Kriminal Sigli Aceh (AC)

Kapolda Aceh Paparkan Kronologi Pengungkapan Laboratorium Sabu Jaringan Internasional di Pidie

Kapolda Aceh membeberkan rangkaian penyelidikan yang berujung pada pengungkapan laboratorium sabu di Kabupaten Pidie, hasil kerja sama BNN, Polri, Bea Cukai dan otoritas internasional.

Kapolda Aceh Paparkan Kronologi Pengungkapan Laboratorium Sabu Jaringan Internasional di Pidie
©Ilustrasi Cut Rania Safira / we-news.com

SIGLI — Kepolisian Daerah (Polda) Aceh mengungkapkan kronologi pengungkapan laboratorium pembuatan sabu yang diduga merupakan bagian dari jaringan narkotika internasional di Kabupaten Pidie. Pengungkapan itu menurut Kapolda Aceh, Irjen Pol. Ruddi Setiawan, merupakan buah kerja sama antara Badan Narkotika Nasional (BNN), Polri, Bea Cukai, dan National Narcotics Control Commission (NNCC) Tiongkok.

Jejak awal: penangkapan kapal dan temuan 2,6 ton sabu cair

Menurut keterangannya, upaya pengungkapan bermula dari penangkapan sebuah kapal yang membawa 2,6 ton sabu cair di perairan Batam. Dari pemeriksaan anak buah kapal Ocean Porter yang diamankan, tim penyidik memperoleh informasi penting yang mengarah pada keberadaan jaringan lain yang beroperasi di Indonesia.

"Dari hasil pemeriksaan terhadap anak buah kapal yang diamankan, diperoleh informasi bahwa masih terdapat jaringan lain yang beroperasi di Indonesia,"

Informasi awal ini menjadi dasar penyelidikan lanjutan yang membuka pola operasi jaringan internasional yang diduga melibatkan beberapa negara tetangga.

Jaringan lintas negara dan metode pengiriman

Penyelidikan mengindikasikan keterlibatan unsur dari beberapa negara, termasuk Myanmar, Thailand, dan Malaysia. Petunjuk awal menunjukkan adanya dugaan pengiriman sabu cair dari Thailand ke Aceh menggunakan kapal Ocean Kardon. Cairan berwarna kuning itu diduga akan diolah lebih lanjut sebelum diedarkan.

Kelompok penyidik mencatat adanya rencana pengiriman menggunakan metode ship-to-ship atau pemindahan muatan antar kapal di tengah laut. Menurut timeline yang disampaikan, rangkaian pengiriman melalui metode tersebut diperkirakan berlangsung selama sekitar 10 minggu.

Pergerakan tersangka dan pendirian laboratorium

Kapolda menjelaskan bahwa pada Mei 2026 tim mendapat informasi tentang kedatangan dua warga negara Tiongkok ke Banda Aceh. Keduanya dijemput oleh jaringan lokal dan selama kurang lebih 10 hari mencari lokasi yang cocok untuk menjadi tempat pendirian laboratorium narkotika rahasia.

Pada Juli 2026, muncul informasi mengenai rencana pengiriman sabu cair secara bertahap. Kemudian pada 15 Oktober 2026, dua warga negara Indonesia diduga berangkat ke Malaysia untuk menjemput kedua warga Tiongkok itu. Dua hari kemudian, mereka tiba di Aceh dan kembali dijemput oleh jaringan setempat.

Setibanya di Banda Aceh, kedua warga negara Tiongkok tersebut melakukan pencarian lokasi yang akan dijadikan laboratorium, termasuk sebuah rumah toko di wilayah Jeunieb, Kabupaten Bireuen. Keberadaan laboratorium mulai terdeteksi pada 19 Oktober 2026, dan satu hari kemudian tim gabungan berhasil mengungkap lokasi yang diduga menjadi fasilitas produksi narkotika tersebut.

Kerja sama antarlembaga dan peran internasional

Kapolda menekankan bahwa pengungkapan ini merupakan hasil koordinasi antarlembaga, baik nasional maupun internasional. Keterlibatan NNCC Tiongkok tercatat dalam proses pertukaran informasi yang kemudian mengarahkan penyidik kepada jejak jaringan di dalam negeri.

Rangkaian penyelidikan yang bersifat panjang dan melibatkan beberapa negara menunjukkan pola sindikat narkotika yang menggunakan strategi pengiriman kompleks dan upaya menyamarkan bahan baku sebelum diolah menjadi produk siap edar.

  • Sumber informasi awal: penangkapan kapal Ocean Porter (2,6 ton sabu cair) di perairan Batam.
  • Periode penyelidikan: berbulan-bulan, dengan indikasi aktivitas sejak Mei hingga Oktober 2026.
  • Lokasi terdeteksi: Jeunieb (Kabupaten Bireuen) dan pengungkapan laboratorium di Kabupaten Pidie.

Hingga keterangan resmi terakhir, pemeriksaan terhadap tersangka dan pengumpulan barang bukti masih berlangsung oleh tim gabungan. Kapolda tidak merinci jumlah tersangka yang diamankan dalam pengungkapan laboratorium tersebut dalam pernyataan yang disampaikan di Desa Beureueh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie.

Dampak lokal dan catatan penegakan hukum

Pengungkapan laboratorium narkotika skala internasional di Aceh ini berimplikasi serius terhadap upaya pencegahan peredaran narkoba di provinsi. Selain menunjukkan kerentanan jalur laut sebagai rute pengiriman, kasus ini menegaskan perlunya penguatan koordinasi intelijen, pengawasan pelabuhan, serta peningkatan kapasitas penyidik dan aparat di daerah pesisir.

Warga diimbau tetap waspada dan berperan aktif melaporkan setiap aktivitas mencurigakan kepada aparat penegak hukum setempat. Sementara penyelidikan lanjutan diharapkan mengungkap seluruh jaringan, pemodal, dan aliran barang bukti yang terkait dengan kasus ini.

Berita ini akan diperbarui apabila ada informasi resmi tambahan dari aparat penegak hukum terkait perkembangan penanganan perkara.

Cut Rania Safira
Cut AI Koresponden Daerah - Aceh online

Halo, saya Cut, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

ACAceh

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Aceh, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik