Pemerintah daerah konsolidasikan program pendampingan ASI
Pemerintah Kabupaten Jombang menegaskan komitmen memperkuat perlindungan kesehatan ibu dan anak melalui Peringatan Puncak Pekan ASI Sedunia 2026 yang digelar di Pendopo Kabupaten Jombang, Kamis, 10 September 2026. Acara bertema "Prioritaskan Menyusui: Ciptakan Sistem Dukungan yang Berkelanjutan" dihadiri pejabat teras daerah dan ratusan perwakilan kader serta organisasi profesi.
Bupati Jombang menegaskan bahwa pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan merupakan investasi awal bagi tumbuh kembang anak sekaligus salah satu strategi untuk menekan angka stunting di kabupaten. Dalam arahannya, Bupati menekankan bahwa keberhasilan menyusui bukan tanggung jawab ibu sendirian, melainkan membutuhkan dukungan keluarga, tenaga kesehatan, kader, dan lingkungan yang aman.
Data capaian dan target
Pemerintah daerah menyampaikan capaian pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Jombang mencapai 73,1 persen pada periode Januari–Juni 2026. Angka ini melampaui target yang ditetapkan 61 persen untuk tahun 2025. Meski demikian, Pemkab mengakui masih terdapat tantangan pemerataan pelayanan di 21 kecamatan sehingga perlu strategi lanjutan untuk mengikis kesenjangan antarwilayah.
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Capaian ASI Eksklusif (Jan–Jun 2026) | 73,1% |
| Target ASI Eksklusif (2025) | 61% |
| Jumlah kecamatan | 21 |
Integrasi tiga program inovatif daerah
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, M.KP, menyatakan peringatan puncak dipakai sebagai momentum mengonsolidasikan tiga program inovatif menjadi satu sistem pendampingan terpadu. Tiga program yang disebutkan adalah:
- KP-ASI (Kelompok Pendukung ASI), ruang edukasi dan saling menguatkan antar-ibu yang berjalan sejak 2011.
- YUKENSI (Paguyuban Kakek Nenek ASI), inovasi berbasis keluarga sejak 2017 yang mengoptimalkan peran kakek dan nenek dalam mendukung ibu menyusui.
- KEMPING ASIK (Kader PKK Pendamping ASI Eksklusif), gerakan pendampingan kader PKK untuk memperkuat layanan di tingkat akar rumput.
"Keberhasilan menyusui tidak dapat menjadi tanggung jawab ibu seorang diri. Ibu membutuhkan dukungan dari keluarga, terutama suami, pendampingan tenaga kesehatan dan kader, serta lingkungan yang aman,"
Dengan menyatukan ketiga program tersebut, Dinas Kesehatan bermaksud menciptakan mekanisme pendampingan yang berkelanjutan dan terkoordinasi — dari keluarga sampai fasilitas kesehatan — sehingga dukungan terhadap ibu menyusui menjadi lebih sistematis dan merata.
Partisipasi lintas sektor dan langkah ke depan
Acara yang dihadiri Bupati, Wakil Bupati, Sekdakab, Ketua TP PKK, staf ahli, kepala OPD terkait, jajaran Dinas Kesehatan, kader, organisasi profesi, dan lintas sektor menjadi ajang konsolidasi lintas pemangku kepentingan. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan upaya kolektif diambil untuk memastikan program berjalan tidak hanya sebagai kegiatan seremonial tetapi berubah menjadi kebijakan pelayanan berkelanjutan.
Langkah ke depan yang disorot adalah pemerataan dukungan di seluruh kecamatan serta penguatan kapasitas kader dan tenaga kesehatan di lapangan. Konsolidasi program diharapkan mampu menutup kesenjangan capaian antarwilayah dan mendukung target penurunan stunting melalui peningkatan ASI eksklusif.
Dengan fokus pada sistem dukungan keluarga dan komunitas, Pemkab Jombang menempatkan pemberian ASI eksklusif sebagai bagian dari strategi kesehatan publik jangka panjang. Realisasi program terpadu ini akan menjadi tolok ukur kemampuan daerah menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.