Tim Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau turun langsung ke daerah terluar Provinsi Riau untuk meninjau kerentanan pesisir akibat abrasi dan menyerap keluhan warga di Desa Tanah Merah, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti. Kegiatan dimulai dari Markas Polres Kepulauan Meranti dan dipimpin Kepala Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Polda Riau, Kombes Pol Andi Yul.
Perjalanan dan sambutan warga
Rombongan bergerak bersama komunitas pengendara sepeda motor melalui jalur darat, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kapal untuk menjangkau pulau-pulau pesisir. Kedatangan tim disambut tradisi seni pencak silat Melayu oleh masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan.
Keluhan pokok warga
Warga menyampaikan kekhawatiran serius atas perubahan garis pantai yang disebabkan gelombang laut dan proses erosi. Abrasi ini secara bertahap menggerus daratan Pulau Rangsang sehingga mengancam lahan tempat masyarakat menggantungkan mata pencaharian.
Nelayan setempat juga mengeluhkan penurunan hasil tangkapan. Mereka menyebut bahwa area tangkapan yang dahulu produktif di sekitar Beting Limau dan perairan Selat Malaka kini tidak seproduktif sebelumnya, yang berdampak pada pendapatan rumah tangga nelayan.
Penyebab geologi dan risiko tambahan
Dalam penjelasan yang disampaikan oleh pihak kepolisian, terbentuknya pulau-pulau di kawasan ini berkaitan dengan sifat tanah yang bersumber dari endapan alamiah. Kondisi tersebut menimbulkan dua implikasi utama: potensi tinggi terhadap abrasi dan rentan terhadap kejadian kebakaran lahan dan gambut jika terjadi pengeringan atau pembukaan lahan.
“Meranti ataupun Rangsang Pesisir ini hampir seluruhnya merupakan terbentuk dari fluviomarin yang merupakan tanah gambut dan juga yang terbentuk dari endapan lumpur, sehingga menambah potensi dan juga kerawanan terhadap ancaman abrasi dan juga kebakaran hutan dan lahan. Maka itu, kenapa kami memilih Tanah Merah, Desa Tanah Merah, Kecamatan Rangsang Pesisir sebagai titik pelaksanaan daripada Ekspedisi Merah Putih Presisi tahun 2026. Harapan untuk ke depannya terhadap kegiatan Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau ini bisa dilaksanakan setiap tahun,”
Dampak sosial-ekonomi
Abrasi yang berlangsung terus menerus berpotensi memicu perpindahan mata pencaharian, penurunan pendapatan keluarga nelayan, serta tekanan terhadap ketahanan pangan lokal apabila area tangkapan ikan terus menurun produktivitasnya. Selain itu, pengikisan pesisir juga mengancam infrastruktur desa yang berdekatan dengan garis pantai.
Tanggapan aparat dan harapan masyarakat
Kepolisian melalui kegiatan ekspedisi menyatakan tujuan untuk mendengar aspirasi dan mendokumentasikan kondisi lapangan sebagai dasar langkah penanganan dan koordinasi lintas sektor. Warga berharap kegiatan seperti ini tidak hanya bersifat kunjungan semata, namun diikuti langkah konkret seperti pemetaan kawasan paling rentan, rencana mitigasi abrasi, dan dukungan terhadap mata pencaharian alternatif.
- Lokasi kunjungan: Desa Tanah Merah, Kecamatan Rangsang Pesisir, Pulau Rangsang, Kepulauan Meranti.
- Masalah utama: abrasi pesisir dan penurunan produktivitas tangkapan ikan di Beting Limau.
- Penyebab yang disebut: struktur fluviomarin (endapan lumpur dan gambut) yang rentan terhadap erosi.
Data lapangan ringkas
| Lokasi | Kondisi yang dilaporkan |
|---|---|
| Pulau Rangsang (Desa Tanah Merah) | Abrasi pesisir menggerus daratan; ancaman terhadap lahan penduduk |
| Beting Limau (perairan Selat Malaka) | Penurunan produktivitas tangkapan ikan menurut nelayan setempat |
Kaitan lingkungan dan kebijakan
Kasus di Kepulauan Meranti memperlihatkan keterkaitan langsung antara kondisi geologi pesisir, perubahan lingkungan, dan dampak ekonomi bagi masyarakat. Penanganan efektif mensyaratkan keterlibatan pemerintah daerah, instansi teknis (misalnya BPBD, Dinas Kelautan dan Perikanan), serta dukungan penelitian dari akademisi untuk merancang solusi berkelanjutan—mulai dari rekayasa pesisir hingga program diversifikasi mata pencaharian.
Warga menaruh harap agar hasil pendataan dan aspirasi yang dihimpun selama ekspedisi menjadi dasar perencanaan mitigasi yang nyata sehingga abrasi tidak semakin menurunkan kesejahteraan masyarakat pesisir Kepulauan Meranti.
Peliputan ini merekam kondisi nyata yang dihadapi komunitas pesisir di wilayah terluar Riau dan menegaskan perlunya sinergi antarlembaga untuk menyeimbangkan perlindungan lingkungan dan keberlanjutan ekonomi lokal.