Langkah strategis menghadapi risiko kesehatan akibat perubahan iklim
Pemerintah Kota Magelang meningkatkan perhatian terhadap dampak perubahan iklim pada kesehatan masyarakat dan menempatkan kelurahan sebagai garda terdepan dalam upaya mitigasi dan adaptasi. Pernyataan ini disampaikan oleh Wali Kota Damar Prasetyono pada Kamis, 10 September 2026 di Magelang.
Menurut Wali Kota, perubahan iklim tidak semata persoalan lingkungan tetapi juga persoalan kesehatan, karena perubahan kondisi lingkungan dapat menimbulkan berbagai risiko terhadap masyarakat. Untuk itu, pihak Pemerintah Kota mendorong implementasi program Desa/Kelurahan Sehat Iklim (DEKSI) yang digagas Dinas Kesehatan setempat dan membutuhkan keterlibatan lintas sektor.
"DEKSI bukan sekadar program lingkungan. Ini adalah upaya membangun ketahanan kesehatan masyarakat."
Peran lintas sektor dan pelaku lokal
Pelaksanaan DEKSI akan melibatkan beragam aktor di tingkat lokal, antara lain puskesmas, kecamatan, kelurahan, organisasi perangkat daerah (OPD), kader, serta komunitas. Pendekatan ini menekankan pemetaan risiko lingkungan dan identifikasi kelompok yang paling rentan agar intervensi dapat tepat sasaran.
- Puskesmas: pemantauan kesehatan masyarakat dan deteksi dini penyakit terkait iklim.
- Kecamatan dan kelurahan: koordinasi kegiatan adaptasi di tingkat komunitas, termasuk edukasi dan respon cepat.
- OPD terkait: penyusunan kebijakan dan dukungan operasional.
- Kader dan komunitas: pelaksanaan program berbasis masyarakat, penggerakan gotong royong, serta pemanfaatan kearifan lokal.
Fokus pada kelompok rentan dan solusi kontekstual
Wali Kota menegaskan perlunya perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti anak, perempuan, lanjut usia, dan penyandang disabilitas. Pendekatan adaptasi yang diusung bersifat kontekstual dan inklusif, memadukan kearifan lokal, gotong royong, serta teknologi tepat guna untuk membangun ketahanan di tingkat masyarakat.
"Solusi tidak harus mahal. Manfaatkan sumber daya lokal untuk melindungi mereka yang paling rentan,"
Pernyataan ini menegaskan orientasi program pada pemanfaatan sumber daya lokal dan intervensi yang terjangkau namun efektif. Pendekatan tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan komunitas dalam mengenali risiko, memetakan kerentanan, dan melaksanakan tindakan adaptasi yang berkelanjutan.
Implikasi bagi layanan kesehatan dan kebijakan lokal
Integrasi isu perubahan iklim ke dalam perencanaan kesehatan di tingkat kota membuka kebutuhan akan beberapa langkah berikut:
- Penguatan kapasitas puskesmas untuk menangani penyakit yang meningkat akibat perubahan iklim.
- Penyusunan peta kerentanan yang terperinci pada level kelurahan.
- Keterlibatan aktif kader dan komunitas dalam edukasi dan respons cepat.
- Kebijakan lintas sektoral yang mendukung tindakan mitigasi dan adaptasi berbasis bukti.
Langkah-langkah ini memerlukan koordinasi antar-OPD, penguatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan, serta dukungan masyarakat untuk menerapkan praktik-praktik adaptif di tingkat lokal. Dengan menjadikan kelurahan sebagai garda terdepan, Pemerintah Kota Magelang berharap penanganan dampak kesehatan akibat perubahan iklim menjadi lebih responsif dan berorientasi pada perlindungan kelompok paling rentan.
| Pelaku | Peran utama |
|---|---|
| Puskesmas | Deteksi dini, pemantauan kesehatan, intervensi kesehatan masyarakat |
| Kelurahan | Koordinasi komunitas, pemetaan kerentanan, edukasi lokal |
| OPD | Perumusan kebijakan dan dukungan sumber daya |
| Kader & komunitas | Pelaksanaan program, gotong royong, pemanfaatan kearifan lokal |
Pemerintah Kota Magelang mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk segera mengimplementasikan langkah-langkah yang telah disepakati dalam rangka memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat menghadapi dinamika iklim. Upaya ini diharapkan tidak hanya mengurangi risiko kesehatan jangka pendek tetapi juga membangun kapasitas adaptasi jangka panjang di tingkat kelurahan dan komunitas.