Langkah Pemkot untuk Mengerek Nilai Bisnis Persib
Pemerintah Kota Bandung mendorong Persib Bandung memperkuat bisnisnya dengan memperluas pemanfaatan aset daerah sebagai bagian dari persiapan menuju penawaran saham perdana (initial public offering/IPO). Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut pemerintah membuka kesempatan lebih luas agar Persib dapat mengelola aset milik kota di sekitar Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Status keputusan dan peran pemegang saham
Farhan menegaskan bahwa keputusan mengenai pelaksanaan IPO berada pada kewenangan para pemegang saham Persib. Ia juga menyatakan bahwa dirinya sudah tidak lagi menjadi pemegang saham klub sehingga tidak dapat menentukan target atau waktu pelaksanaan aksi korporasi tersebut.
"Saya enggak bisa (bicara soal) target. Tergantung para pemegang saham, saya sudah bukan pemegang saham lagi,"
Fokus pemanfaatan aset di sekitar GBLA
Menurut keterangan Farhan, saat ini kerja sama pemanfaatan aset antara Pemkot Bandung dan Persib baru mencakup pemanfaatan Stadion GBLA. Pemerintah kota melihat masih banyak potensi yang belum dimaksimalkan di sekitar kawasan stadion yang dapat dijadikan sumber pendapatan tambahan bagi klub.
- Fasilitas parkir — belum dimanfaatkan secara terpadu
- Tempat latihan — berpotensi dikembangkan sebagai pusat pelatihan dan bisnis olahraga
- Kawasan hiburan dan komersial di sekitar stadion — belum dikelola oleh Persib
Target valuasi dan harapan
Pemkot Bandung menilai bahwa konsolidasi dan perluasan pengelolaan aset dapat memperkuat ekosistem bisnis Persib sehingga valuasi klub berpotensi meningkat. Farhan menyebut optimisme bahwa, dengan pemanfaatan dan konsolidasi aset yang berjalan optimal, nilai Persib dapat mencapai Rp 1 triliun.
| Aset | Status saat ini |
|---|---|
| Stadion GBLA | Telah dikelola dalam kerja sama antara Pemkot dan Persib |
| Area parkir, tempat latihan, kawasan hiburan | Belum dimanfaatkan secara khusus oleh Persib |
Konsekuensi bagi kota dan publik
Perluasan pengelolaan aset oleh klub berimplikasi pada beberapa aspek lokal. Jika terealisasi, model kemitraan ini dapat menciptakan aliran pendapatan baru, meningkatkan aktivitas ekonomi di sekitar stadion, serta membuka peluang pengembangan fasilitas publik yang berorientasi pada olahraga dan rekreasi. Namun, segala langkah korporasi seperti IPO tetap memerlukan keputusan pemegang saham dan proses hukum serta regulasi pasar modal.
Rencana ini menjadi perhatian warga Bandung karena menyangkut aset milik daerah. Pemerintah kota perlu menjaga keseimbangan antara tujuan komersial dan kepentingan publik agar pemanfaatan aset tidak mengurangi akses masyarakat terhadap fasilitas olahraga dan ruang publik di sekitar GBLA.
Sementara itu, Persib sebagai klub berlabel Maung Bandung menyandang posisi strategis dalam perekonomian dan citra kota. Upaya memperbesar nilai bisnis klub sejalan dengan tuntutan profesionalisasi pengelolaan klub sepak bola modern, namun keberhasilan strategi tersebut bergantung pada konsolidasi aset, keputusan korporasi dari pemegang saham, serta kemitraan yang jelas antara pihak klub dan pemerintah daerah.
Pelibatan dan pengawasan publik serta mekanisme transparansi akan menjadi penting agar manfaat ekonomi yang diharapkan dapat dirasakan oleh warga Bandung secara luas.
Laporan dilaporkan dari Jakarta dan Bandung.