Rakorda ICCN digelar di Blitar
Blitar menjadi tuan rumah Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Indonesia Creative City Network (ICCN) Jawa Timur 2026 yang berlangsung di Ruang Penataran, Kantor Pemerintah Kabupaten Blitar, Sabtu, 17 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan pejabat daerah dan pemangku kepentingan sektor kreatif untuk membahas penguatan ekosistem ekonomi kreatif di provinsi.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, menekankan bahwa pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup hanya mengandalkan potensi lokal atau agenda acara sesaat. Menurutnya, diperlukan struktur pendukung yang mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, membuka akses pengembangan karier, serta mempertahankan keberlanjutan komunitas-komunitas kreatif di daerah.
Fokus pada peningkatan kapasitas dan fleksibilitas birokrasi
Dalam paparan di hadapan peserta Rakorda, Emil menyoroti beberapa aspek yang harus mendapat perhatian bersama, termasuk peran Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai penyedia pelatihan yang relevan bagi pekerja kreatif. Ia menyatakan bahwa pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan industri dan kondisi nyata lapangan sehingga dapat meningkatkan daya saing tenaga kreatif.
"Di sini kita juga harus keluar dari keruwetan birokrasi kita. Kadang-kadang kita ini kaku melihat oh yang boleh jadi mentor harus begini. Padahal kalau di ekonomi kreatif kan parameternya beda, bukan parameter teknis biasa, tapi portofolio dia seperti apa, jejaringnya seperti apa,"
Pernyataan tersebut menunjukkan dorongan untuk memberikan ruang gerak yang lebih besar bagi pengambil keputusan lokal agar menilai mentor dan tenaga pendamping berdasarkan rekam jejak, portofolio, dan jejaring profesional daripada kriteria administratif semata.
Potensi Blitar sebagai ruang kolaborasi antardaerah
Emil menilai Kabupaten Blitar memiliki peluang besar menjadi pusat kolaborasi antardaerah untuk subsektor seni, budaya, kuliner, kriya, dan pariwisata. Posisi Blitar sebagai lokasi Rakorda sekaligus memberikan momentum bagi pemerintah daerah dan pelaku kreatif setempat untuk menyusun langkah konkret yang menghubungkan komunitas kreatif dengan pasar dan pelatihan yang diperlukan.
- Pengembangan SDM: Perlu pelatihan yang relevan dari BLK dan lembaga pelatihan lain.
- Akses karier: Membangun jalur bagi pekerja kreatif masuk ke pasar kerja formal dan nonformal.
- Keberlanjutan komunitas: Dukungan administratif dan jaringan agar komunitas kreatif dapat bertahan jangka panjang.
Implikasi bagi masyarakat dan pelaku kreatif Blitar
Rakorda ini berpotensi membuka akses bagi pelaku ekonomi kreatif di Blitar untuk memperoleh pelatihan, mentoring, dan jejaring yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha dan kapasitas. Jika rekomendasi tentang fleksibilitas penilaian mentor dan peran BLK diimplementasikan, pelaku lokal berpeluang mendapatkan pelatihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri kreatif modern.
Selain itu, penekanan pada kolaborasi antardaerah memberi peluang bagi produk-produk khas Blitar—termasuk hasil kriya, kuliner, dan produk pariwisata—untuk lebih mudah diakses pasar yang lebih luas melalui jaringan regional.
| Aspek | Fokus Rakorda |
|---|---|
| SDM | Peningkatan kompetensi melalui BLK dan pelatihan terapan |
| Birokrasi | Fleksibilitas penilaian mentor dan proses pendampingan |
| Kolaborasi | Pengembangan jaringan antardaerah untuk pasar dan promosi |
Wakil gubernur juga mengingatkan bahwa modal Jawa Timur dalam pengembangan sektor kreatif sangat besar, tercermin dalam jumlah penduduk yang mencapai sekitar 42 juta jiwa dan beragam subsektor yang terus berkembang. Namun, potensi tersebut hanya akan terwujud apabila disertai kebijakan dan program yang benar-benar menjawab kebutuhan pelaku di lapangan.
Rakorda ICCN di Blitar menjadi momentum untuk menyusun langkah konkret yang dapat mendorong ekosistem ekonomi kreatif lebih inklusif dan produktif. Langkah lanjutan yang diharapkan adalah penyusunan program pelatihan terukur, penyederhanaan mekanisme pendampingan, serta pemetaan kebutuhan pasar yang jelas agar hasilnya dapat dirasakan oleh pelaku kreatif di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Sejauh ini, Rakorda membuka ruang dialog antara pemerintah, pelaku, dan pendamping industri kreatif. Implementasi rekomendasi akan menentukan sejauh mana Blitar dapat memanfaatkan posisinya sebagai pusat kolaborasi regional bagi ekonomi kreatif Jawa Timur.