Kenyam, Nduga — Dua distrik di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan, dilaporkan mengalami kekeringan sejak musim kemarau yang dimulai April 2026. Dampak kemarau panjang terlihat semakin berat pada periode puncak juni—Agustus 2026, yang menyebabkan kebun warga gagal panen dan ketersediaan bahan pokok di ibu kota kabupaten menipis.
Daerah terdampak dan dampak langsung
Berdasarkan laporan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Nduga, dua distrik yang terdampak adalah Distrik Wutpaga dan Distrik Nenggeagin. Anggota DPRK Nduga, Leri Gwijangge, menyatakan kekeringan telah mengganggu produksi pangan masyarakat dan mengancam ketahanan pangan lokal.
| Parameter | Keterangan |
|---|---|
| Waktu mulai | April 2026 (musim kemarau) |
| Periode puncak | Juni–Agustus 2026 |
| Distrik terdampak | Wutpaga, Nenggeagin |
| Dampak utama | Kebun gagal panen, stok bahan pokok menipis di Kenyam, surutnya aliran sungai |
Akses logistik terhambat
Sistem transportasi yang selama ini mengandalkan jalur sungai menjadi salah satu titik rawan. Menurut sumber, air sungai di wilayah itu mengalami penurunan sehingga kapal yang biasanya membawa kebutuhan pokok dari Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, ke Nduga terhambat. Kondisi ini mempersempit jalur distribusi barang kebutuhan dasar bagi warga Kenyam dan distrik-distrik yang lebih terpencil.
Permintaan segera tanggap darurat
Anggota DPRK Nduga, Leri Gwijangge, mendesak pemerintah daerah baik di tingkat kabupaten maupun provinsi untuk segera menetapkan status tanggap darurat bencana guna memfasilitasi distribusi bantuan pangan dan penyaluran logistik alternatif.
“Stok bahan makanan di Kenyam telah menipis. Warga telah menyampaikan kondisi tersebut kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemkab Nduga. Namun, belum ada langkah penanganan yang diambil,”
Leri menekankan perlunya solusi cepat seperti membuka jalur distribusi alternatif, termasuk mempertimbangkan pengiriman lewat udara jika akses sungai tidak memungkinkan. Ia juga memperingatkan bahwa penundaan penanganan sama dengan membiarkan warga berisiko mengalami kelaparan.
Dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat
Kegagalan panen di kebun rumah tangga memiliki dampak langsung terhadap ketahanan pangan keluarga yang selama ini mengandalkan sistem pertanian subsisten. Selain itu, keterbatasan bahan pokok di pasar lokal berpotensi menaikkan harga dan memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga yang rentan.
- Gagal panen mengurangi pasokan makanan rumah tangga.
- Surutnya sungai membatasi kedatangan logistik dari luar daerah.
- Stok bahan pokok di Kenyam menipis sehingga kebutuhan sehari-hari berisiko tidak terpenuhi.
Langkah yang diminta oleh DPRK
Permintaan konkret dari DPRK Nduga yang disampaikan melalui Leri mencakup:
- Penetapan status tanggap darurat bencana oleh Pemkab Nduga dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan;
- Upaya distribusi bahan pangan darurat ke distrik terdampak, termasuk kemungkinan pengiriman melalui udara;
- Koordinasi dengan daerah pengirim logistik agar aliran bantuan dapat dijamin meski jalur sungai terganggu.
Kondisi saat ini dan kebutuhan informasi
Hingga laporan ini dibuat, belum tersedia keterangan rinci mengenai respons resmi dari Pemkab Nduga atau Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan terkait penetapan status tanggap darurat maupun rencana distribusi alternatif. Warga di Kenyam dan distrik terdampak terus menunggu kepastian pasokan bahan pokok dan bantuan darurat.
Kekeringan yang berlangsung beberapa bulan ini menggarisbawahi kerentanan wilayah yang sangat bergantung pada jalur sungai untuk logistik. Penanganan segera diperlukan untuk mencegah krisis pangan yang lebih luas, terutama menjelang puncak kemarau pada bulan-bulan mendatang.
WE NEWS akan terus memantau perkembangan respons pemerintah daerah dan kondisi di lapangan serta menyampaikan informasi lebih lanjut bila ada langkah penanganan resmi.