Samarinda — Pengembangan sektor pariwisata di Kota Samarinda membutuhkan pendekatan yang berbeda dibanding daerah yang mengandalkan kekayaan alam sebagai daya tarik utama. Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda, Andy Ariefin, menilai upaya menjadikan Sungai Mahakam sebagai destinasi wisata memerlukan intervensi fisik dan biaya yang signifikan.
Tantangan pengembangan wisata Sungai Mahakam
Dalam pernyataannya kepada wartawan, Andy menjelaskan bahwa Samarinda tidak memiliki kondisi alam yang otomatis menjadi daya tarik sekelas Bali atau Yogyakarta. Oleh karena itu, pengembangan wisata di kota ini lebih banyak bertumpu pada wisata buatan yang menuntut pembangunan infrastruktur, fasilitas pendukung, serta pengelolaan jangka panjang.
"Contoh Mahakam. Mahakam untuk memoles menjadi tujuan wisata itu perlu ekstra. Pak Wali harus membangun Teras,"
Andy menegaskan bahwa penataan kawasan tepian Sungai Mahakam dan penyediaan fasilitas susur sungai akan membutuhkan sumber daya besar. Ia menyebutkan panjang tepi sungai yang menjadi fokus penataan mencapai 6 km, yang menurutnya memerlukan investasi tidak kecil untuk memperbaiki akses, ruang publik, dan fasilitas keselamatan.
Rincian kebutuhan dan dampak
Berdasarkan uraian Disporapar, setidaknya terdapat beberapa kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi apabila pemerintah kota hendak mendorong Mahakam sebagai destinasi wisata sungai:
- Peningkatan kualitas tepian sungai (penataan ruang publik, trotoar, pencahayaan, dan estetika tepi sungai);
- Penyediaan sarana transportasi air yang aman, andal, dan ramah wisatawan, termasuk kapal untuk kegiatan susur sungai;
- Peningkatan infrastruktur pendukung seperti akses jalan, lahan parkir, dan fasilitas pendukung wisata (toilet, titik informasi, tempat duduk);
- Pengelolaan sampah dan konservasi kualitas air untuk memastikan daya tarik lingkungan tetap terjaga.
Permintaan modal yang besar untuk menghadirkan unsur-unsur tersebut menjadi persoalan utama. Andy menekankan bahwa bukan potensi yang kurang, melainkan konversi potensi menjadi produk wisata yang memerlukan langkah terukur dan pendanaan memadai.
| Kebutuhan | Konsekuensi jika terlaksana |
|---|---|
| Penataan tepian 6 km | Peningkatan aksesibilitas dan estetika, namun membutuhkan anggaran besar |
| Sarana susur sungai (kapal) | Menambah atraksi wisata, perlu investasi awal dan biaya operasional |
| Fasilitas pendukung | Meningkatkan kenyamanan pengunjung; butuh perencanaan tata ruang |
Implikasi bagi perencanaan dan anggaran kota
Penilaian Disporapar memunculkan beberapa implikasi kebijakan. Pertama, pemerintah daerah perlu menyusun skema pembiayaan yang realistis, baik melalui penganggaran APBD, kerja sama pemerintah-swasta, maupun sumber pendanaan lain. Kedua, perencanaan teknis harus terintegrasi dengan pengelolaan lingkungan agar penataan tepian tidak mengorbankan kualitas ekosistem sungai.
Pilihan model pengelolaan juga menjadi soal penting: apakah penataan diarahkan pada format ruang publik komersial dengan investasi swasta, atau model yang lebih berorientasi pada pemberdayaan masyarakat lokal melalui usaha pariwisata kecil dan menengah. Keputusan ini akan menentukan bentuk fasilitas, tata kelola, dan distribusi manfaat ekonomi bagi warga Samarinda.
Keseimbangan antara potensi dan kenyataan
Andy mengingatkan bahwa Samarinda harus realistis dalam membangun destinasi. "Samarinda ini tipikalnya tidak seperti tipikal Bali, untuk konteks pariwisata, tidak seperti tipikal Jogja yang mereka dimanjakan oleh alam," ujarnya. Pernyataan itu menggarisbawahi perlunya strategi adaptif yang mengenali keterbatasan sekaligus memaksimalkan keunggulan lokal, termasuk memanfaatkan segi budaya, aktivitas ekonomi sungai, dan lokasi strategis kota.
Di tengah kebutuhan investasi besar, langkah awal yang dapat ditempuh pemerintah kota meliputi studi kelayakan terpadu, rencana induk penataan tepian sungai, dan pilot project skala kecil yang bisa diuji dari segi teknis dan ekonomi sebelum komitmen investasi lebih luas dilakukan.
Penerapan strategi bertahap dan kolaboratif akan menentukan apakah Mahakam dapat berubah dari potensi menjadi produk wisata yang berkelanjutan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga Samarinda.
Aditya Pratama
Koresponden Daerah - Kalimantan Timur, WE NEWS