TANJUNG SELOR — Dinas Perikanan Kabupaten Bulungan memperkuat upaya mengoptimalkan fungsi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Selor sebagai pusat bongkar muat sekaligus pendataan hasil tangkapan nelayan. Langkah ini ditempuh agar potensi produksi perikanan Bulungan tercatat lebih akurat dan distribusi ikan dapat terorganisasi dengan lebih baik.
Penumpukan bongkar muat di dermaga swasta
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Bulungan, Darmawangsa, menjelaskan saat ini TPI Tanjung Selor berperan sebagai lokasi transit dan bongkar muat sebelum ikan dikirim ke berbagai daerah, antara lain Tarakan, Malinau, Berau, Samarinda, hingga Jakarta. Namun kondisi fasilitas TPI belum memadai, terutama belum tersedia cold storage atau ruang pendingin untuk menjaga kualitas ikan selama transit.
Menurut Darmawangsa, keterbatasan fasilitas membuat banyak penampung atau pengumpul ikan memilih melakukan bongkar muat di dermaga swasta masing-masing. Praktik bongkar muat yang tersebar itu menyebabkan data produksi perikanan Bulungan tidak tergambar secara menyeluruh.
Retribusi murah sejalan dengan fasilitas
Untuk menyesuaikan kondisi fasilitas TPI yang masih sederhana, pemerintah daerah menetapkan tarif retribusi bongkar muat sebesar Rp100 per kilogram. Darmawangsa menyebutkan tarif tersebut dibuat sangat murah karena fasilitas utama TPI saat ini masih berupa dermaga untuk memindahkan ikan dari perahu nelayan ke darat atau ke kapal pengangkut.
“Setiap bongkar ikan retribusinya Rp100 per kilo. Angka ini sangat murah karena fasilitas kita memang belum terlalu memadai. Saat ini fasilitas utamanya masih berupa dermaga untuk bongkar muat dari perahu nelayan ke darat atau ke kapal pengangkut,”
Imbauan untuk memusatkan bongkar muat
Dinas Perikanan mengimbau seluruh nelayan dan penampung untuk memusatkan aktivitas bongkar muat di TPI Tanjung Selor. Alasan utamanya adalah ketertiban dan kebutuhan data yang akurat mengenai total potensi hasil perikanan Kabupaten Bulungan. Data yang lengkap dan terpusat dianggap penting sebagai dasar perumusan kebijakan pengembangan sektor perikanan tangkap.
- Memusatkan bongkar muat di TPI membantu pendataan produksi perikanan Bulungan secara menyeluruh.
- Data akurat menjadi dasar penyusunan kebijakan pengembangan sektor perikanan tangkap.
- Meskipun fasilitas pendinginan terbatas, TPI telah menyediakan sarana dermaga dan akan dioperasikan lapak penjualan ikan baru.
Upaya menjaga kualitas ikan sementara
Karena belum tersedia cold storage, nelayan masih mengandalkan es batu dan peti penyimpanan seperti coolbox atau fiber yang dimiliki sendiri. Bantuan penyimpanan juga diberikan oleh Dinas Perikanan untuk menjaga kualitas ikan selama proses transit dan bongkar muat di TPI.
Selain itu, Dinas Perikanan Bulungan telah menyelesaikan pembangunan lapak penjualan ikan baru di kawasan TPI Tanjung Selor. Lapak tersebut dijadwalkan segera dioperasikan untuk mendukung aktivitas perdagangan ikan di pusat bongkar muat tersebut.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Tarif bongkar muat | Rp100 per kilogram |
| Fasilitas utama | Dermaga untuk bongkar muat (belum ada cold storage) |
| Tujuan distribusi | Tarakan, Malinau, Berau, Samarinda, Jakarta |
| Langkah tambahan | Pembangunan lapak penjualan ikan baru segera dioperasikan |
Pusatkan aktivitas bongkar muat di TPI bukan hanya soal pencatatan, melainkan juga langkah awal untuk menata rantai pasok yang dapat berimplikasi pada harga, kualitas, dan daya saing produk perikanan Bulungan. Dinas Perikanan menekankan perlunya kerja sama seluruh pemangku kepentingan—nelayan, penampung, dan pelaku usaha—untuk mewujudkan sistem bongkar muat yang lebih teratur dan data yang lebih andal.