Pekanbaru — Tim Manggala Agni Daerah Operasi Rengat masih memfokuskan upaya pemadaman pada dua kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau yang total luasnya terpantau mencapai lebih dari 100 hektare. Lokasi pertama berada di Kelurahan Kerumutan, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan dengan luas terbakar hasil digitasi mencapai 64 hektare. Lokasi kedua tercatat di Desa Sungai Guntung Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu seluas sekitar 50 hektare.
Kendala di Lapangan Memperlambat Pemadaman
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, menyatakan penanganan kebakaran sudah berjalan hari keenam dan memperinci sejumlah hambatan yang dihadapi petugas. Menurut Ferdian, kondisi bahan bakar yang padat, asap tebal di lokasi, serta angin kencang menjadi tantangan utama. Selain itu, keterbatasan ketersediaan air untuk operasi pemadaman turut memperumit upaya menahan perluasan api.
"Penanganan sudah hari keenam. Tantangannya kondisi bahan bakar padat, asap pekat di lokasi, dan kondisi angin bertiup kencang. Kondisi sumber air juga terbatas karena embung yang tersedia mengering,"
Untuk mengatasi kendala akses dan suplai air, Ferdian mengatakan pihaknya mengupayakan penambahan alat berat dan pembangunan embung serta pembuatan sekat bakar. Pada hari pelaporan, dukungan tambahan berupa tiga unit alat berat diminta untuk membuka akses menuju kepala api bagian utara serta menyiapkan embung-embung sebagai sumber air.
Dampak Lapangan dan Upaya Logistik
Selain dua lokasi utama tersebut, Manggala Agni di daerah lain juga menangani kebakaran seluas sekitar 10 hektare di Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis yang ditangani Daops Dumai memasuki hari kedua.
Sumber lapangan menyebutkan bahwa petugas seringkali harus menempuh jalur jauh dan medan sulit untuk membawa peralatan. Dalam beberapa kasus, peralatan harus diangkut dengan kendaraan roda dua menuju titik tertentu, dan selanjutnya dibawa dengan jalan kaki untuk menjangkau kepala api. Kondisi tersebut mempengaruhi kecepatan serta intensitas operasi pemadaman.
- Lokasi terdampak: Kerumutan (Pelalawan), Sungai Guntung Hilir (Inhu), Pematang Pudu (Bengkalis).
- Faktor penghambat: bahan bakar padat, asap pekat, angin kencang, dan keterbatasan sumber air.
- Upaya taktis: penggunaan alat berat, pembuatan sekat bakar, pembuatan embung, dan pemasangan selang berjarak ratusan meter.
Data Lokasi dan Luas Terbakar
| Lokasi | Kabupaten | Luas Terbakar |
|---|---|---|
| Kelurahan Kerumutan | Pelalawan | 64 hektare |
| Desa Sungai Guntung Hilir | Indragiri Hulu | 50 hektare |
| Kelurahan Pematang Pudu | Bengkalis | ~10 hektare |
Angka-angka tersebut merupakan hasil pengamatan dan digitasi di lapangan dan dapat berubah seiring perkembangan operasi pemadaman. Sebagian laporan menyatakan luas masih berpotensi bertambah karena kondisi yang dinamis.
Aspek Ekonomi dan Lingkungan
Kebakaran lahan gambut memiliki implikasi ekonomi dan lingkungan jangka panjang. Selain merusak vegetasi dan mengurangi produktivitas lahan yang berpotensi digunakan untuk pertanian atau kehutanan, kebakaran juga menimbulkan biaya besar untuk penanggulangan dan pemulihan area pascaterbakar. Asap tebal yang dihasilkan dapat mengganggu aktivitas ekonomi lokal seperti pelayaran, pariwisata, dan kegiatan usaha kecil serta berdampak pada kesehatan masyarakat.
Pelaksanaan pembuatan embung dan sekat bakar yang diprioritaskan petugas menunjukkan upaya mitigasi yang menggabungkan pendekatan teknis dan sumber daya lokal. Namun, ketersediaan permukiman, akses logistik, dan cadangan air menjadi faktor penentu keberhasilan operasi di lahan gambut.
Hingga laporan ini dirilis, upaya pemadaman masih berlangsung dan pihak berwenang terus mengkoordinasikan penambahan alat serta personel. Masyarakat di sekitar titik api dihimbau untuk tetap waspada terhadap potensi peningkatan asap dan mengikuti arahan evakuasi atau pembatasan aktivitas jika diperlukan.
Pengawasan lanjutan dan koordinasi antarinstansi di tingkat daerah sangat diperlukan agar respons kebakaran lebih cepat dan dampak ekonomi-lingkungan dapat diminimalkan. Data lapangan yang akurat dan dukungan logistik menjadi kunci pengendalian karhutla di Riau yang kembali mengalami lonjakan titik api pada musim ini.