Surabaya — Riset Yayasan Generasi Inovatif Tunas Unggul (YAGITU) menemukan bahwa Generasi Z di Jawa Timur banyak mengonsumsi gula melalui minuman olahan yang diperoleh dari warung kopi, kedai kopi, dan kafe. Temuan ini merupakan bagian dari penelitian Evidence-Based Policy mengenai pola konsumsi masyarakat Jawa Timur yang diserahkan kepada Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur pada Kamis lalu.
Temuan utama riset
Sekretaris YAGITU, Nuryadi, menjelaskan dua temuan utama penelitian tersebut. Pertama, masih ada kesenjangan pengetahuan di kalangan masyarakat mengenai dampak konsumsi gula berlebihan. Kedua, mayoritas asupan gula berasal dari minuman olahan yang biasa dibeli di kafe atau warung kopi.
"Dari hasil yang kita dapat, pertama ternyata masih banyak orang yang ada gap pengetahuan terkait dampak mengonsumsi gula. Masih ada gap itu, ada gap pengetahuan,"
Nuryadi menambahkan bahwa kondisi tersebut menimbulkan dilema kebijakan: di satu sisi, maraknya kedai kopi mendukung pertumbuhan ekonomi; di sisi lain, pola konsumsi yang tinggi berisiko terhadap kesehatan publik.
Angka dan ruang lingkup
Riset YAGITU menyasar kelompok usia di bawah 40 tahun, termasuk Gen Z dan milenial. Data yang dipaparkan riset juga mencatat jumlah kedai kopi di dua wilayah metropolitan di Jawa Timur mencapai angka yang signifikan.
| Lokasi | Tahun | Perkiraan jumlah kedai kopi |
|---|---|---|
| Surabaya dan Sidoarjo | 2025 | Hampir 12.000 unit |
Respons pemerintah daerah
Pelaksana Tugas Kepala BRIDA Jawa Timur, Lilik Pudjiastuti, menyambut hasil riset. Ia menekankan perlunya melihat pola konsumsi dari tiga aspek: ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Menurut Lilik, peluang usaha yang dibuka oleh warung-warung nongkrong harus diimbangi edukasi kepada produsen dan konsumen mengenai makanan dan minuman sehat.
"Dengan banyaknya sekarang warung-warung nongkrong ini kan membuka peluang untuk melakukan usaha,"
BRIDA berencana menyampaikan hasil riset tersebut kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait agar dapat menjadi dasar perumusan kebijakan yang berbasis bukti.
Dilema antara pertumbuhan ekonomi dan risiko kesehatan
Temuan YAGITU memunculkan tantangan kebijakan: bagaimana mendorong pertumbuhan usaha mikro dan kecil di bidang kuliner tanpa mengabaikan kesehatan publik. Pertumbuhan kedai kopi yang pesat memberi lapangan pekerjaan dan sumbangan ekonomi lokal, tetapi bila diiringi konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas.
- Masalah pengetahuan: adanya gap pemahaman tentang dampak gula berlebih pada kesehatan.
- Sumber konsumsi: minuman olahan di kedai, warung, dan kafe menjadi pemasok utama gula tambahan.
- Konsekuensi kebijakan: kebutuhan regulasi berbasis bukti dan program edukasi untuk produsen serta konsumen.
Kebutuhan langkah lanjutan
Riset yang diserahkan kepada BRIDA membuka ruang bagi sejumlah intervensi yang dapat dipertimbangkan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan:
- Penyusunan kebijakan regulatif berbasis bukti untuk mengatur takaran gula dalam minuman komersial atau penerapan label yang jelas.
- Program edukasi terpadu kepada pelaku usaha kedai kopi dan konsumen muda mengenai alternatif minuman rendah gula.
- Sinergi antar OPD—kesehatan, pendidikan, dan perdagangan—untuk merumuskan langkah yang seimbang antara ekonomi dan kesehatan.
YAGITU berharap hasil penelitiannya menjadi dasar pembuatan regulasi yang bukan sekadar preferensi, melainkan keputusan yang berlandaskan bukti. Sementara itu BRIDA menegaskan akan menindaklanjuti temuan tersebut dan mengkomunikasikannya ke OPD terkait untuk menyusun kebijakan yang responsif terhadap kondisi di lapangan.
Peluang ekonomi dari maraknya warung nongkrong jelas nyata, namun tanpa langkah pengendalian dan edukasi, peningkatan konsumsi gula di kalangan Gen Z dapat menimbulkan beban jangka panjang pada sistem kesehatan daerah. Pemerintah daerah, peneliti, dan pelaku usaha kini berada pada titik penting untuk menentukan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pemeliharaan kesehatan masyarakat.