Pekanbaru — Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melaporkan total luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau pada periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 15.738,9 hektare. Analisis citra satelit menunjukkan sebagian besar kebakaran terjadi pada ekosistem gambut, yang menghanguskan 14.423,5 hektare, sedangkan lahan mineral yang terbakar seluas 1.315,5 hektare.
Distribusi wilayah terdampak
Data yang disampaikan Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, merinci bahwa Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah paling parah terdampak dengan total area terbakar mencapai 8.316,0 hektare. Kabupaten Pelalawan berada pada posisi kedua dengan luas terbakar 4.591,3 hektare, diikuti Indragiri Hilir 997,8 hektare dan Kota Dumai 607,1 hektare.
| Kabupaten/Kota | Luas Terbakar (ha) |
|---|---|
| Bengkalis | 8.316,0 |
| Pelalawan | 4.591,3 |
| Indragiri Hilir | 997,8 |
| Dumai (Kota) | 607,1 |
| Rokan Hilir | 392,5 |
| Siak | 281,2 |
| Kepulauan Meranti | 199,3 |
| Kuantan Singingi | 104,4 |
| Indragiri Hulu | 98,3 |
| Kampar | 90,1 |
| Rokan Hulu | 51,6 |
| Pekanbaru (Kota) | 9,4 |
Peringatan dini dan ancaman El Nino
Ferdian menegaskan kondisi itu merupakan sinyal peringatan karena faktor cuaca dan iklim, termasuk pengaruh El Nino yang kuat, berpotensi meningkatkan eskalasi kebakaran saat puncak musim kemarau. Ia menekankan perlunya kesiapsiagaan lebih tinggi untuk menahan kemungkinan meluasnya titik api.
"Tentunya ini bukan masalah capaian, ini adalah peringatan penting, kondisi cuaca, iklim dan El Nino yang kuat perlu kita waspadai ke depan. Eskalasi bisa jadi akan terus naik seiring dengan puncak musim kemarau,"
Upaya pemadaman dan alokasi personel
Menurut keterangan resmi, seluruh personel Manggala Agni dan satuan tugas terkait telah dikerahkan untuk penanganan dan pencegahan. Operasi darat Manggala Agni berlangsung di beberapa titik, yakni operasi Daerah Pekanbaru di Kabupaten Kampar; Daops Dumai dan Daops Siak diarahkan ke wilayah Bengkalis dan Rokan Hilir; sedangkan Daops Rengat bertugas di Indragiri Hulu.
- Penggunaan analisis citra satelit berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Lingkungan Hidup.
- Fokus pemadaman diarahkan ke lahan gambut karena karakteristik yang sulit dipadamkan dan potensi emisi karbon tinggi.
- Peningkatan kesiagaan dipicu prediksi cuaca kering dan fenomena El Nino.
Dampak ekonomi dan lingkungan
Kebakaran pada lahan gambut tidak hanya merusak habitat dan keanekaragaman hayati, tetapi juga memberi tekanan ekonomi pada masyarakat lokal. Lahan pertanian, usaha kecil, dan infrastruktur lokal dapat terganggu oleh asap dan kebakaran. Selain itu, kebakaran gambut melepaskan karbon yang signifikan, berkontribusi pada kualitas udara buruk dan berpotensi meningkatkan biaya kesehatan masyarakat akibat gangguan pernapasan.
Penting dicatat bahwa angka-angka di atas bersumber dari analisis satelit Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan BRIN dan Kementerian Lingkungan Hidup. Data ini berfungsi sebagai dasar pengambilan kebijakan respons dan mitigasi, termasuk penyiapan sumber daya pemadaman, patroli pencegahan, serta koordinasi lintas lembaga dan pemerintah daerah.
Arah kebijakan lokal
Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan harus mempertimbangkan langkah-langkah pencegahan yang lebih tegas, seperti penguatan patroli lahan kritis, penegakan aturan pembukaan lahan, dan program restorasi gambut. Upaya pengurangan risiko juga perlu melibatkan komunitas lokal dan petani agar praktik pengelolaan lahan lebih berkelanjutan dan tahan terhadap musim kering.
Dengan memasuki puncak musim kemarau dan prediksi El Nino, tekanan terhadap ekosistem gambut di Riau akan tetap tinggi kecuali ada peningkatan koordinasi dan alokasi sumber daya. Pengawasan citra satelit dan pelaporan cepat masih menjadi instrumen penting untuk meredam potensi kerusakan lebih luas.
Winda Lestari, Koresponden Daerah - Riau