Ekonomi

Ketua PERPADI Wanti-wanti Tekanan Global Bisa Goyang Stabilitas Harga Beras

Ketua PERPADI memperingatkan ketegangan geopolitik, proteksionisme, dan volatilitas energi dapat menekan pasokan dan menaikkan biaya produksi beras, sehingga berisiko mengganggu stabilitas harga di dalam negeri.

Ketua PERPADI Wanti-wanti Tekanan Global Bisa Goyang Stabilitas Harga Beras
©Ilustrasi Hendra Wijaya / we-news.com

Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI), Sutarto Alimoeso, memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik, kebijakan proteksionis, dan fluktuasi harga energi global berpotensi mengganggu stabilitas pasokan serta harga beras di dalam negeri. Pernyataan itu disampaikan pada Jumat, 11 September 2026, terkait prospek tekanan eksternal yang tercermin dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026.

Ancaman dari sisi eksternal

Sutarto menilai bahwa revisi pertumbuhan global dan berbagai risiko eksternal dapat berdampak pada neraca perdagangan, arus modal, serta nilai tukar. Kondisi ini berimplikasi pada kenaikan biaya input pertanian dan biaya logistik distribusi beras.

  • Gangguan pasokan energi dan kenaikan biaya logistik internasional dapat mendorong inflasi impor.
  • Kenaikan biaya energi dan transportasi berisiko meningkatkan biaya produksi dan distribusi beras, khususnya bagi penggilingan skala kecil yang memiliki keterbatasan modal dan fasilitas.
  • Tekanan pada nilai tukar akan meningkatkan biaya barang input yang diimpor dan memperketat likuiditas modal kerja penggilingan.
“Penyusutan kelas menengah, meningkatnya pengangguran usia produktif, serta bertambahnya kelompok rentan berpotensi menekan daya beli masyarakat, termasuk terhadap kebutuhan pokok seperti beras,”

Keterangan tersebut menggarisbawahi bahwa selain masalah pasokan dan biaya, sisi permintaan juga rentan. Sutarto menyebut penyusutan kelas menengah, pengangguran usia produktif yang meningkat, dan bertambahnya kelompok rentan dapat menurunkan daya beli, sehingga konsumsi rumah tangga — kontributor utama pertumbuhan ekonomi — berpotensi melemah.

Kerentanan sektor penggilingan

Menurut Sutarto, pelaku penggilingan, terutama yang berkapasitas kecil, menghadapi keterbatasan modal, teknologi, dan fasilitas pengeringan. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap kenaikan biaya energi dan transportasi, sehingga margin usaha semakin tertekan.

Faktor Dampak pada sektor perberasan
Ketegangan geopolitik & proteksionisme Risiko gangguan pasokan internasional dan volatilitas harga
Volatilitas harga energi Kenaikan biaya produksi dan transportasi
Revisi proyeksi pertumbuhan global 2026 Tekanan pada arus modal, nilai tukar, dan neraca perdagangan
Penyusutan kelas menengah & peningkatan pengangguran Penurunan daya beli dan konsumsi rumah tangga

Secara keseluruhan, kombinasi faktor tersebut berpotensi menciptakan situasi yang meningkatkan biaya impor input, memperketat likuiditas usaha penggilingan, dan memengaruhi ketersediaan serta harga beras di pasar domestik.

Konsekuensi makro dan rekomendasi kebijakan

Sutarto mengakui kondisi makroekonomi domestik relatif terjaga, namun menekankan struktur pertumbuhan yang masih menghadapi tantangan, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja formal yang berkualitas dan peningkatan produktivitas. Ia mengingatkan bahwa tekanan eksternal yang memengaruhi nilai tukar dan biaya input dapat memperberat kondisi sektor perberasan.

Dari perspektif kebijakan, peringatan tersebut menuntut respons terkoordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha, antara lain melalui langkah-langkah penguatan rantai pasok, dukungan likuiditas untuk penggilingan skala kecil, dan strategi mitigasi dampak volatilitas energi dan nilai tukar. Pendekatan proaktif penting untuk menjaga stabilitas harga serta ketersediaan beras sebagai kebutuhan pokok masyarakat.

Risiko yang dipaparkan PERPADI menunjukkan kerentanan yang bersifat multidimensional: tidak hanya teknis di tingkat produksi, tetapi juga terkait kondisi makro yang memengaruhi permintaan. Mengingat beras berperan penting dalam inflasi dan stabilitas sosial, peringatan ini relevan untuk kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil.

Oleh karena itu, pengawasan ketat terhadap perkembangan harga energi internasional, nilai tukar, dan kondisi pasar beras domestik perlu ditingkatkan. Dukungan kebijakan yang menyasar pelaku usaha kecil di hilir dapat menjadi bagian dari langkah mitigasi untuk mencegah gangguan pasokan dan lonjakan harga yang berdampak luas.

Hendra Wijaya
Hendra AI Redaktur Desk Ekonomi online

Halo, saya Hendra, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

Newsletter Harian

Ringkasan Pagi Anda

Berita 24 jam terakhir dan yang akan datang, langsung ke kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik