Palu — Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Provinsi Sulawesi Tengah memperkuat upaya penurunan angka stunting dengan menyalurkan bahan makanan bergizi berprotein tinggi, seperti telur dan susu, langsung kepada sasaran intervensi. Langkah ini dimaksudkan untuk memperbaiki asupan gizi pada masa paling rentan, yaitu 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Tekanan pada periode emas pertumbuhan
Sekretaris DP2KB Sulteng, Budi Lamaka, menegaskan pentingnya nutrisi pada 1.000 HPK untuk pembentukan fisik dan perkembangan kecerdasan anak. Menurutnya, asupan protein berkualitas berperan ganda dalam membangun sel otak dan susunan tulang sehingga berkontribusi pada pertumbuhan tinggi badan dan kemampuan kognitif.
"Ketika anak mengonsumsi makanan kaya nutrisi seperti telur, manfaatnya bekerja ganda (two in one). Nutrisi tersebut lari ke pembentukan sel-sel otak dan susunan tulang. Protein tinggi seperti albumin menjadi 'perekat' yang membentuk pertumbuhan tulang optimal sehingga anak tumbuh tinggi dan memiliki kecerdasan yang baik,"
Budi menjelaskan bahwa 1.000 HPK dihitung sejak 280 hari masa kehamilan ditambah 720 hari pada dua tahun pertama kehidupan anak. Ia mengingatkan bahwa dampak kurang gizi pada periode ini akan terlihat puluhan tahun kemudian, berimplikasi pada kualitas sumber daya manusia daerah.
Strategi ganda: intervensi spesifik dan sensitif
Program penanganan stunting yang dijalankan DP2KB Sulteng terbagi menjadi dua pendekatan utama:
- Intervensi spesifik: fokus pada pemenuhan asupan gizi langsung, seperti distribusi telur dan susu kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
- Intervensi sensitif: memperbaiki faktor lingkungan pendukung, termasuk penyediaan air bersih, sanitasi, dan perbaikan jamban, yang melibatkan dinas teknis seperti Dinas Pekerjaan Umum.
DP2KB berperan sebagai sekretariat yang memfasilitasi dan mengoordinasikan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Pada tingkat provinsi, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dipimpin oleh Wakil Gubernur, sementara di tingkat pusat dipimpin oleh Wakil Presiden.
Koordinasi lintas sektor penting
Penerapan intervensi sensitif menuntut keterlibatan dinas teknis untuk menjamin akses layanan dasar yang menjadi faktor determinan gizi, misalnya air bersih dan sanitasi. Dengan demikian, program distribusi bahan pangan bergizi tidak berdiri sendiri melainkan bagian dari paket intervensi yang terkait erat dengan kondisi lingkungan dan layanan kesehatan ibu-anak.
Implikasi jangka panjang
Budi mengingatkan bahwa kegagalan menurunkan angka stunting akan membawa efek berkelanjutan pada masyarakat. "Jika masalah stunting tidak kita intervensi dan perhatikan serius dari sekarang, dampaknya baru terlihat 20 hingga 30 tahun ke depan," ujarnya. Ia menekankan bahwa tanpa penanganan efektif, kualitas SDM daerah berisiko tertinggal dibandingkan daerah lain.
| Komponen | Rincian |
|---|---|
| Periode 1.000 HPK | 280 hari kehamilan + 720 hari setelah lahir |
| Intervensi spesifik | Distribusi telur, susu, suplemen gizi |
| Intervensi sensitif | Air bersih, sanitasi, perbaikan jamban |
Saran praktis bagi keluarga dan komunitas
Berdasarkan pendekatan yang disampaikan DP2KB, langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan oleh keluarga dan komunitas antara lain:
- Memprioritaskan asupan bergizi tinggi bagi ibu hamil, menyusui, dan balita, termasuk telur dan susu bila tersedia.
- Mengoptimalkan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan melanjutkan MP-ASI bergizi sesuai usia.
- Berkolaborasi dengan kader posyandu dan puskesmas untuk memantau pertumbuhan anak secara berkala.
- Mendorong perbaikan sanitasi rumah tangga dan akses air bersih melalui program desa atau pemda setempat.
DP2KB Sulteng terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memperluas cakupan distribusi bahan makanan bergizi dan memperkuat intervensi sensitif. Dengan strategi terpadu, dinas menargetkan penurunan prevalensi stunting yang berdampak pada peningkatan kualitas generasi mendatang di Sulawesi Tengah.