediaan guru yang terampil, materi pembelajaran yang disesuaikan, serta dukungan kebijakan dari pemerintah daerah.
Balai Bahasa menaruh harapan agar kerja sama lintas instansi—dari dinas pendidikan hingga pemerintahan kabupaten/kota—diperkuat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari dan proses pendidikan.
Pentingnya dokumentasi, digitalisasi materi, dan pelibatan generasi muda lewat teknologi juga menjadi bagian dari strategi agar bahasa daerah tidak hanya hidup sebagai warisan tetapi tetap digunakan secara aktif. Balai Bahasa akan terus memantau hasil pembinaan dan mengapresiasi inisiatif yang berhasil meningkatkan penggunaan bahasa ibu di lingkup komunitas dan sekolah.
Dengan kombinasi kebijakan, program pelatihan, dan kegiatan apresiasi, Balai Bahasa berharap bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Tenggara dapat mempertahankan fungsinya dan diwariskan kepada generasi berikutnya.