KARUBAGA — Pemerintah Kabupaten Tolikara secara resmi membuka Festival Etnik Religi (FER) Tolikara 2026 pada Rabu, 12 Agustus 2026, di ibu kota kabupaten, Karubaga. Acara perdana berskala etnik dan keagamaan ini dimotori oleh komunitas lokal, gereja, kelompok adat, dan pelaku seni dari berbagai distrik dan kampung pedalaman.
Dalam sambutan pembukaan, Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos. menegaskan bahwa festival lahir dari akar budaya masyarakat pegunungan dan bukan produk kota besar atau pusat pemerintahan yang lengkap fasilitas. Ia menegaskan bahwa penguatan iman dan pelestarian budaya tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.
"Melalui Festival Etnik Religi tahun 2026 kita harus buktikan kepada tanah Papua, Indonesia, dan dunia bahwa Papua memiliki kasih yang berakar pada kebudayaan,"
Bupati Wandik menambahkan bahwa kasih yang dimiliki masyarakat Pegunungan Papua dimurnikan oleh Injil dan tercermin dalam sikap hangat warga. Ia menyebut masyarakat gunung tidak hanya tangguh menghadapi kondisi alam yang keras tetapi juga lemah lembut dalam menyambut sesama.
Asal-usul dan tujuan festival
Menurut penjelasan Bupati, tema festival yakni "Lestarikan Budaya dan Perkuat Iman untuk Tolikara yang Maju, Damai, dan Beridentitas" mencerminkan sumber kelahiran kegiatan ini: Lembah Toli, kampung-kampung pedalaman, gereja-gereja yang dibangun lewat doa dan pengorbanan, ingatan tetua adat, kerja mama-mama, kreatifitas pemuda, serta suara anak-anak sekolah.
Wandik mengajak segenap masyarakat dan elemen terkait untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas terselenggaranya festival. Ia menyebut hari pembukaan sebagai momen bersejarah karena berbagai komunitas berkumpul menyatakan bahwa iman dan budaya dapat berjalan bersama.
Partisipasi lintas unsur lokal
Panitia penyelenggara menghadirkan peserta dari distrik, kampung, gereja, sekolah, komunitas adat, serta kelompok seni. Festival berlangsung selama dua hari, Rabu hingga Kamis (12–13 Agustus 2026), dengan rangkaian kegiatan yang mengangkat kebudayaan lokal serta nilai-nilai religius yang melekat pada masyarakat Tolikara.
- Waktu: 12–13 Agustus 2026
- Tempat: Karubaga, Kabupaten Tolikara
- Peserta: masyarakat kampung, gereja, komunitas adat, kelompok seni, dan sekolah
Panitia menempatkan festival sebagai wadah pertemuan antargenerasi: dari tetua adat sampai anak-anak sekolah. Selain itu, keterlibatan perempuan (disebut sebagai "mama-mama" dalam sambutan) dan pemuda menjadi pilar kuat dalam penyusunan kegiatan seni-budaya serta praktik keagamaan setempat.
Dampak sosial dan identitas
Penyelenggaraan FER Tolikara diharapkan memberikan beberapa manfaat nyata bagi masyarakat lokal. Pertama, festival menjadi sarana penguatan identitas budaya melalui pementasan seni tradisional, bahasa daerah, dan ritual adat yang dipadukan dengan ungkapan religius. Kedua, kegiatan ini berpotensi memupuk rasa persaudaraan antarwarga lintas distrik serta mempererat hubungan antara gereja dan struktur adat. Ketiga, festival menegaskan komitmen daerah untuk mempertahankan warisan budaya sekaligus mengintegrasikannya dalam praktik iman sehari-hari.
Namun, Bupati juga mengingatkan bahwa pelestarian budaya harus berjalan bersama dengan pembangunan menuju Tolikara yang maju dan damai, sehingga festival bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari strategi mempertahankan identitas lokal di tengah dinamika perubahan.
Pelaksana kegiatan menghadirkan rangkaian pementasan, doa bersama, serta forum komunikasi antar pelaku adat dan gereja. Karena ini adalah gelaran pertama, panitia menaruh perhatian pada dokumentasi kegiatan agar menjadi rekam jejak budaya yang dapat dipelajari generasi mendatang.
Hingga penutupan acara pada Kamis, panitia berharap festival dapat menjadi agenda rutin yang menguatkan kebersamaan, menjaga tradisi, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk menampilkan kreativitas yang berpijak pada akar budaya Tolikara.
| Aspek | Catatan |
|---|---|
| Tanggal | 12–13 Agustus 2026 |
| Lokasi | Karubaga, Kabupaten Tolikara |
| Pihak terlibat | Gereja, komunitas adat, sekolah, mama-mama, pemuda |
Festival Etnik Religi Tolikara 2026 menjadi cermin usaha lokal mempertahankan identitas sekaligus merayakan nilai religius. Jika berjalan sebagaimana direncanakan, kegiatan ini potensial menjadi agenda tahunan yang memperkaya lanskap budaya Provinsi Papua Pegunungan.