Doa Bersama di Tengah Kekeringan
Pemerintah Provinsi Jambi menyelenggarakan Salat Istisqa pada Rabu pagi di Lapangan Garuda, Kantor Gubernur Jambi sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama meminta hujan, setelah wilayah ini hampir mengalami lima bulan dilanda musim kemarau. Kegiatan dihadiri oleh jajaran Pemprov, aparatur sipil negara (ASN), dan warga setempat.
Penegasan Gubernur soal Dampak Kemarau
Gubernur Jambi, Al Haris, menyatakan pelaksanaan Salat Istisqa merupakan usaha kolektif untuk merespons situasi kemarau panjang yang mulai memengaruhi kehidupan masyarakat. Ia menekankan bahwa efek kemarau tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air, tetapi juga berdampak pada peningkatan suhu, kualitas udara yang menurun, serta meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.
“Sudah lima bulan kita dilanda kemarau. Saat ini kita mulai merasakan dampaknya, termasuk udara yang semakin tidak sehat dan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah,”
Gubernur Al Haris mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menguatkan ikhtiar lahiriah—seperti upaya pencegahan kebakaran dan pengelolaan air—serta ikhtiar batin melalui doa bersama. Ia juga meminta agar warga menjaga lingkungan untuk mengurangi risiko kebakaran dan dampak kemarau.
Partisipasi Pemprov dan Tokoh Keagamaan
Selain pejabat pemerintahan, acara Salat Istisqa ini dihadiri tokoh agama, termasuk Pimpinan Pondok Pesantren Darul Arifin, KH Zainul Arifin, yang memberikan penguatan keagamaan selama pelaksanaan doa bersama. Kehadiran pemuka agama itu menegaskan karakter kegiatan sebagai kombinasi antara respons kebijakan publik dan praktik keagamaan yang memberi kenyamanan sosial bagi masyarakat terdampak.
Imbauan Kewaspadaan terhadap Karhutla
Gubernur juga menyoroti perlunya kewaspadaan dan kerja bersama untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan. Kondisi kemarau panjang meningkatkan potensi titik api di lahan gambut dan hutan; oleh karena itu, koordinasi antarinstansi dan partisipasi masyarakat sangat penting dalam upaya pencegahan.
- Lokasi: Lapangan Garuda, Kantor Gubernur Jambi
- Peserta: Jajaran Pemprov Jambi, ASN, tokoh agama, masyarakat
- Tujuan: Doa bersama memohon hujan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla
Respons Pemerintah dan Langkah Lanjutan
Pelaksanaan Salat Istisqa menjadi salah satu langkah simbolis yang diambil pemerintah daerah untuk merespons kekeringan. Secara administratif, pemerintah daerah perlu melanjutkan dengan kebijakan teknis seperti monitoring kualitas udara, pengelolaan sumber air, dan koordinasi penanggulangan karhutla bersama instansi terkait. Upaya pencegahan kebakaran, patroli wilayah rawan, serta sosialisasi kepada masyarakat pemilik lahan adalah aspek kunci yang mesti dijalankan agar risiko tidak berubah menjadi bencana lebih besar.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Durasi kemarau | Hampir lima bulan (dilaporkan oleh Pemprov Jambi) |
| Pihak yang hadir | Jajaran Pemprov, ASN, tokoh agama, masyarakat |
Warga yang mengalami dampak harus mendapat perhatian melalui program bantuan yang relevan, seperti distribusi air bersih bila diperlukan dan sosialisasi mitigasi risiko karhutla. Sementara itu, doa bersama seperti Salat Istisqa ini berfungsi sosial untuk mempererat solidaritas masyarakat dalam menghadapi situasi alamiah yang menekan kehidupan sehari-hari.
Dengan kombinasi langkah spiritual dan teknis, Pemprov berharap kondisi kemarau segera mereda dan curah hujan kembali normal sehingga risiko kesehatan, lingkungan, dan ekonomi bagi masyarakat Jambi dapat diminimalkan.