Puncak Jaya, Papua — Sisa gletser tropis di Puncak Jaya terus menipis hingga mendekati titik kepunahan, menurut sejumlah penelitian dan laporan internasional terbaru. Perubahan ini tidak hanya mengubah bentang alam tetapi juga menyentuh dimensi kultural masyarakat adat yang selama ini memandang gunung dan es sebagai bagian dari relasi spiritual dan sejarah mereka.
Penyusutan dan proyeksi hilang
World Meteorological Organization (WMO) melaporkan bahwa pada 2025 luas es tropis yang tersisa di Papua hanya sekitar 2 persen dibandingkan kondisi pada 1988. Berdasarkan proyeksi WMO, gletser tropis terakhir di Indonesia diperkirakan dapat menghilang pada akhir 2026 atau awal 2027.
Penelitian lain yang dipublikasikan oleh David Ibel dan kolega dalam jurnal The Cryosphere (2025) menunjukkan penyusutan lebih dari 99 persen sejak 1850. Citra satelit resolusi tinggi memperkirakan luas gletser Puncak Jaya pada 2024 sekitar 0,165 kilometer persegi atau sekitar 16,5 hektare.
Temuan lanjutan dan variasi proyeksi
Studi yang terbit pada 2026 di Cold Regions Science and Technology menganalisis citra Landsat periode 1980–2024 dan mencatat penurunan luas gletser sekitar 7,28 kilometer persegi atau 97 persen. Dari enam gletser yang diteliti, empat telah menghilang. Penulis studi ini memperkirakan dua gletser yang tersisa kemungkinan akan menghilang sekitar 2028 hingga 2030.
Perbedaan antara estimasi WMO dan penelitian lain menunjukkan bahwa proyeksi waktu kepunahan bergantung pada laju penyusutan yang dipakai dalam tiap kajian, serta faktor atmosferik yang dapat berubah, termasuk pengaruh El Niño.
Nilai ilmiah dan catatan iklim
Para ilmuwan menyatakan inti es dari Puncak Jaya menyimpan rekaman variabilitas iklim tropis Pasifik yang penting. Ketika es menghilang, kehilangan data historis dari inti-es tersebut juga menjadi nyata, sehingga menghambat pemahaman jangka panjang terhadap dinamika iklim di wilayah tropis.
Dampak bagi masyarakat adat
Bagi masyarakat Amungme dan komunitas lokal lainnya, Nemangkawi atau Puncak Jaya bukan sekadar fitur geografis. Kawasan tersebut memiliki nilai spiritual sebagai tempat peristirahatan leluhur dan pusat relasi adat. Hilangnya salju dan perubahan lanskap dipandang sebagai kehilangan bagian dari identitas dan memicu kekhawatiran tentang kelanjutan praktik budaya yang terkait dengan gunung.
"Masyarakat Amungme memandang Nemangkawi bukan sekadar gunung, melainkan tempat peristirahatan leluhur,"
Pernyataan ini menggambarkan bagaimana perubahan fisik pada gunung berdampak pada kosmologi, ritus, dan hubungan antara generasi dalam komunitas adat.
Implikasi ekologis dan praktis
Penyusutan es juga membawa konsekuensi ekologis. Perubahan hidrologi di daerah pegunungan dapat memengaruhi aliran mata air dan habitat di ketinggian, sehingga memengaruhi flora dan fauna khas pegunungan Jayawijaya. Selain itu, percepatan pencairan pada periode-periode tertentu, misalnya saat fenomena El Niño, menunjukkan bahwa kejadian cuaca ekstrem dapat memperbesar laju kehilangan es.
Data ringkas penyusutan gletser
| Periode / Sumber | Temuan utama |
|---|---|
| 1988 (baseline WMO) | Luas historis gletser (100%) |
| 2024 (citra satelit) | ~0,165 km2 (16,5 ha) |
| 1980–2024 (Landsat) | Penurunan ~7,28 km2 (97%); 4 dari 6 gletser hilang |
| Proyeksi WMO | Potensi hilang akhir 2026 atau awal 2027 |
| Proyeksi studi 2026 | Dua gletser tersisa mungkin hilang 2028–2030 |
Apa yang perlu diperhatikan masyarakat lokal dan pembuat kebijakan
- Pentingnya melibatkan masyarakat adat dalam pemantauan dan pelestarian kawasan, mengingat nilai kultural dan pengetahuan lokal mereka.
- Kebutuhan data ilmiah yang berkelanjutan untuk merekam perubahan hidrologi dan dampak ekologis jangka panjang.
- Perencanaan adaptasi berbasis komunitas untuk mengantisipasi perubahan layanan ekosistem pegunungan, misalnya akses air dan habitat spesies endemik.
Hilangnya sisa salju Puncak Jaya adalah tanda nyata pemanasan global yang berimplikasi luas — dari hilangnya arsip iklim alami hingga perubahan pada relasi spiritual masyarakat adat. Pengembangan langkah mitigasi dan adaptasi yang melibatkan komunitas setempat serta penguatan penelitian lapangan menjadi kunci untuk memahami dan merespons perubahan yang berlangsung cepat ini.
Naomi Wandik, Koresponden Daerah — Papua, WE NEWS