Kenaikan Harga dan Pasokan Terbatas
Pasuruan — Dampak musim kemarau panjang mulai terlihat pada stabilitas harga pangan di Kota Pasuruan. Pemantauan yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kota Pasuruan di Pasar Kebonagung, Selasa (8/9), menunjukkan kenaikan harga beras dan keterbatasan pasokan terutama pada beras medium yang disubsidi melalui program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan).
Para pedagang mengeluhkan pasokan yang tersendat dari pabrik penggilingan padi sehingga mereka tidak bisa memenuhi permintaan konsumen. Selain itu, lonjakan biaya distribusi disebut-sebut menjadi faktor utama naiknya harga beras kelas premium di tingkat eceran.
Dampak pada Perdagangan dan Konsumen
Salah seorang pedagang di Pasar Kebonagung, Asep, menyampaikan bahwa kuota beras program yang diterima dari Bulog terbatas sehingga pedagang tidak dapat membeli dalam jumlah besar. Asep juga menegaskan bahwa kenaikan harga beras premium tidak semata karena margin keuntungan pedagang, melainkan karena biaya angkut dari penggilingan yang meningkat.
"Beras bersubsidi medium dari Bulog stoknya terbatas, kami tidak bisa beli banyak. Sedangkan untuk beras kelas premium harganya naik karena dampak ongkos kirim dari penggilingan,"
Dalam penjelasan yang disampaikan Asep kepada petugas Satgas, harga jual beras premium kemasan 5 kilogram saat ini berada di kisaran Rp 73.000 per kemasan. Ia juga menyebut bahwa ongkos kirim dari penggilingan mencapai Rp 650 per kilogram, sementara margin keuntungan pedagang hanya sekitar Rp 1.000 per pack.
Perubahan Perilaku Konsumen
Kenaikan harga beras memengaruhi pola belanja rumah tangga. Seorang pembeli di Pasar Kebonagung, Siti Rahmah (42), mengatakan ia harus menyesuaikan anggaran belanja akibat kenaikan harga pangan pokok.
"Sekarang apa-apa mahal, beras premium harganya makin tidak terjangkau. Beras SPHP yang murah sering kehabisan karena stok di pedagang sedikit,"
Keluhan konsumen seperti Siti menandakan potensi penurunan daya beli bila kenaikan harga berlangsung lama. Ketersediaan beras subsidi yang terbatas juga berpotensi menimbulkan tekanan sosial jika keluarga berpenghasilan rendah tidak dapat mengakses stok yang lebih murah.
Faktor Penyebab dan Pemantauan
Hasil pemantauan Satgas Pangan mengindikasikan dua penyebab utama:
- Gangguan pasokan dari pabrik penggilingan padi akibat kondisi musim dan distribusi.
- Kenaikan biaya distribusi sehingga menambah harga pokok bagi pedagang eceran.
Satgas Pangan melakukan inspeksi untuk mencatat kondisi lapangan dan mengukur sejauh mana gangguan pasokan serta kenaikan ongkos kirim memengaruhi harga jual. Pemantauan ini penting untuk menyusun rekomendasi kebijakan atau intervensi yang diperlukan guna menstabilkan pasokan dan harga.
Konsekuensi Lokal dan Langkah yang Perlu Dipertimbangkan
Kondisi saat ini memberi sinyal perlunya langkah bersama antara pemerintah daerah, Bulog, distributor, dan pelaku usaha untuk menahan dampak kenaikan harga bagi konsumen. Beberapa hal yang layak dipertimbangkan oleh pihak terkait:
- Menambah alokasi atau frekuensi distribusi beras SPHP ke titik-titik yang paling terdampak.
- Mengevaluasi jalur distribusi untuk menekan ongkos kirim yang berkontribusi pada lonjakan harga.
- Meningkatkan komunikasi publik mengenai ketersediaan stok dan prioritas penyaluran agar konsumen mengetahui opsi yang ada.
| Komponen | Informasi |
|---|---|
| Harga beras premium (5 kg) | Rp 73.000 |
| Ongkos kirim dari penggilingan | Rp 650/kg |
| Margin pedagang | Rp 1.000/pack |
Pemantauan berkelanjutan dan tindakan cepat diperlukan agar gejolak harga tidak semakin memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga di Pasuruan. Satgas Pangan setempat telah memulai langkah verifikasi di pasar, dan warga berharap ada respons terpadu dari pemerintah daerah serta pihak terkait untuk mengamankan pasokan dan menstabilkan harga.