Berau, Kalimantan Timur — Kantor Otoritas Bandar Udara (OTBAN) Wilayah VII meluncurkan inisiatif pelatihan bertajuk "Digital Logistic for Export" sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekspor nonmigas dan nonbatubara di Kalimantan Timur. Program yang dijadwalkan dimulai pada 21 September 2026 ini merupakan kolaborasi antara OTBAN Wilayah VII dan Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug.
Langkah strategis untuk keluar dari ketergantungan batu bara
Kegiatan ini ditempatkan oleh penyelenggara bukan sekadar sebagai pelatihan keterampilan teknis, melainkan sebagai platform integrasi antara pelaku usaha, regulator, instansi karantina dan kepabeanan, pengelola bandar udara, perusahaan logistik, serta pemerintah daerah. Upaya tersebut sejalan dengan Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 100.3.3.1/K.230/2026 tentang pembentukan Satuan Tugas Percepatan Peningkatan Ekspor Nonmigas Nonbatubara Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2026–2030.
Kepala Kantor OTBAN Wilayah VII, Ferdinan Nurdin, menekankan posisi strategis sektor kebandarudaraan dalam mendukung percepatan ekspor. Menurut Ferdinan, peran bandar udara penting untuk mempercepat pergerakan produk dari sentra produksi menuju pasar internasional, serta menurunkan biaya logistik jika ekosistemnya terintegrasi.
"DPM Digital Logistic for Export merupakan bentuk dukungan OBU VII terhadap pelaksanaan tugas Satgas dan upaya membangun ekosistem ekspor yang semakin kuat di Kalimantan Timur," ujar Ferdinan.
Fokus program dan pemangku kepentingan
OTBAN menempatkan target program lebih luas daripada sekadar transfer pengetahuan. Ada penekanan pembentukan jejaring dan penyesuaian prosedur agar pengiriman barang memenuhi ketentuan kepabeanan dan karantina, serta memanfaatkan akses kebandarudaraan secara optimal. Program ini juga dimaksudkan untuk menghubungkan pelaku usaha dengan penyedia jasa logistik agar tercipta alur kerja yang efisien dan terstandarisasi.
- Pelaksana: OTBAN Wilayah VII
- Mitra: Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug
- Pemangku kepentingan yang dilibatkan: pelaku usaha, regulator, kepabeanan, karantina, pengelola bandar udara, perusahaan logistik, pemerintah daerah
Dalam konteks kawasan, Kalimantan Timur selama ini menghadapi tantangan struktural ketika mencoba mengalihkan ketergantungan dari komoditas primer seperti batu bara. Salah satu hambatan utama adalah kapasitas logistik yang belum sepenuhnya mendukung produk bernilai tambah untuk menembus pasar internasional. Dengan menempatkan bandar udara sebagai poros logistik, OTBAN berharap ada percepatan proses ekspor untuk produk yang sensitif terhadap waktu seperti hasil pertanian dan produk olahan tertentu.
Harapan terhadap sinergi kebijakan dan praktik
Program ini diposisikan sebagai tindak lanjut implementasi kebijakan provinsi melalui satgas yang dibentuk oleh keputusan gubernur. Sinergi antara pelatihan teknis dan penataan ekosistem logistik menjadi kunci agar pelaku usaha lokal tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga akses nyata ke rantai pasok ekspor.
Penting dicatat bahwa efektivitas program akan bergantung pada beberapa faktor operasional yang perlu diuji di lapangan, antara lain:
- Ketersediaan kapasitas penanganan kargo di bandar udara setempat;
- Keterpaduan prosedur kepabeanan dan karantina yang mempercepat clearance;
- Kompetitiveness biaya logistik dibandingkan rute alternatif;
- Kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi standar ekspor.
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Nama Program | Digital Logistic for Export (Diklat Pemberdayaan Masyarakat) |
| Mulai | 21 September 2026 |
| Penyelenggara | OTBAN Wilayah VII |
| Mitra | Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug |
| Tujuan utama | Penguatan ekosistem logistik ekspor untuk mendukung peningkatan ekspor nonmigas nonbatubara |
Langkah operasional berikutnya yang relevan untuk dipantau oleh pemangku kepentingan lokal adalah seberapa cepat hasil pelatihan dapat diterjemahkan menjadi rantai pasok yang nyata, serta apakah akan ada pilot project pengiriman komoditas tertentu yang menjadi tolok ukur keberhasilan. Bagi Pemerintah Provinsi, program seperti ini menjadi salah satu instrumen penting dalam strategi diversifikasi ekonomi yang terukur.
Pelaksanaan pelatihan yang dirancang untuk menggabungkan aspek digitalisasi logistik juga relevan mengingat tuntutan standar internasional dan kebutuhan transparansi dalam rantai pasok modern. Jika dijalankan dengan baik, inisiatif ini berpotensi memperkaya basis eksportir baru di Kalimantan Timur dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada batu bara melalui peningkatan nilai tambah komoditas lokal.
Aditya Pratama, Koresponden Daerah - Kalimantan Timur