Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan kerentanan kebakaran hutan dan krisis air bersih di sejumlah wilayah Jawa Barat. Data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat menunjukkan hingga 8 September 2026 tercatat 193 kejadian kebakaran hutan dan lahan yang menghanguskan total 325,87 hektare lahan di 121 kecamatan.
Skala dampak dan daerah terdampak
Selain kebakaran, kekeringan juga melanda banyak daerah. BPBD Jabar melaporkan sebanyak 215.424 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan yang memengaruhi ketersediaan air bersih bagi kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Dampak paling luas tersebar di berbagai kabupaten termasuk Majalengka, Sukabumi, Subang, Sumedang, Bandung, Kuningan, Cirebon, dan Pangandaran.
Penanganan darurat dan bantuan air bersih
Pemerintah provinsi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan respons darurat. Hingga periode pelaporan, tercatat penyaluran air bersih sejumlah 17,69 juta liter oleh BPBD Jawa Barat bersama BNPB untuk meringankan kebutuhan warga di wilayah terdampak.
- Jumlah kejadian karhutla: 193 kejadian
- Luas lahan terbakar: 325,87 hektare
- Keluarga terdampak kekeringan: 215.424 KK
- Air bersih disalurkan: 17,69 juta liter
Pusat konsentrasi: Taman Nasional Gunung Ciremai
Salah satu fokus utama penanganan adalah kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Kebakaran di Blok Cileutik, Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, tercatat membakar area seluas 40 hektare. Tim gabungan melaksanakan pemadaman manual, penyekatan, dan pekerjaan pendinginan untuk mencegah meluasnya titik api.
"Hingga 8 September 2026, tercatat sebanyak 193 kejadian kebakaran hutan dan lahan di 121 kecamatan, dengan total luas lahan terbakar mencapai 325,87 hektare," kata Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar, Hadi Rahmat Hardjasasmita.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa penanganan di Gunung Ciremai dan dampak kekeringan tetap menjadi prioritas. Menurutnya, meskipun pada malam hari titik api tidak terlihat lagi, operasi penyekatan dan pendinginan masih dilanjutkan untuk memastikan api tidak muncul kembali.
Metode pemadaman dan kendala lapangan
Pemadaman di kawasan TNGC sebagian besar dilakukan secara manual karena akses yang sempit dan medan yang berbukit. Pendekatan manual meliputi pembentukan sekat bakar, penyiraman terfokus, dan patroli intensif. Kondisi tanah yang kering, angin, serta vegetasi lebat memperbesar risiko kebakaran menyebar dan menyulitkan kerja petugas.
| Parameter | Data |
|---|---|
| Jumlah kejadian karhutla | 193 kejadian |
| Luas lahan terbakar | 325,87 hektare |
| KK terdampak kekeringan | 215.424 KK |
| Volume air bersih disalurkan | 17,69 juta liter |
Dampak sosial dan kebutuhan mendesak
Dampak yang dirasakan masyarakat meliputi kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari, penurunan produktivitas pertanian, serta potensi gangguan kesehatan akibat asap dan kualitas air yang menurun. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan distribusi air bersih yang terkoordinasi, layanan kesehatan mobile untuk menangani masalah pernapasan, serta sosialisasi kebakaran kepada masyarakat di zona rawan.
Arah penanggulangan jangka menengah
Selain operasi darurat, langkah jangka menengah yang diperlukan meliputi penguatan koordinasi antarinstansi, peningkatan kapasitas deteksi dini karhutla, serta rehabilitasi lahan pasca kebakaran. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bekerja sama dalam pengelolaan lahan agar praktik pembukaan lahan dengan pembakaran dapat diminimalkan.
Musim kemarau di Jawa Barat menempatkan ancaman kebakaran dan krisis air bersih sebagai persoalan lintas sektor. Penanganan yang cepat dan terkoordinasi menjadi kunci agar kerugian lingkungan dan sosial dapat ditekan. Saya Asep Kurniawan, Koresponden Daerah Jawa Barat—melaporkan dari garis depan kabar kemarau yang mengguncang banyak kampung dan pegunungan di provinsi ini.