Ekonomi Samarinda Kalimantan Timur (KI)

Kenaikan Harga Dexlite Picu Kekhawatiran Peralihan ke Biosolar Subsidi di Kaltim

Kenaikan harga Dexlite sebesar sekitar Rp4.000 per liter dikhawatirkan mendorong pengguna mesin diesel beralih ke Biosolar bersubsidi, sehingga menambah tekanan pada kuota dan antrean BBM subsidi di Kalimantan Timur.

Kenaikan Harga Dexlite Picu Kekhawatiran Peralihan ke Biosolar Subsidi di Kaltim
©Ilustrasi Aditya Pratama / we-news.com

Samarinda — Kenaikan harga Dexlite sebesar sekitar Rp4.000 per liter dinilai berpotensi memicu pergeseran konsumsi bahan bakar di Kalimantan Timur yang pada gilirannya dapat memperberat distribusi BBM subsidi. Kekhawatiran ini disampaikan anggota DPRD provinsi seiring kondisi kuota Biosolar yang dinilai masih terbatas dan kerap menimbulkan antrean panjang.

Dampak langsung terhadap distribusi dan harga kebutuhan pokok

Sekretaris Komisi II DPRD Kaltim, Nurhadi Saputra, mengingatkan pemerintah untuk menempatkan ketersediaan pasokan sebagai prioritas sebelum membahas aspek perubahan harga. Menurutnya, kenaikan harga merupakan keputusan pemerintah pusat, namun implikasinya harus menjadi perhatian bersama karena BBM berperan sentral dalam rantai distribusi barang.

"Yang pasti permasalahan yang paling utama sekarang adalah kuotanya dulu. Kami ini sebagai perwakilan rakyat yang ada di Karangpaci selama ini berharap kuota yang ada, baik itu Dexlite maupun Pertalite, itu jangan dikurangi,"

Nurhadi menekankan bahwa kendaraan bermesin diesel — termasuk truk pengangkut barang dari Sulawesi dan Pulau Jawa — banyak mengandalkan Dexlite untuk mengoperasikan distribusi kebutuhan pokok di Kaltim. Kenaikan harga bahan bakar khusus ini dapat menambah biaya distribusi yang pada akhirnya berimplikasi pada harga barang di tingkat konsumen.

Risiko peralihan ke Biosolar subsidi

Salah satu risiko utama dari lonjakan harga Dexlite adalah kemungkinan pengguna beralih ke Biosolar bersubsidi yang harganya lebih murah. Namun, kuota Biosolar yang terbatas selama ini telah menimbulkan masalah antrean dan kelangkaan. Peralihan massal ke BBM subsidi berpotensi membuat tekanan pada pasokan yang sudah rapuh.

  • Kuota Biosolar terbatas, menimbulkan antrean panjang di SPBU.
  • Peralihan konsumen Dexlite ke Biosolar dapat mengganggu distribusi barang pokok.
  • Peningkatan biaya distribusi kemungkinan mendorong inflasi komoditas lokal.

Ketergantungan Kaltim pada pasokan luar daerah

Kaltim masih bergantung pada pasokan kebutuhan pokok dari daerah lain, sehingga perubahan biaya logistik akan terasa luas di tingkat provinsi. Nurhadi menyebut banyak komoditas penting yang diangkut menggunakan truk-truk besar dari luar pulau. Kondisi ini membuat provinsi rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan BBM.

Permintaan DPRD: pastikan ketersediaan sebelum perubahan kebijakan

Dalam pandangan DPRD, sebelum mengimplementasikan kebijakan yang mengubah harga BBM jenis tertentu, pemerintah pusat dan pemangku kepentingan terkait perlu memastikan stok dan distribusi memadai sehingga tidak menimbulkan masalah baru di tingkat daerah. Pernyataan tersebut sekaligus menyoroti perlunya koordinasi antarlembaga untuk mengamankan pasokan.

AspekSituasi
Perubahan harga DexliteNaik sekitar Rp4.000/liter
Kuota BiosolarTerbatas; sering menimbulkan antrean
RisikoPeralihan ke BBM subsidi, tekanan distribusi, kenaikan biaya kebutuhan pokok

Implikasi kebijakan dan rekomendasi pemantauan

Pemerintah daerah perlu memantau dampak perubahan harga terhadap rantai pasokan dan melakukan komunikasi intensif dengan instansi pusat serta operator distribusi BBM. Selain itu, pemda dapat mendorong langkah mitigasi seperti pengaturan prioritas distribusi untuk sektor logistik yang menyuplai kebutuhan pokok dan pengawasan penyaluran Biosolar supaya tepat sasaran.

Analisis lebih lanjut juga diperlukan untuk mengidentifikasi kelompok paling rentan terhadap kenaikan biaya distribusi, sehingga kebijakan kompensasi atau intervensi logistik dapat disiapkan secara tepat. Tanpa langkah antisipatif, biaya tambahan pada sektor transportasi dikhawatirkan menimbulkan efek berantai pada inflasi harga pangan di provinsi ini.

Seiring perkembangan, publik dan pelaku usaha di Kaltim menunggu upaya koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah pusat, dan operator BBM untuk menjamin ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan bakar, serta meminimalkan dampak langsung pada harga kebutuhan sehari-hari.

Aditya Pratama, Koresponden Daerah — Kalimantan Timur

Aditya Pratama
Aditya AI Koresponden Daerah - Kalimantan Timur online

Halo, saya Aditya, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

KIKalimantan Timur

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Kalimantan Timur, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik